KEMENTERIAN PERTANIAN - DIREKTORAT JENDRAL PERKEBUNAN

BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN PONTIANAK

17/04/2021 - 07:42 PM

UJI KONTAMINASI RUANG LABORATORIUM DAN TINDAK LANJUTNYA

Di Publish Pada : 26/02/2021 | Kategori : Jadwal

oleh Hamdani, STP.,M.P (POPT Ahli Madya BPTP Pontianak)

 

Kontaminan atau cemaran dapat diartikan secara luas sebagai semua benda asing yang tidak dikehendaki baik berupa debu, kotoran, tanah, pasir, potongan tangkai, daun, jasad renik, serangga, kutu dan lain-lain yang mencemari bahan, alat maupun ruangan laborarorium. Kontaminan ada yang mudah dilihat wujudnya, ada pula yang tidak terlihat (kasat mata). Diantara kontaminan yang paling berbahaya adalah yang tidak terlihat (mikroorganisme) seperti bakteri, kapang, khamir maupun virus. 

Udara secara umum termasuk udara di ruang laboratorium tidak mengandung mikroorganisme secara alami. Mikroorganisme kontaminan berasal dari lingkungan sekitarnya sehingga mengakibatkan udara mengandung berbagai mikroorganisme; misalnya dari debu, air, proses aerasi, atau bahkan dari tubuh dan pakaian para analis laboratorium. Mikroorganisme yang terdapat diudara biasanya melekat pada bahan padat mikro misalnya debu atau terdapat didalam droplet/tetesan air. Jika di dalam suatu ruangan banyak terdapat debu dan cair, maka mikroba yang ditemukan di dalamnya juga bermacam-macam.

Mikroorganisme udara di dalam ruang laboratorium, dapat diuji secara kuantitatif dan kualitatif menggunakan agar cawan yang dibiarkan terbuka selama beberapa waktu tertentu didalam ruangan tersebut atau dikenal dengan Metoda Cawan Terbuka. Jenis mikroorganisme yang sering terdapat diudara pada umumnya bakteri batang pembentuk spora baik yang bersipat aerobik maupun anaerobic, bakteri koki, bakteri gram negatif, kapang dan khamir. Laboratorium bisa dikatakan steril apabila konsentrasi maksimum mikro organisme tidak lebih dari 200-500 CFU/m3. Dengan indikator ini maka sterilisasi ruangan laboratorium tidak dapat dilakukan sembarangan. Berikut prosedur uji dan sterilisasi ruangan yang sesuai dengan standar keamanan.

Tujuan

Pengujian ini bertujuan untuk mencegah timbulnya gangguan kesehatan kepada personil laboratorium serta mencegah laboratorium dari kontaminasi silang yang disebabkan oleh kegiatan pengujian.

 

Pelaksanaan Uji Kontaminasi

Ruang lingkup pengujian meliputi pengujian kontaminasi silang di ruangan laboratorium yang disebabkan mikroorganisme kontaminan maupun mikroorganisme sampel pengujian.

 

Acuan

  • Pedoman SNI ISO/IEC 17025:2017, Klausul 6.3.
  • Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 70 tahun 2016 tentang Standard dan Persyaratan Lingkungan Kerja Industri
  • Penuntun Praktikum Hygiene dan Sanitasi. Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian universitas Sriwijaya

 

Metode

Pengujian kontaminasi ruangan laboratorium dilakukan dengan metode sebagai berikut :

  1. Siapkan cawan petri berisi PDA steril sebanyak 32 petri
  2. Masing-masing petri diberi kode nama tempat dimana petri akan ditempatkan
  3. Sebanyak 14 petri disimpan di ruang Uji Kualitas dan 14 petri disimpan di ruang pengelolaan sampel, sedangkan 4 petri disimpan dalam Laminer Flow sebagai kontrol.
  4. Letak petri disebar sesuai tempat proses pengujian dilaksanakan.
  5. Bukalah seluruh petri  secara bersamaan dan biarkan PDA  di dalam cawan petri kontak dengan udara selama 20 menit.
  6. Tutup cawan petri dan rekat dengan cling wrap lalu letakkan di tempat semula
  7. Cawan petri untuk kontrol direkat dan disimpan di dalam Laminar Flow
  8. Inkubasikan semua cawan petri pada suhu ruang selama 3 hari
  9. Amati adanya pertumbuhan dan dihitung jumlah koloni yang tumbuh. jika pertumbuhan koloni menyebar dan sulit untuk dihitung, nyatakan secara relatif dengan tanda (– )
  10. Sebutkan kelompok mikroba yang dominan tumbuh pada cawan (bakteri) atau (kapang dan khamir)
  11. Amati koloni yang tumbuh dan hitung jumlah koloninya
  12. Amati kelompok mikroorganisme yang dominan tumbuh dalam PDA tersebut
  13. Pengamatan dihentikan apabila pertumbuhan mikroorganisme sudah memenuhi cawan petri
  14. Jumlah mikroorganisme maksimal yang terdapat di dalam laboratorium mengacu pada persyaratan biologi yang tercantum dalam Permenkes No. 70 Tahun 2016 tentang Standard dan Persyaratan Lingkungan Kerja Industri sebagai berikut :

Tindak Lanjut Hasil Pengujian

Apabila  hasil pengujian menunjukan telah terjadi kontaminasi ruangan dengan data jumlah mikroorganisme kontaminan di atas ambang batas berdasarkan pada persyaratan biologi yang tercantum dalam Permenkes No. 70 Tahun 2016 tentang Standard dan Persyaratan Lingkungan Kerja Industri, maka perlu segera ditindak lanjuti. Tindak lanjut yang harus segera dilakukan adalah sterilisasi ruang laboratorium.

 

Jenis-Jenis Prosedur Sterilisasi Ruangan Laboratorium

1. Sterilisasi Mekanis (Filtrasi)

Sterilisasi mekanis dilakukan dengan menggunakan semacam alat yang menyerupai saringan. Instrumen sterilisasi tersebut memiliki pori-pori yang sangat kecil (sekitar 0,22 mikron). Dengan ukuran pori-pori yang kecil tersebut maka mikroba akan terperangkap dalam alat. Biasanya sterilisasi mekanis diterapkan pada bahan yang sensitif terhadap panas.

2. Sterilisasi Fisik

Prosedur sterilisasi fisik dapat dilakukan dengan dua cara berikut yaitu:

a. Pemanasan

  • Pemijaran: Membakar alat secara langsung, biasanya sterilisasi untuk pinset, batang L, hingga jarum inokulum.
  • Panas Kering: Memanfaatkan oven dengan temperatur 60-180°C, biasanya sterilisasi untuk tabung Erlenmeyer atau alat berbahan kaca.
  • Uap Air Panas: Caranya dengan mengukus benda, biasanya untuk alat yang mengandung air agar tidak terjadi dehidrasi.
  • Auto-Clave: Sterilisasi dengan memanfaatkan uap air panas bertekanan.

b. Penyinaran dengan Sinar UV

Sterilisasi dengan memanfaatkan sinar ultraviolet biasanya digunakan pada interior safety cabinet untuk memusnahkan mikroba

 

3. Sterilisasi Gas

Sterilisasi gas menggunakan pemaparan gas untuk mematikan mikro-organisme. Salah satu jenis gas yang bisa digunakan adalah hidrogen peroksida. Sterilisasi dengan hidrogen peroksida seperti Baskumao Pro Dry Mist mampu membunuh mikro organisme yang sulit dijangkau. Metode ini juga cocok untuk bahan yang tidak tahan panas, cahaya, radiasi, dan tidak dapat difiltrasi.

4. Sterilisasi Kimia

Sterilasi ruangan dapat dilakukan dengan prosedur sterilisasi kimia menggunakan cairan disinfektan khusus seperti alkohol, formalin atau sublimat.

 

Cara membuat disinfektan dari bahan formalin untuk sterilisasi ruangan

Formalin adalah larutan disinfektan yang murah, stabil, dan memiliki umur simpan yang panjang. Sebagai salah satu bahan disinfektan, formalin tak bersifat korosif serta sangat kuat untuk mematikan virus dan kuman.  Jadi proses pembuatan dan penggunaan bahan kimia ini bisa dilakukan menggunakan bahan-bahan logam atau kombinasi bahan logam dan non-logam. Formalin adalah sterilant dingin yang secara efektif membunuh semua mikroorganisme, termasuk spora dan virus jenis apapun. Untuk membunuh virus dan mikroorganisme, penggunaan formalin harus memperhatikan konsentrasi yang tepat dan diberi waktu kontak yang mencukupi.  Formalin adalah nama lain dari formaldehide yang dicairkan menggunakan air. Formaldehyde sendiri dalam suhu kamar memiliki fase gas. Artinya, formalin adalah formaldehyde yang larut dalam air. Formaldehyde digunakan sebagai desinfektan dan sterilisasi baik dalam bentuk cair maupun gas.  Formaldehida lebih banyak dijual dan digunakan dalam bentuk larutan berbasis air yang disebut formalin, yang merupakan formaldehida berkonsentrasi 37%. Artinya, larutan formalin 100% setara dengan formaldehida berkonsentrasi 37%.

Di pasaran, formalin dijual dalam konsetrasi yang bervariasi. Mulai dari formalin konsentrasi 4%, hingga formalin berkonsentrasi 50%. Untuk membuatnya menjadi disinfektan yang efektif membunuh mikroorganisme (jamur, bakteri dan virus), diperlukan formalin berkonsentrasi minimum 2%. Namun konsentrasi yang efektif adalah antara 3 % – 4%.

Cara membuat formalin konsentrasi 4%.

  • Lihat konsentrasi formalin pada kemasan. Apakah 6%, 20% dan sebagainya. Dalam hal ini kita akan mencontohkan cara menurunkan konsentrasi formalin dari 10% menjadi 4%.
  • Untuk membuat cairan formalin dari konsentrasi 10% ke 4%, menggunakan faktor pembagi 10 /4 = 2,5, yang dijadikan sebagai faktor perkalian dalam penambahan air. Misalnya kita akan menggunakan 1 liter formalin 10%. Volume air yang ditambahkan harus 2,5 liter, yaitu dari 1 x 2,5 = 25 liter.
  • Aduk campuran larutan formalin+air secara merata, bisa menggunakan logam atau plastik sebagai pengaduk dalam proses ini.
  • Untuk mendapat kestabilan jangka panjang, bisa ditambahkan larutan metanol 90% sekitar 10 ml sebagai penstabil formalin encer yang telah dibuat.
  • Sebelum digunakan, simpan larutan formalin di dalam botol atau jeriken plastik, dan tutup rapat-rapat

Aplikasi penyemprotan larutan formalin di ruang laboratorium

  • Sebelum melakukan sterilisasi ruangan laboratorium, ada baiknya memperhatikan beberapa hal berikut:
  • Pastikan peralatan steriliasasi dalam kondisi baik dan siap digunakan.
  • Gunakan alat pelindung diri (APD) secara lengkap pada saat melakukan penyemprotan larutan formalin diseluruh ruang laboratorium.
  • Pisahkan alat dan bahan sesuai dengan metode sterilisasi yang tepat.
  • Lakukan desinfeksi terlebih dahulu pada alat dan bahan yang akan disterilkan.
  • Beri label pada peralatan yang dibungkus (biasanya peralatan yang melalui sterilisasi fisik).
  • Lakukan sterilisasi sesuai prosedur, jangan menambahkan materi lain selama proses sterilisasi berlangsung.

 

Kesimpulan

Sterilisasi ruangan laboratorium wajib dilakukan, karena ruangan laboratorium sensitif dengan mikro organisme yang berpotensi menjadi zat kontaminasi. Ruang laboratorium yang terkontaminasi dengan mikro organisme dikhawatirkan dapat menimbulkan gangguan kesehatan kepada personil laboratorium serta akan menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya kontaminasi silang pada saat melakukan kegiatan pengujian.

 

Daftar Pustaka

Badan Standardisasi Nasional (BSN) : ISO 17025 : 2017 Panduan Mutu dan Prosedur Laboratorium https://www.labmutu.com/2018/10/iso-17025.html. Diakses  Februari 2021

Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian universitas Sriwijaya. Penuntun Praktikum Hygiene dan Sanitasi. https://docplayer.info/32150994-Penuntun-praktikum-higiene-dan-sanitasi.html.  Diakses Februari 2021

Galih Wisesa. 2020. Cara Sterilisasi Ruang Laboratorium.  https://sanitation.kleenoptima.com/cara-sterilisasi-ruang-laboratorium/. Diakses    Februari 2021

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004. Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan. https://persi.or.id/wp-content/uploads/2020/11/kmk12042004.pdf. Diakses Februari 2021


Agenda

Kritik Dan Saran

Pengunjung

Pengunjung hari ini : 133
Total pengunjung : 149813

Polling

Survey kepuasan website edit

Apakah website ini bermanfaat ?
Sangat Bermanfaat
Cukup Bermanfaat
Kadang Bermanfaat
Kurang Bermanfaat
Kurang Faedah

Galeri Foto

Galeri Video

Copyright © 2017 Direktorat Jenderal Perkebunan - Kementerian Pertanian
Jl. Budi Utomo No.57, Pontianak - Kalimantan Barat 78241 - Indonesia
Telp. : (0561) 883632 - Fax : (0561) 882784. Email : balaiproteksipontianak@pertanian.go.id