KEMENTERIAN PERTANIAN - DIREKTORAT JENDRAL PERKEBUNAN

BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN PONTIANAK

17/04/2021 - 07:01 PM

Analisis Karakteristik dan Klasifikasi Curah Hujan UPPT Wilayah Kalimantan Barat Bulan Januari Tahun 2021

Di Publish Pada : 02/03/2021 | Kategori : Perkebunan

(Edi Sakra Damanik, C-Analis Data dan Informasi)

Tantangan bagi pelaku usaha perkebunan adalah bagaimana produksi tanaman perkebunan bisa mencapai target, seiring dengan perubahan iklim global dan kenaikan permintaan terhadap produk komoditi perkebunan penting seperti kopi, kakao, kelapa sawit, lada dan kelapa. Sementara untuk mencapai target tersebut dibatasi oleh beberapa faktor yaitu ketersediaan air dan keberadaan organisme pengganggu tanaman. Curah hujan sebagai sumber air sangat diperlukan tanaman sebagai makhluk hidup untuk pertumbuhan melalui proses fotosintesis. Keberadaan organisme pengganggu tanaman yang bilamana populasinya melewati ambang batas ekonomi dapat mengakibatkan kerugian hasil panen.

Tanaman pada umumnya memiliki daya toleransi terhadap gangguan maupun cekaman dari lingkungannya. Beberapa faktor yang mengakibatkan tanaman toleran terhadap serangan organisme pengganggu tanaman antara lain : kekuatan tanaman secara umum, pertumbuhan kembali jaringan tanaman yang rusak,  ketegaran batang dan ketahanan terhadap rebah dan kemampuan memproduksi cabang tambahan. Suwardiwidjaja (2009) mengatakan bahwa banyaknya serangan belalang kembara berhubungan dengan curah hujan. Hasil percobaan Sudarsono (2008) menunjukkan terjadinya ekplosi belalang kembara di suatu wilayah biasanya mengikuti setelah terjadinya musim kemarau sangat panjang. Perilaku hama ini di seluruh dunia diketahui berhubungan dengan pola iklim dan curah hujan.

Ada beberapa sistem yang digunakan dalam klasifikasi iklim, sistem tersebut memiliki kriteria masing-masing. Sistem klasifikasi Schmidt-Ferguson dan Oldeman sangat cocok digunakan di Indonesia yang beriklim tropis. Dasar pengklasifikasian iklim Schmidt-Ferguson adalah jumlah curah hujan yang jatuh setiap bulan sehingga diketahui rata-ratanya bulan basah, lembab, dan bulan kering.

Oleh karena itu, maka perlu dilakukan analisis untuk mengetahui karakteristik dan klasifikasi curah hujan UPPT Wilayah Kalimantan barat untuk memberikan sumbangan pemikiran tentang skema/pengelolaan peringatan dini hama penyakit tanaman dan perubahan iklim sebagai informasi serta sebagai pendukung upaya perlindungan tanaman untuk mengurangi kerugian hasil panen.

 

Berdasarkan grafik 1. dapat dilihat bahwa curah hujan bulan Januari 2021 tertinggi yakni 791 mm di UPPT Menjalin Kabupaten Landak dan yang terendah yakni 117 mm pada UPPT Batulayang Kabupaten Mempawah. Keseluruhan data curah hujan pada UPPT pengamatan memiliki keragaman yang cukup tinggi bila dilihat dalam cakupan wilayah yang luas. Hal ini dapat dilihat dari nilai standar deviasi yang dihitung dengan nilai 148,88 mm. Lakitan dalam Sasminto dkk (2004) menyebutkan bahwa klasifikasi Schmidt-Ferguson menggunakan nilai perbandingan (Q) antara rata-rata banyaknya bulan kering dan rata-rata banyaknya bulan basah dalam tahun pengamatan. Adapun kategori untuk bulan kering (jika dalam satu bulan mempunyai jumlah curah hujan < 60 mm), bulan lembab (jika dalam satu bulan mempunyai jumlah curah hujan 60 sampai 100 mm), dan bulan basah (jika dalam satu bulan mempunyai jumlah curah hujan > 100 mm). Dengan klasifikasi Schmidt-Ferguson, maka klasifikasi curah hujan bulanan pada setiap UPPT dapat disajikan dalam Tabel 1. berikut :

 

Karakteristik curah hujan pada Tabel 1. dikategorikan menurut ambang batas nilai BMKG. Ambang batas nilai yang digunakan BMKG untuk menentukan intensitas hujan sebagai berikut:

  • 0 mm/hari (abu-abu) : Berawan
  • 5 – 20 mm/hari (hijau) : Hujan ringan
  • 20 – 50 mm/hari (kuning) : Hujan sedang
  • 50 – 100 mm/hari (oranye): Hujan lebat
  • 100 – 150 mm/hari (merah) : Hujan sangat lebat
  • >150 mm / hari (ungu) : Hujan ekstrem

Informasi rata-rata curah hujan harian disajikan pada Grafik 2. Dari Grafik 2. dapat dilihat bahwa karakteristik curah hujan harian didominasi dengan curah hujan ringan. Curah hujan dengan intensitas sedang terdapat pada UPPT Menjalin Kabupaten Landak. Hal tersebut tidak dapat dinterpretasi secara langsung karena hanya satu UPPT pengamatan.

 

 

 

Daftar Pustaka

Lakitan dalam Sasminto, R.A., A. Tunggul, J.B. Rahadi W. 2004. Analisis Spasial Penentuan Iklim Menurut Klasifikasi Schmidt-Ferguson dan Oldeman di Kabupaten Ponorogo. Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan 1(1)

Sudarsono, H. 2008. Pengaruh Lama Periode Kering dan Intensitas Curah Hujan Terhadap Penetasan Belalang Kembara (Locusta migratoria manilensis Meyen). J. HPT Tropika 8(2): 117-122

Suwardiwidjaja, E. 2009. Faktor Iklim dalam Pengembangan Model Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan


Agenda

Kritik Dan Saran

Pengunjung

Pengunjung hari ini : 128
Total pengunjung : 149808

Polling

Survey kepuasan website edit

Apakah website ini bermanfaat ?
Sangat Bermanfaat
Cukup Bermanfaat
Kadang Bermanfaat
Kurang Bermanfaat
Kurang Faedah

Galeri Foto

Galeri Video

Copyright © 2017 Direktorat Jenderal Perkebunan - Kementerian Pertanian
Jl. Budi Utomo No.57, Pontianak - Kalimantan Barat 78241 - Indonesia
Telp. : (0561) 883632 - Fax : (0561) 882784. Email : balaiproteksipontianak@pertanian.go.id