20/01/2018 - 09:43 AM
Klinik Tanaman BPTP Pontianak Melayani Konsultasi dan Rekomendasi Perlindungan Tanaman Perkebunan

KEMENTERIAN PERTANIAN - DIREKTORAT JENDRAL PERKEBUNAN

BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN PONTIANAK

PENGENALAN OPT LADA – PENGISAP BUAH LADA

Penulis : Adminisator | Di Publish Pada : 2017-12-19 | Kategori : Jadwal

Lada sering disebut juga Merica/Sahang yang mempunyai nama lain Piper albi Linna adalah salah satu tanaman yang kaya akan kandungan kimia, seperti minyak lada, minyak lemak dan juga pati. Lada bersifat sedikit pahit, pedas, hangat dan antipretik. Tanaman ini sudah mulai ditemukan dan dikenal sejak puluhan abad yang lalu. Pada umumnya orang-orang hanya mengenal lada putih dan lada hitam yang mana sering dimanfaatkan sebagai bumbu dapur. Tanaman ini merupakan salah satu komoditas perdagangan dunia dan lebih dari 80% hasil lada Indonesia diekspor. Selain itu, lada mempunyai sebutan The King of Spice (Raja Rempah-Rempah). Lada adalah salah satu tanaman yang berkembang biak dengan biji, namun banyak petani yang lebih memilih melakukan penyetekan untuk mengembangkannya.

Luas areal tanaman lada di Indonesia hampir 90% dimiliki oleh perkebunan rakyat estimasi tahun 2000 seluas 130.178 ha dari total areal 130.557 ha, dengan total potensi produksi lada Indonesia sekitar 65.227 ton. Daerah penghasil lada terbesar di Propinsi Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Hasil pengolahan lada ada 3 jenis yaitu lada hitam, putih dan hijau, dari 3 jenis olahan yang dikenal hanya lada hitam dan putih. Untuk hasil olahan lada dari Propinsi Lampung dikenal dengan sebutan Lampung black pepper dan hasil olahan lada dari Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung dikenal dengan sebutan Muntok white pepper. Sebutan tersebut dikenal karena Indonesia merupakan salah satu produsen terbesar di dunia.

Kondisi perkebunan lada Indonesia saat ini sekitar 11,50% dari seluruh luas komoditi perkebunan dengan kemampuan modal yang lemah. Dampak dari kondisi tersebut diatas mengakibatkan perkembangan teknologi ditingkat petani untuk perbaikan mutu, budidaya/pengembangan tanaman sangat lambat dan tidak mengalami perubahan.

Pada umur 3 tahun, tanaman sudah dapat dipanen dan pertumbuhannya mencapai ujung tiang penegak dengan ketinggian 3,5 cm. Selanjutnya hasilnya mulai bertambah sampai tanaman berumur 8 tahun, kemudian mulai menurun. Kalau tanaman dipelihara baik, tanaman masih dapat berproduksi sampai 15 tahun atau lebih. Sejak bunga keluar sampai buah masak, memakan waktu 7-9 bulan. Buah lada yang masih muda berwarna hijau muda, kemudian berubah menjadi hijau tua dan apabila sudah masak menjadi kuning kemerah-merahan. Pada tahap pembungaan dan pembuahan ini perlu diamati kemungkinan adanya serangan kepik pengisap bunga (Diconocoris hewetti Dist)dan kepik pengisap buah Dasynus piperis China. Kedua jenis hama ini sama-sama menimbulkan kehilangan langsung pada produksi lada (buah keriput, rontok, dsb).

Kerugian yang disebabkan oleh kepik pengisap bunga lada dan kepik pengisap buah lada sangat tinggi sehingga kedua hama tersebut termasuk ke dalam OPT penting tanaman lada. Para petani lada masih banyak yang belum mengetahui pengolahan tanaman lada  yang baik, pengendalian hama penyakit belum sepenuhnya mengikuti prinsip PHT sehingga membuat hasil produksi lada seperti berjalan ditempat. Sedangkan di persaingan perdagangan lada di pasar dunia semakin kompetitif. Di artikel ini akan dibahas terlebih dahulu mengenai kepik pengisap buah lada (Dasynus piperis China).

 

Hama Pengisap Buah Lada (Dasynus piperis China)

Hama ini termasuk keluarga Coreidae subordo Heteroptera Ordo Hemiptera. Heteroptera berasal dari kata heteros yang artinya berbeda dan ptera artinya sayap. Hal ini menunjukkan bahwa pasangan sayap muka dan belakang ada perbedaannya. Mulutnya dapat berubah bentuk untuk menusuk dan mengisap cairan dari tanaman. Moncongnya (rostrum) panjang, jika istirahat moncongnya disembunyikan di bawah badan. Sayap menutupi punggungnya dengan ujungnya saling menutup, sayap muka bagian dasarnya menebal sedangkan bagian ujungnya tipis sebagai membran. Untuk melindungi diri dari musuhnya sering sekali kepik ini mengeluarkan bau yang tajam. Hama ini dikenal dengan nama kepik, kepinding, walang sangit. Di Bangka dikenal dengan nama semunyung, di Belitung dikenal dengan Cenangau, di Kalimantan denngan nama kepinding buah lada atau Bilahu.

Siklus hidup Dasynus piperis adalah tipe Paurometabola yang terdiri dari fase telur, nimfa, dan imago.

  1. Telur diletakkan di permukaan daun/tandan buah, warna coklat muda s/d tua, bentuk lonjong, berkelompok 3-10 telur. Stadia telur 7-8 hari.
  2. Nimfa berwarna kuning kecoklatan, tidak bersayap, memiliki antena yang lebih panjang dibandingkan panjang tubuhnya, dan mobilitas nimfa tidak terlalu aktif. Nimfa menyukai buah dibagian tengah tajuk. Stadia nimfa 3-4 minggu dan mengalami 4 kali pergantian kulit.
  3. Imago berwarna hijau kecoklatan. Panjang tubuh sekitar 12mm. Imago aktif pada pagi dan sore hari karena tidak menyukai sinar matahari langsung, siang hari bersembunyi di bagian dalam tajuk tanaman lada. Imago jantan dan betina dapat dibedakan berdasarkan ukuran tubuh. Imago jantan lebih kecil dan ramping sedangkan imago betina lebih besar dan gemuk. Dewasa mampu bertelur maksimum 200 butir. Stadia imago ± 3 bulan. Daur hidup seluruhnya dari telur sampai imago berkisar antara 6-14 minggu.

Tanda serangan

  1. Hama yang menyerang buah lada adalah stadia nimfa (serangga muda) dan imago (serangga dewasa),
  2. Serangan dini dapat diketahui dari adanya bintik-bintik kekuningan pada buah lada umur antara 4-5 bulan (masak susu),
  3. Kepik mengisap buah lada sehingga buah menjadi kosong, kering dan selanjutnya menghitam. Pada serangan berat tandan buah menghitam dan gugur, serangan pada tunas dapat menyebabkan kematian pada tunas.

Untuk mencegah kehilangan produksi yang tinggi akibat kepik pengisap buah lada ini, dapat dilakukan pengamatan rutin. Hal-hal yang perlu diamati adanya bintik-bintik kekuningan pada buah lada (4-5 bulan) pada saat buah masak susu, buah lada yang kosong,kering dan menghitam. Interval pengamatan sekali pada saat populasi tinggi sekitar bulan Juni dan November. 1 bulan sekali pada saat populasi rendah yaitu sekitar bulan Juli s/d September karena kurang tersedianya buah. Apabila telah ditemukan lebih dari 3 ekor nimfa/imago per tanaman di satu kebun pengamatan dan harus segera dilakukan tindakan pengendalian.

Bagaimana Pengendalian Hama Pengisap Buah Lada?

Kehilangan produksi akibat serangan hama ini dapat mencapai 14% bahkan mencapai 36% bila serangan berat. Serangan hama tertinggi terjadi pada saat buah lada berumur 4-9 bulan yang merupakan sumber makanan hama yang paling disukai. Pada periode umur buah lada tersebut, serangga betina dapat hidup lebih lama, bertelur lebih banyak, persentase telur menetas lebih tinggi yang kemudian menjadi imago. Fluktuasi populasi hama tidak begitu dipengaruhi oleh iklim (curah hujan, kelembaban dan temperatur) namun lebih ditentukan oleh tersedianya kualitas makanan dan musuh alaminya.

Pengendalian dapat dilakukan secara kultur teknis, mekanis, biologis dan kimiawi sesuai dengan Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

1. Secara Kultur Teknis/Budidaya ;

  • Menanam varietas lada yang hanya berbuah 1 kali setahun, jangan tanam lada varietas Chunuk yang berbuah sepanjang tahun untuk memutus siklus hama,
  • Penyiangan gulma dilakukan terbatas hanya di sekitar tanaman, yang dimaksudkan agar gulma yang tersisa dapat digunakan musuh alami sebagai tempat berlindung dan mendapatkan nektar atau madu sebagai sumber makanannya,
  • Rampasan buah; dilakukan pada akhir panen (sekitar 5%) dengan tujuan untuk mengurangi sumber makanan sehingga hama tidak dapat berkembang.

2. Secara Mekanis

Pengendalian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan dan membunuh telur, nimfa yang ditemukan pada tanaman, sedanagkan serangga dewasa ditangkap denngan jarring.

3. Secara Biologis

  • Penggunaan musuh alami berupa parasitoid telur seperti Anastatus dasyni Ferr, Gryon homoeoceri Nix, Oeencyrtus malayaensis Ferr, mampu memparasitoid telur hama hingga 10-88% di Bangka. Bunga Arachis pintoi merupakan salah satu sumber nutrisi bagi musuh alami tersebut. Namun penutup tanah tersebut perlu dikelola secara baik sehingga fungsi konservasi musuh alami menjadi lebih efektif.
  • Jamur patogen yang berpotensi adalah Spicariasp dan Beauveria bassiana. Jamur ini mampu membunuh 60-100% pada 2 minggu setelah perlakuan. Jamur dapat diperbanyak dengan media jagung/beras, biaya murah, mudah dibiakkan dan tidak ada efek samping. Setiap hektar kebun diperlukan 1-2 kg biakan jamur yang dilarutkan dalam 300-450 lt air, disaring kemudian disemprotkan ke tanaman. Kematian hama terjadi pada hari ke-4 dan meningkat pada hari-hari berikutnya,
  • Penggunaan insektisida nabati relatif lebih aman terhadap lingkungan dan murah. Bahan yang dapat digunakan antara lain akar tuba (derris), biji bengkuang dan larutan daun tembakau yang dicampur sedikit sabun. Biji bengkuang diketahui mengandung senyawa rotenoid yang cukup beracun bagi kepik bila terjadi kontak.

4. Secara Kimiawi

Insektisida kimiawi sintetik saat ini harganya cukup mahal dan tidak ramah lingkungan. Oleh karena itu dianjurkan sebagai alternatif terakhir dan agar penggunaannya lebih efekktif dan efisien maka aplikasi ini harus tepat waktu, tepat dosis dan tepat sasaran. dilaksanakan apabila populasi hama sudah di atas ambang toleransi serta musuh alami tidak mampu mengendalikan serangan hama. Penyemprotan dapat dilakukan 2-3 kali dengan interval waktu 1-2 bulan sekali. Contoh insektisida sintetis (bahan aktif) yang dapat digunakan seperti MIPC, BPMC, pyretroid, methamidophos, betacyfluthrin dan fention.

Dari berbagai sumber

 

Astri Anjelina Nasution (Staf Laboratorioum APH)


Kritik Dan Saran

Pengunjung

1 5 6 2 3 3 3 9
Pengunjung hari ini : 20
Total pengunjung : 2435627
Hits hari ini : 26
Total Hits : 12275115
Pengunjung Online : 1

Galeri Foto

Galeri Video

Copyright © 2017 Direktorat Jenderal Perkebunan - Kementerian Pertanian
Jl. Budi Utomo No.57, Pontianak - Kalimantan Barat 78241 - Indonesia
Telp. : (0561) 883632 - Fax : (0561) 882784. Email : bptpbunpontianak@pertanian.go.id