20/01/2018 - 09:44 AM
Klinik Tanaman BPTP Pontianak Melayani Konsultasi dan Rekomendasi Perlindungan Tanaman Perkebunan

KEMENTERIAN PERTANIAN - DIREKTORAT JENDRAL PERKEBUNAN

BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN PONTIANAK

PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK BUAH KAKAO (PBK)

Penulis : Adminisator | Di Publish Pada : 2017-12-20 | Kategori : Jadwal

Hama penggerek buah kakao adalah hama yang paling populer dan menjadi momok bagi petani kakao, dikenali sebagai serangga dengan nama latinnya Conopomorpha cramerella Snellen Famili Gracillariidae, Ordo Lepidoptera atau cacao mot atau pod borer. Menurut Depparaba (2002) hama  ini sebenarnya telah  beberapa  kali berganti nama yaitu  Zaratha cramerella, kemudian berganti  Gracilaria  cramerella,  setelah  itu  Acrocercops  cramerella  Snellen,  dan  terakhir  Conopomopha cramerella Snellen. Hama ini menyerang buah dan menyebabkan turunnya kuantitas dan kualitas hasil. Serangannya  menyebabkan kemerosotan produksi hingga 60 – 80 persen. Artinya dari 1 kg hasil panen hanya 1,80 ons kakao yang bisa dimanfaatkan secara ekonomi. Dengan asumsi produksi kotor sekitar 100 ton, maka yang dapat dimanfaatkan hanya 18 ton. Serangan PBK pada buah mengakibatkan biji gagal berkembang, biji di dalam buah akan saling melekat, bentuknya kecil dan ringan.

Buah kakao yang diserang berukuran panjang 8 cm, dengan gejala masak awal, yaitu belang kuning hijau atau kuning jingga dan terdapat lubang gerekan bekas keluar larva.. Buah muda yang terserang mengalami perubahan warna sebelum matang. Pada saat buah dibelah biji-biji saling melekat dan berwarna kehitaman, biji tidak berkembang dan ukurannya menjadi lebih kecil. Selain itu buah jika digoyang tidak berbunyi. Kulit buah yang terserang akan sangat mudah ditumbuhi jamur.

Penggerek Buah Kakao (PBK) dalam perkembangannya telah diyakini sebagai hama yang bersifat endemik pada kakao di Indonesia. Perubahan status yang tadinya epidemik menjadi endemik oleh Vanderplank (1963) disebut Verfiola effeck, yang hakekatnya adalah kehadiran PBK harus diterima dalam kaidah hidup berdampingan yang dimaknai sebagai penerimaan PBK dibawah ambang ekonomi. strategi pengendalian PBK perlu dilakukan, dengan mempertimbangkan bahwa tanaman kakao dikenal adanya musim buah banyak dan musim buah sedikit. Pada saat musim buah sedikit, justru ditemukan populasi telur dan larva tertinggi yaitu masing-masing 4 telur dan 3 ekor larva per buah. Hal ini disebabkan karena pada musim buah sedikit hama PBK terkonsentrasi. Pada saat populasi PBK banyak inilah dilakukan pengendalian. Jadi lakukanlah pengendalian hama PBK pada saat musim buah sedikit. Karena umur PBK hanya 40 hari, sehingga dengan pengendalian hama PBK siklus hidupnya bisa terputus. Pada musim buah banyak populasinya minimal atau rendah sehingga tidak mampu merusak pada musim buah yang banyak di lapangan.

Siklus Hidup Hama PBK

Hama PBK biasanya meletakkan telurnya setelah matahari terbenam pukul 18.00 – 20.30 pada alur kulit buah kakao. Siang hari mereka berlindung di tempat-tempat yang lembab dan tidak terkena cahaya matahari. Setelah telur menetas akan menjadi larva. Larva menjadi sumber kerusakan pada buah kakao karena  akan segera membuat lubang ke dalam buah yang dimaksudkan agar terhindar dari pemangsa (predator). Larva yang masuk ke dalam buah akan tinggal pada kumpulan beberapa biji atau plasenta (saluran makanan). Di dalam buah, larva akan menggerek daging buah kakao tepat di bawah plasenta. Selanjutnya bagian diantara biji serta plasentanya tergerek, sehingga bila  kulit buah dikupas akan tampak lubang berwarna merah muda yang berliku-liku di dalam buah. Serangan PBK pada buah menyebabkan biji gagal berkembang, biji dalam buah saling melekat, bentuknya kecil dan ringan.

Perkembangan dari telur menjadi imago (serangga dewasa) selama 35 – 40 hari tergolong metamorfosa sempurna yaitu : telur, larva, pupa dan imago. Imago betina penggerek buah kakao berumur 5-7 hari. Fase  telur  3-7 hari,  larva  15-18  hari,  pupa  6-8  hari  dan  ngengat 3-7  hari.

Telur

Telur  berbentuk  oval  dan  berwarna  kuning  oranye  pada  saat  baru  diletakkan. Telur berukuran sangat kecil (sulit dilihat) dengan ukuran Panjang  telur  0,45-0,50 mm, lebar 0,25-0,30 mm. Serangga dewasa bertelur 50 – 100 butir pada setiap buah kakao. Setelah  telur  diletakkan  pada  permukaan  buah  yang  berlekuk  (semakin  besar  ukuran  buah,  maka  akan  semakin  besar  pula  peluang  untuk bertelur di  situ),  kemudian  akan  berkembang  menjadi  larva. Dalam waktu kurang dari 7 hari,  telur-telur tersebut akan menetas dan keluarlah larva-larva yang lantas menggerek kulit dan masuk ke dalam buah kakao.

Larva

Larva yang baru keluar  dari telur berwarna  putih transparan dengan panjang 1 mm. Larva tua berwarna putih kekuningan. Lubang gerekan berada tepat di bawah tempat meletakkan telur. Larva akan menggerek daging buah, diantara biji dan plasenta. Panjang larva bisa mencapai sekitar 1,0-1,2 cm dan berwarna ungu muda hingga putih, lama hidup dalam buah kakao antara 15 – 18 hari kemudian menjadi kepompong. Setiap buah dapat mengandung 6-40 larva.

Kepompong (Prapupa) dan Pupa

Kepompong terlindung dalam anyaman kokon . Periode kepompong 6-8 hari. Biasanya larva berkepompong pada daun atau alur buah, dan larva membuat lubang keluar dengan benang-benang sutra yang keluar dari mulutnya. Melalui benang tersebut, larva turun ke tanah dan menggulung menjadi kepompong. Dengan demikian kepompong seringkali di temukan pada daun kering di tanah, keranjang, karung atau kantong plastik yang ada di sekitar pohon kakao. Setelah 8 hari menjadi kepompong, akan keluar pupa berwarna abu-abu gelap dengan panjang 8 mm. Ketika setengah badan pupa keluar dari kepompong, ia melepaskan kulitnya lalu muncul sebagai imago.

Imago

Imago berwujud kupu-kupu kecil (ngengat)  dengan panjang 7 mm dan lebar 2 mm, memiliki sayap depan berwarna hitam bergaris putih, pada setiap ujungnya terdapat bintik kuning dan sayap belakang berwarna hitam. Antena yang lebih panjang dari badannya dan runcing. Imago aktif mulai senja sampai malam hari, pada pukul 18.00 – 20.30. Pada siang hari biasanya berlindung di tempat lembab dan tidak terkena sinar matahari. Daya terbangnya tidak terlalu tinggi namun mudah terbawa oleh angin. Serangga dewasa ini sendiri hanya berumur 5 – 7 hari, setelah bertelur akan mati.

 

Gejala Serangan Hama PBK

Serangan hama penggerek buah kakao dapat dikenali dari perubahan warna kulit buah menjadi belang hijau atau tampak seperti matang sebelum waktunya. Buah ini bila dibuka bagian dalamnya akan berwarna coklat kehitaman. Pada kulit buah yang terserang terdapat garis hitam yang merupakan bekas liang gerekan larva penggerek buah kako. Biji dari buah yang terserang biasanya berukuran kecil dan saling berdempetan satu sama lain. Biji ini sangat sulit dikeluarkan karena melekat kuat pada kulit buah. Biji dari buah yang terserang umumnya memiliki kadar lemak yang rendah sehingga harga jualnyapun rendah.

Pengendalian Hama PBK

Secara umum pengendalian hama yang dianjurkan dalam Penyuluhan Pertanian adalah pengendalian berdasarkan konsep PHT. Pengendalian dengan konsep PHT dimulai dengan tindakan pencegahan (preventif), yaitu karantina, pemilihan pohon induk dan benih serta perawatan dan pengamatan dini. Namun jika tindakan pencegahan ini ternyata tidak efektif mengendalikan hama dan penyakit maka barulah dilakukan pengendalian dalam arti khusus (kuratif) yaitu menekan populasi organisme penganggu (OPT) sampai di bawah ambang toleransi. Dalam hal ini cara yang dikedepankan adalah cara-cara yang ramah lingkungan, yakni cara mekanis, fisis dan biologis.

Adapun strategi pengendalian hama PBK menurut konsep PHT, dapat dikemukakan sebagai berikut :

1. Karantina

Karantina adalah tindakan mengisolasi suatu obyek/organisme di suatu tempat/lokasi khusus sebelum obyek/organisme tersebut berbaur dengan komunitas di wilayah yang bersangkutan. Dalam karantina ini pemerintah akan melakukan pengawasan, penyitaan dan pemusnahan terhadap bahan tanaman yang dianggap tercemar hama, seperti buah, entris, biji, karung dan media lainnya yang dapat menyebarkan hama PBK. Tindakan tersebut bertujuan mencegah masuknya PBK dari daerah terserang hama ke daerah lain yang masih bebas, baik secara domestik, antar pulau atau antar propinsi, maupun antar negara.

2. Teknik Bercocok Tanam

Tindakan pencegahan berikutnya adalah mengupayakan pembudidayaan tanaman yang sehat. Tindakan ini diawali dengan pemilihan pohon induk yang tidak terserang  PBK, kemudian memilih biji-biji yang sehat (sempurna) yang berasal dari buah kakao yang sempurna pula. Selanjutnya adalah penanaman yang baik dan disusul kemudian dengan perawatan yang intensif.  Berdasarkan pola hidup  PBK sebagaimana telah diungkapkan di atss, maka perawatan yang sangat diperlukan dalam mencegah perkembangan PBK adalah pemangkasan yang teratur, baik pada tanaman kakao maupun pelindungnya. Dengan pemangkasan yang teratur maka tempat-tempat yang gelap dan lembab yang sangat disukai kupu-kupu PBK dapat dimimalkan.

3. Rampasan Buah

Rampasan buah adalah memetik semua buah yang menggantung di pohonnya. Tindakan ini tujuan untuk memutuskan daur hidup PBK dengan cara meniadakan ketersediaan makan yang sesuai kebutuhannya  di lapangan.  Ini berarti mengorbankan sekitar 30% dari seluruh produksi setahun atau kadang-kadang lebih. Jelaslah mengapa kerugian paling sedikit 30% dari hasil.

4. Frekuensi Panen

Kakao yang dipanen sering kurang beresiko terserang hama PBK . Kulit buah yang telah dipanen perlu dikumpulkan dan dibenamkan ke dalam tanah sehingga mampu menekan populasi serta perkembangbiakan PBK karena banyak larva yang juga ikut terbenam bersama kulit buah menjadi kompos.

5. Pemangkasan dan Sanitasi Lingkungan

Pemangkasan secara berkala penting dilakukan untuk menjaga kondisi kelembaban kebun. Kebun yang terlalu lembab memungkinkan hama penggerek buah untuk melakukan reproduksi secara lebih massif. Pemangkasan dilakukan dengan membuka cabang-cabang ranting kakao yang saling bertumpang tindih dan mengurangi lingkar tajuk tanaman penaung yang terlalu lebat agar cahaya matahari bisa masuk ke dalam kebun. Dengan pertimbangan bahwa kelemahan imago PBK  tidak menyukai sinar matahari langsung, sehingga bila sering dilakukan pemangkasan teratur akan dapat menekan populasi hama karena distribusi sinar matahari pada bagian tanaman maupun areal kebun menjadi merata. Pemangkasan bentuk pohon kakao dilakukan dengan membatasi tinggi tajuk tanaman maksimum 4m memudahkan saat pengendalian dan panen.

Sanitasi berarti membersihkan areal kebun dari daun kering, ranting kering, limbah, kulit buah dan gulma yang berada di sekitar tanaman. Keadaan yang bersih menjadikan kondisi yang tidak sesuai bagi hama PBK.

6. Pemupukan

Bertolak dari pemikiran bahwa ketersediaan unsur hara berkaitan erat dengan pertumbuhan dan produktivitas yang optimal, maka pengendalian hama bisa dilakukan dengan cara memberikan pupuk yang cukup. Maksudnya adalah bahwa terpenuhi unsur hara yang dibutuhkan tanaman akan memperlancar proses metabolisme tanaman. Lancarnya poses tersebut akan mempercepat masaknya buah, sehingga akan mengurangi tingkat kerusakan buah dan memungkinkan frekuensi panen lebih sering. Disamping itu pertumbuhan tanaman yang optimal akan mempengaruhi daya tahan tanaman terhadap serangan hama PBK meskipun pengaruhnya tidak begitu besar.

7. Kondomisasi atau Penyarungan

Kondomisasi atau sarungisasi berarti membungkus buah kakao dengan plastik. Caranya yaitu ujung bagian atas kantong plastik diikatkan pada tangkai buah, sedangkan ujung buah tetap terbuka. Dengan cara penyelubungan buah tersebut, hama tidak dapat meletakkan telur pada kulit buah sehingga buah terhindar dari serangan larva

Persyaratan sarungisasi buah kakao untuk pengendalian PBK :

ukuran buah 6-8 cm atau pada saat buah mengandung air, karena serangga PBK mulai meletakkan telur pada ukuran dan kriteria dimaksud. Serangan PBK bisa mencapai 0 % apabila dilakukan aplikasi 1 x insektisida yang telah  direkomendasikan oleh  Komite Pestisida sebelum sarungisasi. Dilakukan pada saat musim buah sedikit, karena PBK lebih terakumulasi keberadaanya dan dapat memberikan jumlah populasi awal yang rendah pada saat musim buah banyak. Sarungisasi pada musim buah banyak tidak efektif karena serangan PBK bisa menjadi sangat tinggi karena banyak makanan yang tersedia di lapangan.

8. Pengendalian Biologis/Hayati

Pengendalian hama PBK secara biologi dapat dilakukan dengan melepaskan musuh alaminya baik dari golongan predator maupun parasitoid. Predator hama ini antara lain semut hitam (Dolichoderus thoracicus), semut angrang (Oesophylla smaragdina) dan laba-laba (Arachanida). Sedangkan parasitoidnya antara lain seperti Gorypus spp, Paraphylax spp, Ceraphron spp, Phaenocarpa spp, Agen hayati seperti Beuvaria bassiana.

9. Pengendalian Kimiawi

Pengendalian kimiawi dilakukan bila serangan hama PBK di kebun sudah dalam intensitas yang tinggi. Pengendalian kimia sebaiknya dilakukan setelah pengendalian kultur teknis dan pengendalian biologi sudah dilakukan. Karena ulat PBK selalu berada di dalam buah kakao, sehinga bukan sasaran yang tepat dalam pemakaian pestisida. Sasaran pokok penggunaan pestisida adalah kupu-kupu pada saat istirahat atau meletakkan telur. Dengan demikian obyek yang disemprot adalah adalah buah dan tempat-tempat peristirahatan kupu-kupu yaitu cabang-cabang horisontal sampai yang miring 20o. Penyemprotan terbatas pada buah dan jourget kakao, dapat menekan serangan PBK hingga serangan ringan yang tidak mempengaruhi produksi secara nyata. Jenis pestisida yang digunakan yakni golongan piretroid, dengan dosis 0,5 cc/liter air dan dalam satu hektar hanya disemprot 10 tangki (150 liter) larutan.

Dari berbagai sumber

 

Astri Anjelina Nasution (Staf Laboratorium)

 


Kritik Dan Saran

Pengunjung

1 5 6 2 3 3 3 9
Pengunjung hari ini : 20
Total pengunjung : 2435627
Hits hari ini : 26
Total Hits : 12275115
Pengunjung Online : 1

Galeri Foto

Galeri Video

Copyright © 2017 Direktorat Jenderal Perkebunan - Kementerian Pertanian
Jl. Budi Utomo No.57, Pontianak - Kalimantan Barat 78241 - Indonesia
Telp. : (0561) 883632 - Fax : (0561) 882784. Email : bptpbunpontianak@pertanian.go.id