KEMENTERIAN PERTANIAN - DIREKTORAT JENDRAL PERKEBUNAN

BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN PONTIANAK

14/12/2018 - 04:35 AM

MENGHITUNG KEHILANGAN HASIL AKIBAT BUSUK BUAH KAKAO

Di Publish Pada : 20/03/2018 | Kategori : Jadwal

Kegiatan Kajian Taksasi Kehilangan Hasil Akibat OPT Kakao dilaksanakan di Desa Pasir Gunung Kecamatan Sungai Raya. Wilayah Sungai Raya merupakan salah sentra tanaman kakao di Kabupaten Bengkayang. Kegiatan dilaksanakan pada awal pertumbuhan buah dengan ukuran 5 – 10 cm di bulan Juni – Juli 2014. Pengambilan sampel buah kakao yang terserang busuk buah dilakukan pada panen raya di Bulan Desember 2014.

Buah kakao yang diambil sebagai sampel pada musim panen, mengalami pembusukan pada masa pematangan buah sehingga secara umum biji kakao masih dapat dipanen. Pembusukan pada masa pematangan buah akan menurunkan kualitas biji yang dihasilkan dengan adanya perubahan warna, aroma dan berat kering biji kakao. Penurunan kualitas sangat berpengaruh terhadap harga jual biji kakao. Pada saat kegiatan ini dilakukan harga biji kakao kering di Kecamatan Sungai Raya berada pada kisaran harga Rp. 18.000,-/Kg.

Pada beberapa buah sampel ditemukan gejala luar menunjukkan serangan busuk buah, tetapi ketika buah dibelah biji melekat. Hasil pemanenan biji yang dilakukan, beberapa buah kakao memiliki biji yang susah untuk dipanen dan melekat pada kulit buah yang disebabkan oleh serangan penggerek buah kakao (PBK).

Sebanyak 600 buah kakao diambil sebagai sampel dan dikelompokkan berdasarkan persentase tingkat serangan busuk buah. Buah kakao dipisahkan dalam kotak yang berbeda sebelum dilakukan pemanenan biji untuk memudahkan dalam mengkategorikan serangan. Data persentase tingkat serangan dan jumlah buah kakao yang menunjukkan gejala serangan dapat dilihat pada tabel 1.

Penanganan buah kakao yang dilakukan pada kegiatan ini disesuaikan dengan kebiasaan yang dilakukan oleh petani. Biji kakao yang diambil kemudian dijemur pada panas matahari selama 3 hari tanpa proses fermentasi seperti yang umumnya dilakukan oleh petani kakao. Data mengenai berat biji kering dapat dilihat pada tabel 2.

Dapat dilihat pada tabel 2, rata-rata berat biji kering pada bervariasi pada tiap kategori serangan karena jumlah biji yang dapat dipanen dalam kondisi baik sangat tergantung pada tingkat serangan busuk buah. Data mengenai kehilangan hasil dapat dilihat pada tabel 3.

Berdasarkan pada data diatas, persentase kehilangan hasil akibat busuk buah kakao berada pada angka rata-rata 23.16 % untuk tiap kebun kakao dengan jumlah pohon sampel sebanyak 50 batang. Sedangkan kerugian secara ekonomi yaitu sebesar Rp. 416.903,85 untuk rata-rata kebun sampel.

Angka kehilangan hasil tersebut berada pada kisaran yang tidak terlalu besar hal ini tentunya sangat tergantung pada kebiasaan petani di wilayah tersebut dalam mengelola kebunnya. Petani di Desa Pasirgunung Kecamatan Sungai Raya cukup baik dalam melakukan pemeliharaan kebun, mereka sudah terbiasa melakukan pemangkasan dan pemusnahan sumber inokulum.

Sedangkan secara teknis, pada umumnya tanaman kakao yang ditanam di Desa Pasirgunung merupakan hasil peremajaan dengan sistem sambung samping yang secara relatif mengurangi serangan OPT akibat batang atas yang tua dan rentan tergantikan dengan tunas baru. Sambung samping pada tanaman kakao di lokasi sampel menggunakan klon Sulawesi 1 dan Sulawesi 2.

Besarnya kehilangan hasil dipengaruhi oleh tingkat kerusakan biji kakao. Kerusakan biji akibat busuk buah selain merubah warna dan aroma juga membuat bobot biji yang dihasilkan berkurang. Korelasi antara kerusakan biji dan kehilangan hasil dapat dilihat pada tabel 4.

Dapat dilihat bahwa semakin meningkatnya kerusakan biji maka kehilangan hasil semakin tinggi. Pada kerusakan biji diatas 75 % rata-rata kehilangan hasil sebesar 47,20 % yang artinya sebagian biji masih dapat terselamatkan tetapi dengan kualitas yang menurun seperti bobot biji kering yang rendah.

Buah sampel yang berasal dari Klon kakao Sulawesi 1 dan Sulawesi 2 berdasarkan spesifikasi teknisnya tahan terhadap VSD (Vascular Streak Dieback), tetapi jika dilihat dari hasil penghitungan kehilangan hasil kemungkinan juga klon ini agak tahan terhadap busuk buah kakao. Pada beberapa buah yang terserang busuk buah saja tanpa adanya serangan dari PBK, biji kakao masih dapat dilakukan pemanenan seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

Hubungan antara kerusakan biji dan kehilangan hasil dapat dilihat pada grafik 1.

Grafik ini menyajikan gambaran mengenai trend (pola) dari tingkat kerusakan biji terhadap kehilangan hasil dengan persamaan linear y = 0.4673x + 8.9959.

Persentase kehilangan hasil akibat busuk buah kakao pada kebun sampel di Desa Pasirgunung sebesar 18,36 % pada kebun sampel I, 28.48 % pada kebun sampel II dan sebesar 22.64 % pada kebun sampel III. Adapun kerugian secara ekonomi sebesar Rp. 416.903,91 per hektar untuk rata-rata kebun sampel.

 

Erwin Irawan Permana, SP

POPT Ahli Muda

 

 


Kritik Dan Saran

Pengunjung

Pengunjung hari ini : 45
Total pengunjung : 12458

Polling

Survey kepuasan website edit

Apakah website ini bermanfaat ?
Sangat Bermanfaat
Cukup Bermanfaat
Kadang Bermanfaat
Kurang Bermanfaat
Kurang Faedah

Galeri Foto

Galeri Video

Copyright © 2017 Direktorat Jenderal Perkebunan - Kementerian Pertanian
Jl. Budi Utomo No.57, Pontianak - Kalimantan Barat 78241 - Indonesia
Telp. : (0561) 883632 - Fax : (0561) 882784. Email : balaiproteksipontianak@pertanian.go.id