KEMENTERIAN PERTANIAN - DIREKTORAT JENDRAL PERKEBUNAN

BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN PONTIANAK

25/05/2020 - 01:10 PM

KUMBANG TANDUK KELAPA (Oryctes rhinoceros) DAN CARA PENGENDALIANNYA

Di Publish Pada : 22/12/2019 | Kategori : Jadwal

KUMBANG TANDUK KELAPA (Oryctes rhinoceros) DAN CARA PENGENDALIANNYA

 Oleh :

Hamdani

(POPT Ahli Madya BPTP Pontianak)

 

Di Kalimantan Barat, tanaman Kelapa (Cocos nucifera)  termasuk komoditas yang diunggulkan, khususnya daerah kabupaten di sepanjang pesisir pantai. Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, kelapa juga merupakan komoditas ekspor penghasil devisa negara. Sebagai penunjang ekonomi keluarga, tanaman kelapa banyak diupayakan petani dan menjadi tanaman turun temurun. Sampai dengan tahun 2017, luas areal tanaman kelapa di Kalbar telah mencapai 99.604 ha yang dikelola oleh 66.476 KK petani (Disbun Kalbar, 2017). Data tersebut menunjukan bahwa rata-rata  per KK petani hanya mengelola kebun kelapa seluas kurang lebih 1,5 ha. Dari luas tersebut berdasarkan data statistik perkebunan Disbun Kalbar,  16,15 %  merupakan tanaman tua dan tanaman rusak. Banyak faktor penyebab tanaman kelapa menjadi rusak diantaranya serangan hama dan penyakit.

Kumbang Tanduk Kelapa (Oryctes rhinoceros L) merupakan  salah satu hama utama tanaman kelapa yang dapat menyebabkan tanaman  menjadi rusak bahkan akibat serangan berat dapat menyebabkan tanaman menjadi mati. Kondisi ini telah banyak dilaporkan khususnya di daerah pesisir pantai  seperti di Kabupaten Sambas (di Kecamatan jawai Selatan), Bengkayang (di Kecamatan Sungai Raya), Mempawah (di Kecamatan Sungai Kunyit, Mempawah Hilir dan Sungai Pinyuh),  Kubu Raya (di Kecamatan Teluk Pakedai dan Kecamatan Sungai kakap), Kayong Utara dan Kabupaten Ketapang. Luas serangan hama Kumbang Tanduk Kelapa (Oryctes rhinoceros) di Kalimantan Barat sampai dengan bulan Juni 2019 telah mencapai 3.558,5 ha dengan intensitas serangan ringan sampai berat (BPTP Pontianak, 2019).

 

Masih adanya serangan hama kumbang Oryctes rhinoceros  di beberapa sentra produksi kelapa lebih disebabkan oleh ketersediaan sarang-sarang alami yang selalu ada sepanjang tahun, kurang intensifnya pengendalian yang dilakukan petani, metode pengendalian yang diaplikasikan masih secara tunggal dan wilayah pengendalian masih secara parsial. Pengendalian yang dilakukan secara terbatas (parsial) mengakibatkan hama selalu ada sepanjang tahun karena wilayah yang tidak dikendaikan menjadi sumber infeksi bagi kebun di sekitarnya.

Untuk mengatasi masalah masih rendahnya pengetahuan dan ketrampilan petani tentang teknik pengenalan dan pengendalian hama kumbang Oryctes sp termasuk akibat yang disebabkannya, diperlukan upaya pembinaan oleh berbagai pihak termasuk kegiatan pendampingan berkelanjutan di lapangan. Salah satu bentuk pembinaan kepada petani kelapa tentang teknik pengendalian secara terpadu adalah dengan melakukan Demplot Pengendalian Hama Kumbang Oryctes rhinoceros secara terpadu (PHT) yaitu upaya pengendalian populasi atau tingkat serangan hama kumbang Oryctes rhinoceros dengan menggunakan satu atau lebih dari berbagai cara pengendalian yang dikembangkan dalam satu kesatuan untuk mencegah timbulnya kerugian secara ekonomis dan kerusakan lingkungan hidup. Dalam sistem ini penggunaan bahan-bahan kimia sintetis (pestisida)  merupakan alternatif terakhir.

MENGENAL HAMA KUMBANG  TANDUK KELAPA  (Oryctes rhinoceros L)

Klasifkasi hama Kumbang Tanduk Kelapa (Oryctes rhinoceros L) menurut Kalshoven (1981) adalah sebagai berikut :

Kingdom      :  Animalia

Phylum        :  Arthropoda

Class           :  Insecta

Ordo            :  Coleoptera

Family         :  Scarabaeidae

Genus          :  Oryctes

Species        :  Oryctes rhinoceros L.

Kumbang  Tanduk Kelapa (Coleoptera: Scarabaeidae) merupakan salah satu hama utama tanaman kelapa. Kumbang Tanduk Kelapa sudah umum dikenal oleh petani kelapa dan menyebar hampir diseluruh pertanaman kelapa di Indonesia. Di Kalimantan Barat, serangan lebih dominan di daerah pesisir pantai seperti di Kabupaten Sambas, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Ketapang. Selain dapat menurunkan produksi kelapa, serangan berat hama ini dapat menyebabkan kematian tanaman. Kumbang ini merusak pelepah daun muda yang belum terbuka dan setelah terbuka terlihat guntingan segi tiga. Hama ini juga merusak spadiks, akibatnya produksi menurun dan serangan berat menyebabkan tanaman mati. Serangan dapat berlangsung sepanjang tahun dan populasinya dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya tempat berkembang biak dari hama tersebut. Sistem peremajaan dengan menebang tanaman kelapa tua dan mengganti dengan tanaman baru akan menimbulkan masalah hama Oryctes karena tersedia tempat berkembang biaknya. Pada tanaman muda yang berumur 2 tahun atau kurang, kumbang merusak titik tumbuh sehingga menyebabkan tanaman mati.  Suatu populasi kumbang dalam tahap makan sebanyak 5 ekor per ha dapat mematikan setengah dari tanaman yang baru ditanam. Informasi ini menunjukkan bahwa hama Kumbang Kelapa Oryctes merupakan hama yang berbahaya pada tanaman kelapa.

Serangan kumbang tanduk kelapa (Oryctes Rhinoceros) pada perkebunan kelapa apabila tidak dikendalikan secara terpadu tidak akan memberikan hasil yang optimal. Siklus hidup kumbang tanduk yang berlangsung relatif cukup lama membuat keberadaan hama ini di lokasi perkebunan yang terserang populasinya akan semakin tinggi dan dapat menimbulkan kerusakan tanaman kelapa yang sangat parah. Untuk pengendalian yang efektif perlu diketahui secara baik siklus hidup kumbang tanduk kelapa (Oryctes rhinoceros).

Keseluruhan waktu yang dilalui untuk mencapai satu siklus hidup dari kumbang tanduk  berkisar  antara 1 s/d 2 tahun.   Lamanya  siklus hidup ini yang membuat populasi hama ini  seolah-olah tidak pernah habis. Walaupun penggunaan pestisida sudah dilaksanakan secara rutin dengan interval penggunaan yang berkisar antara 1 s/d 2 minggu ternyata populasi hama tetap saja tidak berkurang bahkan semakin bertambah. 

 

PENGENDALIAN KUMBANG KELAPA SECARA TERPADU (PHT)

Pengendalian kumbang tanduk secara terpadu selalu memberikan hasil pengendalian yang terbaik dan dalam waktu yang relative singkat, dapat menurunkan populasi kumbang tanduk di perkebunan Kelapa.  Syarat dilaksanakannya pengendalian terpadu adalah dilaksanakannya berbagai macam cara pengendalian pada satuan luas perkebunan kelapa pada saat yang bersamaan. Beberapa cara pengendalian tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Penggunaan Agens Pengendali Hayati (APH)

Ada dua Agens Pengendali hayati (APH) yang efektif untuk mengendalikan larva kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) diantaranya adalah :

  • Metarizeb (Metarhizium anisopliae)
  • BT- Plus (Bio Insektisida dan Bio Nematisida)

Metarizeb adalah insektisida hayati berbentuk tablet yang bisa dilarutkan dalam air berbahan aktif  jamur Metarizhium anisopliae yang efektif untuk mengendalikan kumbang tanduk pada stadium Larva. Metarizeb selain mengandung jamur Metarizium anisopliae juga mengandung berbagai bahan aktif diantaranya adalah:

  • Bacillus thuringiensis.
  • Beuvaria Basianna.
  • Cordicep sp.

Metarizeb dapat mengendalikan kumbang tanduk dengan cara menginveksi larva sehingga larva tidak dapat berkembang ke instar berikutnya.  Infeksi terjadi setelah terjadi kontak antara bahan aktif metarizeb dengan larva. Waktu yang dibutuhkan mulai infeksi sampai kematian larva berkisar 3 s/d 4 minggu. Larva yang terinfeksi terlihat di penuhi miselia dari jamur Metarizhium anisopliae.

BT-Plus adalah bio insektisida dan bio nematisida berbentuk serbuk tepung yang memiliki efek ganda dalam menginfeksi hama, karena memiliki kandungan dua jenis bakteri yaitu: Serratia marcescens dan Bacillus thuringiensis. Setiap 50 gr (1 bks) BT-Plus mengandung 10–10CFU/gram yang terdiri dari : bakteri merah Serratia marcescens yang bersifat kontak dan  Bacillus thuringiensis sebagai penghasil racun pencernaan. Dengan demikian, BT-Plus dapat menginfeksi hama dengan 2 cara yakni secara kontak dan melalui racun pencernaan. Bakteri Merah Serratia marcescens adalah entomopatogen kontak yang bersifat fakultatif aerob dan memiliki kemampuan untuk hidup pada keadaan ekstrim (lingkungan terkena antiseptik, desinfektant dan air destilasi), serta menghasilkan enzym hydrolitik yang bersifat toksin. Bakteri Merah Serratia marcescens masih dapat hidup dan berkembang dengan baik pada kedalaman 1 meter dari permukaan tanah. Hal ini dapat membuat Bakteri Merah Serratia marcescens  juga dapat menginfeksi ulat tanah dan nematoda.

Aplikasi insektisida hayati difokuskan untuk mengendalikan larva kumbang tanduk yang keberadaannya terkonsentrasi utamanya di bawah tumpukan-tumpukan sampah, batang kelapa lapuk (sarang-sarang alami).   Kondisi di bawah tumpukan yang dingin dan lembab dan relatif terlindung menjadi tempat yang sesuai bagi kumbang tanduk untuk bermetamorfosa. Populasi larva kumbang tanduk biasanya cukup banyak pada tumpukan ex vegetasi pohon Nipah, seresah bekas tebangan kayu hutan yang melapuk, atau tunggul kelapa lapuk. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan di beberapa perkebunan kelapa tua, populasi larva kumbang tanduk sangat tinggi di tumpukan lahan ex vegetasi nipah (Hartanto, 2019). Sehingga problem utama perkebunan kelapa  yang vegetasi awalnya pohon Nipah adalah tingkat serangan hama kumbang tanduk pada TBM relatif tinggi. Hasil pengamatan penulis dilokasi serangan berat di Kecamatan Jawai Selatan khususnya di Desa Jeluk Air, tanaman terserang berat umumnya berada dilokasi yang berbatasan langsung dengan lokasi bekas tebangan pohon-pohon hutan yang difungsikan untuk keperluan lain.

Cara aplikasi insektisida hayati Metarizeb dan BT-Plus adalah dengan cara injeksi tumpukan menggunakan nosel injeksi (Nosel khusus) pada kedua sisi tumpukan dengan jarak masing masing injeksi 3  meter. Injeksi dilakukan selama 4 detik setara dengan 300 ml larutan (perlu kalibrasi ulang di Lapangan). Bila menggunakan Knapsack Sprayer dengan kapasitas 15 liter maka 1 sprayer akan bisa menghasilkan (15.000/300) = 50 injeksi. Untuk 1 jalur tumpukan sepanjang 300 meter total injeksi yang diperlukan [(300/3)x2] = 200 injeksi setara dengan 4 Knapsack Sprayer, teknik pengendalian seperti ini biasa dilakukan di lokasi peremajaan tanaman kelapa sawit.

Penyemprotan dan Injeksi tumpukan dengan BT-Plus dan Metarizeb dimaksudkan untuk mengendalikan larva kumbang tanduk dan berdasarkan pengamatan lapangan mortalitas larva akan semakin meningkat dimulai pada 2 Bulan setelah aplikasi (BSA) s/d 6 BSA.

  1. Penggunaan Feromonas (Feromone Sex)

Feromonas adalah senyawa kimia berbahan aktif Ethyl 4-Methyloctanoate yang dapat mengeluarkan aroma khusus sedemikian sehingga dapat mengundang imago/kumbang dewasa untuk terbang mendekati sumber aroma yang membangkitkan gairah sex kumbang tanduk. Imago kumbang tanduk yang berada di sekitar feromonas akan segera berdatangan.

Feromonas di lapangan dipasang pada Ferotrap (Perangkap) dan di letakkan di lapangan pada tiang gantungan khusus dengan ketinggian berkisar 1,5 – 2,0 meter di atas permukaan tanah.  Pemasangan ferotrap utamanya dilakukan untuk upaya pencegahan terhadap serangan kumbang tanduk.  Hanya saja yang sering terjadi di lapangan, ferotrap baru dipasang setelah tingkat serangan kumbang tanduk berada pada tingkatan yang sudah sangat tinggi.

Ferotrap di pasang pada gawangan mati dan setiap 1 ferotrap dapat mengcover 2 s/d 5 hektar. Pada tingkat pencegahan, pemasangan ferotrap di laksanakan di tepian luar batas kebun dengan kerapatan 1 ferotrap setiap 5 hektar lahan. Sedangkan pada tingkat serangan yang tinggi, pemasangan ferotrap dilakukan dengan kerapatan 1 ferotrap setiap 2 hektar lahan. Feromonas di pasang di setiap ferotrap dan mampu bertahan selama 2 – 3 bulan. Cara ini biasa dilakukan di perkebunan kelapa sawit dan dapat juga diterapkan di perkebunan kelapa dalam.

Berdasarkan laporan Hartanto (2019), perhitungan jumlah kumbang tanduk yang terperangkap di ferotrap dilaksanakan setiap 1 minggu dan berdasarkan pengalaman setiap 1 ferotrap dapat menangkap 5 – 10 kumbang per hari setara dengan 35 – 70 kumbang per minggu.

Hasil pengamatan atas pemasangan 400 Ferotrap di 1.600 ha lahan perkebunan sawit TBM di wilayah Sumsel terbukti dapat menangkap 120.000 kumbang selama 2 bulan.  Hasil tangkapan kumbang terus meningkat seiring bertambahnya waktu pengamatan.

Penurunan populasi kumbang tanduk akan berlangsung secara signifikan dan tingkat serangan akan menurun sampai pada kondisi yang tidak merugikan (di bawah ambang ekonomi) selama 6 – 9  bulan.

  1. Pemasangan Jaring

Jaring yang terbuat dari bahan monofilamen sangat berguna untuk pengendalian kumbang tanduk.  Pemasangan jaring dilakukan bisa sebagai pagar individu dan juga sebagai pagar di batas luar kebun.

Pemasangan jaring individu di setiap tanaman kelapa sawit, ongkos pasangnya lebih mahal dari harga bahan. Pengalaman di salah satu perkebunan kelapa sawit di Sumatra Selatan, biaya pemasangan jaring individu Rp. 2,000/pohon dengan perincian Rp. 500 harga jaring dan Rp. 1.500 upah pasang per pohon. Pemasangan jaring sebagai pagar individu dimaksudkan untuk melindungi tanaman kelapa sawit dari serangan kumbang tanduk. Upaya ini dapat melindungi tanaman dari serangan kumbang, hanya saja karena jaring harus di pasang secara individu menyebabkan biayanya menjadi cukup tinggi. Teknik pemasangan jaring individu bisa juga diterapkan pada tanaman kelapa dalam, namun demikian perlu dikaji kesesuaian biaya yang perlu dikeluarkan. Jika tidak efisien, maka cara ini tidak perlu diterapkan.

Pemasangan jaring sebagai pagar di luar tapal batas kebun dapat dilaksanakan untuk mencegah masuknya hama kumbang tanduk dari wilayah luar. Jaring di pasang dengan batas bawahnya berada 1 meter di atas permukaan tanah.  Pemasangan jaring pagar ternyata juga ada kendalanya. Selain bisa menangkap kumbang tanduk juga bisa menangkap kalelawar sehingga dapat merusak jaring.

  1. Penggunaan Lampu Perangkap (Light Trap)

Lampu perangkap (Lightrap) merupakan alat yang didesain mampu menarik imago kumbang pada malam hari. Kondisi ini didasarkan pada sifat hama kumbang kelapa yang menyenangi sinar terutama pada malam hari. Penggunaan lampu perangkap merupakan cara pengendalian yang cukup efektif. Lampu perangkap dipasang di sekitar kebun kelapa terserang ( satu unit lampu perangkap untuk luasan kebun 2 ha.). Pengamatan jumlah imago yang terperangkap dimulai sehari setelah pemasangan lampu perangkap. Imago yang terperangkap dikumpulkan, dihitung dan jumlahnya dimasukan dalam tabel pengamatan kemudian dimusnahkan.

  1. Penebangan Tanaman Kelapa Mati Berdiri

Tanaman kelapa mati berdiri banyak ditemukan dilokasi serangan berat. Ujung pohon kelapa yang telah mati dan telah lapuk merupakan sarang alami yang cocok untuk tempat meletakan telur kumbang Oryctes. Tipe sarang alami seperti ini sulit untuk dijangkau dalam upaya pengendalian larvanya, maka upaya terbaik adalah dengan melakukan penebangan secara massal dan serentak terhadap tanaman kelapa mati berdiri menggunakan chainsaw. Batang kelapa yang telah ditebang sedapat mungkin dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Jika tidak maka batang batang tersebut dapat dimanfaatkan untuk bahan pembuatan traping (perangkap) yang didalamnya dapat ditaburkan jamur Metarhizium anisopliae. Batang kelapa yang telah lapuk harus dimusnahkan, bisa dengan jalan dibakar.     Larva yang berada diujung batang kelapa lapuk atau disekeliling kulit bagian dalam kelapa lapuk menjadi bahaya laten bagi upaya pengendalian kumbang tanduk.  Bila upaya pengendalian hanya ditujukan kepada imago/kumbang dewasa, seringkali seolah olah populasi kumbang telah menurun drastis akan tetapi tidak lama kemudian populasi kumbang meningkat kembali dengan sangat pesat.  Peningkatan populasi secara mendadak tersebut dimungkinkan ketika Larva yang berada di ujung batang kelapa lapuk atau di bagian dalam batang kelapa lapuk telah berhasil bermetamorfosa menjadi kumbang dewasa (imago).

  1. Penggunaan Bahan Insektisida Kimia

Penggunaan bahan bahan kimia sintetis merupakan alternative terakhir dalam teknik pengendalian hama secara terpadu. Untuk pengendalian hama kumbang tanduk kelapa (Oryctes sp) secara kimia dapat menggunakan insektisida Marshal 5 G.  Insektisida ini merupakan insektisida sistemik yang mengandung bahan aktif Karbosulfan 5 % sangat efektif mengendalikan kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) dan telah mendapatkan rekomendasi dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Penggunaan Marshal 5 G sangat dianjurkan untuk melaksanakan pencegahan sebelum kumbang tanduk (oryctes rhinoceros) menyerang. Dosis penggunaanya dengan cara ditabur di bagian pucuk tanaman dengan dosis 9 – 15  gr/pucuk/pangkal pelepah muda dengan interval 3 minggu s/d 1 bulan.  Marshal 5 G selain dapat meracuni kumbang tanduk yang memakan bagian pucuk yang telah di beri perlakuan juga dapat mencegah serangan disebabkan bahan aktif Marshal 5 G juga dapat mengeluarkan uap yang dapat mencegah terjadinya serangan. Keunggulan Marshal 5 G antara lain :

  • Bahan aktif marshal 5 G bersifat kontak dan sistemik, sehingga dapat lebih cepat mengendalikan kumbang tanduk.
  • Ramah lingkungan dan selektif terhadap hama sasaran dan tidak membunuh musuh alami hama.
  • Formula ampuh Marshal 5 G dengan dosis 9 – 15 gr/pohon dapat mengurangi serangan kumbang tanduk hingga 80 % dalam waktu 4 – 8 Minggu.

KESIMPULAN

  • Penggunaan bahan-bahan kimia sintetis pada konsep pengendalian hama terpadu adalah alternatif yang paling akhir yaitu ketika tingkat serangan hama sudah berada pada tahapan yang cukup tinggi di atas ambang ekonomi.  Kenyataan di lapangan sering kali Petani dalam penggunaan pestisida an organik justru menjadi opsi utama didalam upaya pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT).
  • Pengendalian atas serangan hama kumbang tanduk kelapa (Oryctes rhinoceros) yang dilakukan secara tidak terpadu, parsial dan baru dimulai pada saat serangan yang sudah relatif tinggi seringkali tidak memberikan hasil yang memuaskan. Pengendalian yang dilaksanakan pada tahapan pencegahan perlu di pertimbangkan untuk meminimalisir pengeluaran biaya.
  • Kunci keberhasilan pengendalian secara terpadu sesungguhnya tergantung kepada keefektifan upaya early warning system (EWS) yang dilakukan oleh Petugas Pengamat Hama (UPPT) dilapangan bersama-sama dengan petani pemilik.  Hasil kegiatan monitoring dari petugas UPPT dan Petani pemilik akan dapat memetakan kondisi perkembangan status serangan dari organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Sehingga upaya pengendalian (preventif dan kuratif) dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.

 

DAFTAR  PUSTAKA

Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Pontianak. 2019. Laporan Perkembangan OPT Perkebunan di Kalimantan Barat      Triwulan II Tahun 2019. Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Pontianak.

Dinas Perkebunan Kalbar Dalam Angka. 2017. Luas Areal dan Produksi Komodoti Kelapa Dalam (On Line) http://www.disbun-kalbar.go.id/Disbun/index.php/statistik/menu-harga-komoditi-perkebunan/menu-harga-kelapa dalam. Diakses tanggal 20 Desember 2019.

Direktorat Jendral Perkebunan, 2007. Pedoman Pengamatan dan Pengendalian OPT Utama Tanaman Kelapa. Jakarta.

Emir, D. B., 2012.  Hama dan Penyakit Penting Kelapa. Brawijaya University press. Malang.

Hartanto Tri, 2019.  Pengendalian Terpadu Kumbang Tanduk Kelapa (Oryctes rhinoceros) di Perkebunan kelapa sawit. http://www.antakowisena.com/artikel/937.html.  Diakses  Desember 2019

Jelfina C. Alouw. 2007. Feromon dan Pemanfaatannya dalam Pengendalian Hama Kumbang Kelapa Oryctes rhinoceros (Coleoptera:Scarabaeidae) Buletin Palma. Buletin Palma No. 32, Juni 2007.

Kalshoven, D., 1981. Pesticide Resistance Occurs When a Population of Pests. Oxford University press. England.

Purba. Y, Dkk. 2005., Hama-hama pada Kelapa Sawit, Buku 1 Serangga Hama pada Kelapa Sawit. PPKS, Medan.

Sitorus.H. 2011. Perbanyakan Sederhana Jamur Metarhizium anisopliae. Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Pontianak.

Suhardiman, 1996. Situasi Hama Dan Penyakit Tanaman Kelapa Di Indonesia  Seminar Proteksi Tanaman Kelapa, Bogor, 8-10 Mei 1986 . PDII – umu

Untung, K., 2001. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University Press, Yokyakarta

 


Agenda

Kritik Dan Saran

Pengunjung

Pengunjung hari ini : 57
Total pengunjung : 77447

Polling

Survey kepuasan website edit

Apakah website ini bermanfaat ?
Sangat Bermanfaat
Cukup Bermanfaat
Kadang Bermanfaat
Kurang Bermanfaat
Kurang Faedah

Galeri Foto

Galeri Video

Copyright © 2017 Direktorat Jenderal Perkebunan - Kementerian Pertanian
Jl. Budi Utomo No.57, Pontianak - Kalimantan Barat 78241 - Indonesia
Telp. : (0561) 883632 - Fax : (0561) 882784. Email : balaiproteksipontianak@pertanian.go.id