KEMENTERIAN PERTANIAN - DIREKTORAT JENDRAL PERKEBUNAN

BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN PONTIANAK

25/05/2020 - 12:53 PM

MENGENAL PESTISIDA, KEGUNAAN DAN BAHAYANYA

Di Publish Pada : 20/01/2020 | Kategori : Jadwal

MENGENAL PESTISIDA, KEGUNAAN  DAN BAHAYANYA

Hamdani

(POPT Ahli Madya BPTP Pontianak)

 

Pestisida atau pembasmi hama adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, atau membasmi organisme pengganggu. Pestisida berasal dari kata   pest  yang berarti hama  yang diberi akhiran cide yang berarti pembasmi.  Jasad sasaran dari penggunaan pestisida bermacam-macam, seperti serangga, gulma, burung, mamalia, ikan atau mikroba yang dianggap mengganggu. Pestisida merupakan bahan beracun yang memiliki potensi menimbulkan dampak negative terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati, menyebabkan resistensi, resurjensi, timbulnya hama baru serta gangguan kesehatan manusia dan mahluk hidup lainnya, sehingga harus dikelola dengan penuh kehati hatian. Dalam praktik sehari hari, umumnya pestisida digunakan bersama-sama dengan bahan lainnya seperti dicampur dengan minyak untuk melarutkannya, air pengencer, tepung untuk mempermudah dalam penyebaran dan penyemprotannya.

Berdasarkan pasal 4 Bab III Peraturan  Menteri Pertanian Nomor 43 Tahun 2019 tentang  Pendaftaran Pestisida, dinyatakan bahwa pestisida diklasifikasikan berdasarkan atas bahan aktif, bahaya dan lingkup penggunaan. Berdasarkan bahan aktif, pestisida diklasifikasikan menjadi pestisida sintetik dan pestisida alami. Pestisida sintetik merupakan pestisida berbahan aktif 1 (satu) atau lebih senyawa sintetik. Sedangkan yang dimaksud pestisida alami adalah pestisida berbahan aktif  berasal dari makhluk hidup atau mineral alami. Pestisida alami terdiri atas pestisida biologi, pestisida metabolit dan pestisida mineral. Pestisida biologi berbahan aktif mikro organisme atau virus, pestisida metabolit berbahan aktif senyawa sekunder dari makhluk hidup sedangkan pestisida mineral adalah pestisida berbahan aktif mineral alami.

Berdasarkan organisme sasarannya, maka pestisida digolongkan menjadi Herbisida (sasarannya gulma), Arbosida (sasarannya semak belukar), Algisida atau Algasida (sasarannya Alga), Avisida (sasarannya burung), Bakterisida (sasarannya Bakteri), Fungisida (sasarannya fungi), Insektisida (sasarannya serangga), Mitisida atau Akarisida (sasarannya Tungau), Molluskisida (sasarannya Siput), Nematisida (sasaranya Nematoda), Rodentisida (sasarannya Rodent/Pengerat), Virusida (sasarannya Virus), Larvisida (sasarannya Ulat/Larva), Silvisida (sasarannya Pohon Hutan), Ovisida (sasarannya Telur), Pisida (sasarannya Ikan Mujahir), Termitisida (sasarannya Rayap), Predasida (sasaranya Predator atau Hewan Vertebrata)

Penggunaan Pestisida Ditingkat Petani

Tidak bisa dipungkiri bahwa petani dalam mengendalikan berbagai OPT di lahan perkebunannya cenderung masih menggunakan bahan kimia sintetis, karena dianggap lebih cepat dalam mengatasi permasalahan OPT di lahan usahataninya. Upaya pemerintah melalui lembaga yang kompeten dalam membina petani telah cukup intens, seperti Sekolah Lapang PHT (SL-PHT), Demplot PHT bahkan kegiatan penerapan PHT (PPHT) di berbagai komoditi, yang pada intinya mengajak petani kearah lebih bijaksana dalam menggunakan pestisida. Dari hasil pengamatan, masih banyak petani yang belum memahami kegunaan dan cara memilih pestisida yang benar-benar tepat sasaran untuk OPT. Kebanyakan dari mereka hanya ikut-ikutan dari mulut ke mulut antarpetani.

Memilih Jenis Pestisida Berdasarkan Cara Kerja.

Mengetahui perbedaan cara kerja atau mekanisme kerja pestisida dapat membantu petani dalam menentukan jenis pestisida yang tepat dalam proses pencegahan dan pengendalian OPT. Karena pada dasarnya, masing-masing pestisida mempunyai cara yang berbeda-beda untuk meracuni sasarannya. Pestisida dalam membunuh hama sasaran  menggunakan dua mekanisme, yaitu meracuni hama secara langsung dan meracuni tanaman terlebih dahulu baru hama akan keracunan setelah makan tanaman tersebut.

Berdasarkan cara kerja, pestisida yang sering digunakan petani di lapangan adalah sebagai berikut :

Pestisida Racun Sistemik

Jenis pestisida seperti ini cara kerjanya tidak langsung membunuh OPT. Racun pestisida setelah disemprotkan akan menempel pada tanaman. Kemudian racun ini akan terserap ke dalam jaringan tanaman melalui daun atau akar. Baru setelah hama memakan tanaman akan teracuni.

Yang termasuk pestisida racun sistemik umumnya adalah insektisida, fungisida dan herbisida.

  • Contoh insektisida sistemik misalnya insektisida berbahan aktif dimehipo, imidakloprid, fipronil, asefat, dll.
  • Contoh fungisida sistemik adalah fungisida berbahan aktif karbendazim, difenokonazol, dll.
  • Contoh herbisida sistemik adalah herbisida berbahan aktif glifosat, 2,4-D, metsulfuron metal, dll.

Pestisida Racun Kontak

Pestisida ini akan bekerja dengan baik jika terkena atau kontak langsung dengan OPT sasaran. Racun pada pestisida tersebut akan masuk ke jaringan tubuh organisme target. Selanjutnya akan terjadi gangguan fungsi fisiologis organisme target yang berakibat pada kematian.

Yang termasuk pestisida racun kontak umumnya adalah insektisida, fungisida dan herbisida. Untuk jenis insektisida, penggunaan racun kontak sangat efektif untuk mengendalikan serangga yang menetap dan tidak tersembunyi, seperti hama pengisap buah lada (Dasynus piperis), hama pengisap bunga lada (Diconocoris hewiti), ulat, kutu daun, dan semut.

Racun ini kurang bekerja baik terhadap serangga-serangga yang mempunyai mobilitas tinggi atau tersembunyi, seperti lalat, kutu kebul dan belalang atau yang berada dalam jaringan tanaman seperti Penggerek batang lada (Lophobaris piperis), Penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella), penggerek cabang/batang kakao (Zeuzera sp) dan lain lain.

  • Contoh insektisida racun kontak misalnya yang berbahan aktif golongan piretroid (sipermetrin, deltametrin), klorpirifos, bpmc, dll.
  • Contoh fungisida kontak misalnya yang berbahan aktif mankozeb, maneb, zineb, ziram, dll.
  • Contoh herbisida kontak adalah yang berbahan aktif parakuat.

Racun Lambung

Racun yang terdapat dalam insektisida ini baru bekerja jika bagian tanaman yang telah disemprot dimakan oleh hama. Di lambung inilah kerja racun mulai bereaksi. Racun lambung ini biasanya berhubungan dengan racun pestisida sistemik.

Racun Pernapasan

Insektisida jenis ini dapat membunuh serangga jika terhisap melalui organ pernafasan hama. Racun ini sering digunakan untuk mengendalikan hama gudang. Jenis racun ini sering disebut sebagai racun fumigan.

Bahaya bagi kesehatan

Pestisida dapat menyebabkan efek akut dan jangka panjang bagi pekerja pertanian yang terpapar. Paparan pestisida dapat menyebabkan efek yang bervariasi, mulai dari iritasi pada kulit dan mata hingga efek yang lebih mematikan yang mempengaruhi kerja saraf, mengganggu sistem hormon reproduksi, dan menyebabkan kanker. Sebuah studi pada tahun 2007 pada limfoma non-Hodgkin dan leukimia menunjukan hubungan positif dengan paparan pestisida. Bukti yang kuat juga menunjukan bahwa dampak negatif dari paparan pestisida mencakup kerusakan saraf, kelainan bawaan, kematian janin, dan gangguan perkembangan sistem saraf. WHO dan UNEP memperkirakan bahwa setiap tahunnya 3 juta pekerja pertanian mengalami keracunan pestisida, dan 18000 diantaranya meninggal Dan kemungkinan 25 juta orang mengalami gejala keracunan pestisida ringan setiap tahunnya. Bunuh diri dengan meracuni diri sendiri dengan pestisida merupakan cara bunuh diri paling populer ketiga di dunia. Wanita pada usia kehamilan 8 minggu yang hidup dekat dengan kebun yang disemprot pestisida organoklorin jenis  dikofol dan endosulfan  memiliki kemungkinan mendapatkan anak yang lahir dalam kondisi autis.

Efek bagi lingkungan

Penggunaan pestisida meningkatkan jumlah permasalahan pada lingkungan. Lebih dari 90% insektisida dan 95% herbisida yang disemprotkan menuju ke tempat yang bukan merupakan target. Arus pestisida terjadi ketika pestisida yang tersuspensi di udara sebagai partikel terbawa oleh angin ke wilayah lain, sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran. Pestisida merupakan masalah utama polusi air  dan beberapa pestisida merupakan polutan organik persisten yang menyebabkan kontaminasi tanah.

Pestisida juga mengurangi keanekaragaman hayati pertanian di tanah sehingga mengurangi laju pengikatan nitrogen, hilangnya polinator, menghancurkan habitat (terutama habitat burung), dan membahayakan satwa terancam. Seiring waktu, spesies hama dapat mengembangkan ketahanan terhadap pestisida sehingga dibutuhkan penelitian untuk mengembangkan pestisida jenis baru.

Karena pestisida hidrokarbon terklorinasi larut di dalam jaringan lemak dan tidak diekskresikan, organisme yang terpapar akan mempertahankan senyawa tersebut sepanjang hidupnya. Akumulasi akan terjadi pada rantai makanan, di mana pestisida akan terkonsentrasi pada pemuncak rantai makanan. Di habitat laut, konsentrasi pestisida ada pada ikan karnivora, terutama ikan pemangsa burung dan mamalia. Distilasi global adalah proses di mana pestisida yang menguap mengalir dari lingkungan yang lebih panas ke lingkungan yang lebih dingin, terutama kutub dan puncak gunung. Pestisida ini dapat terbawa oleh angin dan terkondensasi, kembali ke tanah sebagai hujan atau salju.

Dalam mengurangi dampak negatif ini, pestisida diharapkan mampu terdegradasi atau setidaknya tidak menjadi aktif setelah masuk ke lingkungan di luar lahan target penyemprotan. Inaktivasi dapat dilakukan dengan mendayagunakan sifat kimia dari senyawa atau memanfaatkan proses yang terjadi di lingkungan. Adsorpsi pestisida oleh tanah juga dapat menghambat pergerakan pestisida, tetapi membahayakan keanekaragaman hayati di dalam tanah.

KESIMPULAN

Dengan mengenal pestisida, kegunaan  dan bahayanya, kita akan tahu bahwa:

  • Pestisida sistemikefektif digunakan untuk membunuh hama tanaman yang ada didalam jaringan tanaman atau pada hama yang tipe serangannya adalah menghisap atau menusuk tanaman. Misalnya hama penggorok daun, penggerek batang, penggerek buah, trips dan kutu.
  • Pestisida kontak, sistemikdan lambung efektif digunakan untuk mengendalikan hama tanaman dengan mobilitas tinggi, seperti belalang, kutu, lalat buah dan lain sebagainya. Karena pada saat penyemprotan kemungkinan hama tersebut tidak ada di tempat atau terbang, dan beberapa waktu kemudian akan kembali. Dan hama akan mati jika memakan bagian tanaman yang masih mengandung residu.
  • Racun pernapasanefektif digunakan untuk mengendalikan hama mobilitas tinggi, karena walaupun tidak terkena secara langsung, hama akan mati jika menghirup partikel mikro pestisida yang terbang di udara.
  • Penggunaan pestisida di lingkungan perkebunan disinyalir semakin meningkat dan diaplikasikan dengan teknik yang kurang sesuai. Kondisi ini memberi peluang terpaparnya para operator dengan pengaruh negative dari pestisida. Untuk itu hendaknya para petani menggunakan pestisida pada pilihan terakhir, diaplikasikan secara tepat dan tentunya harus menggunakan alat pelindung diri (APD)

 

DAFTAR PUSTAKA

Inspirasi Pertanian, 2018. Nama-nama Pestisida yang Beredar Luas Di Pasaran. https://www.inspirasipertanian.com/2018/02/nama-nama-pestisida-yang-beredar-luas.html. Diakses pada tanggal 15 Januari 2020

Kementerian Pertanian, 2019. Peraturan  Menteri Pertanian Nomor 43 Tahun 2019 tentang  Pendaftaran Pestisida. Diakses pada tanggal 10 Januari 2020 http://ditlin.tanamanpangan.pertanian.go.id/assets/front/uploads/document/Permentan%20No.%2043%20Tahun%202019.pdf

Mitalom.Com, 2015.  Jenis-Jenis Pestisida Berdasarkan Mekanisme Kerjanya. https://mitalom.com/jenis-jenis-pestisida-berdasarkan-mekanisme-kerjanya/ Diakses   10 Januari 2020

 


Agenda

Kritik Dan Saran

Pengunjung

Pengunjung hari ini : 55
Total pengunjung : 77445

Polling

Survey kepuasan website edit

Apakah website ini bermanfaat ?
Sangat Bermanfaat
Cukup Bermanfaat
Kadang Bermanfaat
Kurang Bermanfaat
Kurang Faedah

Galeri Foto

Galeri Video

Copyright © 2017 Direktorat Jenderal Perkebunan - Kementerian Pertanian
Jl. Budi Utomo No.57, Pontianak - Kalimantan Barat 78241 - Indonesia
Telp. : (0561) 883632 - Fax : (0561) 882784. Email : balaiproteksipontianak@pertanian.go.id