KEMENTERIAN PERTANIAN - DIREKTORAT JENDRAL PERKEBUNAN

BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN PONTIANAK

24/10/2021 - 05:12 PM

WASPADAI SERANGAN ULAT BULU PADA TANAMAN KAKAO!

Di Publish Pada : 04/08/2021 | Kategori : Jadwal

WASPADAI SERANGAN ULAT BULU PADA TANAMAN KAKAO!

Oleh: Ir. Evy Taviana PS., M.Si.

Hama ulat pemakan daun pada tanaman kakao seringkali terabaikan oleh petani maupun petugas pengamat. Pada umumnya, titik berat pengamatan mereka hanya pada hama dan penyakit yang menyerang buah karena secara kasat mata kerusakan buah sudah pasti akan menimbulkan penurunan produksi. Ketidaktelitian terhadap adanya serangan ulat pada saat populasi ulat masih rendah, akan berakibat suatu saat populasi ulat akan meningkat dengan sangat cepat sehingga menyebabkan gugurnya daun (defoliasi) yang serius. Kehilangan daun dengan intensitas tinggi akan menyebabkan tanaman mengalami penurunan produksi pada tahun tersebut sampai tahun berikutnya, tergantung pada tingkat keparahan defoliasi (Wood et al., 1972). Untuk mencegah hal ini terjadi diperlukan monitoring secara rutin dan teliti agar kehadiran hama segera diketahui secara dini.

Pada tahun 2011 terjadi ledakan populasi ulat bulu yang fenomenal menyerang tanaman mangga di Probolinggo, Jawa Timur. Tahun 2020 serangan ulat bulu dilaporkan menyerang perumahan di Ciputat Tangerang Selatan. Sementara sekitar Maret tahun 2021 ulat bulu juga dilaporkan menyerang tanaman Waru Landak dan menyebar ke perumahan warga Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.

Ulat bulu merupakan hama sekunder. Namun demikian, hama sekunder pun dalam waktu tertantu dapat menimbulkan kerusakan serius pada areal yang luas akibat campur tangan manusia, seperti perubahan teknik budi daya, varietas yang ditanam, ataupun penggunaan insektisida yang kurang bijaksana (Pena et al., 1998)

Ledakan serangan ulat bulu yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya

1). keberadaan hama tersebut tidak terdeteksi sejak dini,

2). faktor iklim dan lingkungan yang sesuai untuk perkembangbiakan ulat, dan

3). terjadi ketidakseimbangan ekosistem.

Pengaruh dari salah satu atau lebih faktor ataupun akumulasi dari ketiga faktor tersebut menyebabkan perubahan status hama dari hama sekunder menjadi hama utama.

Ulat pemakan daun dapat menyerang hampir setiap waktu karena ketersedian pakan yang selalu ada di lapangan. Hasil pengamatan dan identifikasi di kebun koleksi BPTP Pontianak ditemukan adanya ulat pemakan daun dari Famili Lymantridae yang dikenal sebagai ulat bulu. Ulat ini, sesuai dengan namanya, memiliki ciri fisik yang khas, yakni rambut-rambut pada bagian punggung (dorsal) di sepanjang tubuhnya.

Beberapa jenis ulat bulu memiliki mekanisme penyamaran dan perlindungan diri yang efektif terhadap gangguan lingkungan. Sebagai contoh, saat ulat bulu siap berkepompong, ulat menutupi dirinya dengan rambut-rambut yang ada pada tubuhnya untuk membuat kokon (rumah pupa) kemudian ulat bermetamorfosis menjadi kepompong di dalam kokon tersebut. Selain itu, saat ngengat bertelur, ngengat menyelimuti telur-telur yang baru diletakkan dengan buih yang segera mengeras dan menempelkan rambut-rambut yang dikoleksi dan dikirimkan melalui ujung perut (abdomen) untuk menyamarkan telur-telurnya (Schaefer, 1989).

Daur hidup ulat bulu berlangsung selama 4-7 minggu, mulai dari telur kemudian bermetamorfosis menjadi ulat, kepompong, dan ngengat. Stadium ulat menjadi kepompong berlangsung 9 hari. Akibat perubahan cuaca yang ekstrem, terutama pada peralihan menuju musim hujan, daur hidup ulat bulu dapat dipercepat kurang dari 4 minggu dan stadium ulat dapat dapat dipercepat kurang dari 9 hari (Baliardi dkk. 2021) 

Ulat bulu yang ditemukan pada tanaman kakao di kebun koleksi BPTP Pontianak merupakan jenis Dasychira inclusa. Berikut adalah dokumentasi hasil pengamatan lapangan   

Jenis D. inclusa mudah dikenali dari bentuk larva yang seolah menggendong sesuatu pada keempat abdomen bagian atas, sehingga dikenal dengan nama ulat bantal atau ulat ransel atau ulat jaran. Selain itu, ulat ini juga mudah dibedakan melalui jenis ulat bulu lainnya karena pupanya membentuk kokon sebagai pelindung (Holloway et al. 1987).

Imago Dasychira inclusa mempunyai lebar rentangan sayap sekitar 16 mm, memiliki siklus hidup sekitar 51-57 hari (Hartley, 1979). Telur Dasychira inclusa berwarna putih, berbentuk seperti sarang lebah. Peletakan telur antara satu sama lain saling tindih dan menetas setelah ± 9 hari hingga menjadi ulat. Dari fase ulat hingga menjelang fase pupa (pre-pupa) berlangsung 35 - 40 hari. Pupa berada di dalam kokon yang berbentuk seperti serabut kelapa halus yang biasanya berada di bawah daun. Waktu yang dibutuihkan dari fase pupa hingga menjadi imago adalah ± 8 hari (Tumpal, 2014).

Entwistle, P.F. (1972) melaporkan Ulat bulu Dasychira  sp. menyerang tanaman kakao di Ghana, Nigeria, dan Republik Kongo pada tahun 1963 dengan menyebabkan kerusakan yang berat. Larva terutama menyerang daun muda, pucuk dan kulit buah, bahkan serangan pada beberapa tanaman menyebabkan rusaknya buah dengan gejala berupa garis-garis tipis atau tebal berbentuk oval pada kulit buah. Serangan ulat pada buah yang masih kecil mengakibatkan hilangnya buah akibat dilalap oleh ulat sampai ke tangkai atau menjyebabkan buah mati hitam (die back) akibat luka yang terinfeksi oleh Phytophthora palmivora.

Pengendalian ulat D. inclusa dapat dilakukan secara teknis, mekanis, hayati, ataupun kimiawi.

1. Pengendalian Secara Teknis

Pengendalian dilakukan melalui teknis budidaya yang benar, seperti menjaga sanitasi kebun, mengelola habitat kebun kakao dengan cara menambah keragaman klon kakao, melakukan tumpang sari dengan tanaman lain, memangkas cabang-cabang yang tidak produktif dan mengganti tanaman kakao yang sudah tua karena rentan terhadap serangan ulat bulu.

2. Pengendalian Secara Mekanis

Pengendalian dilakukan secara manual, dengan cara menangkap ulat, telur, maupun kepompong, lalu dimusnahkan. Cara ini lebih efektif dilakukan pada malam hari dengan menempatkan perangkap lampu di area penanaman untuk menjebak ngengat.

3. Pengendalian Secara Hayati

Pengendalian dilakukan dengan menggunakan agens hayati, seperti Nuclear Polyhidrosis Virus (NPV), B. bassiana, dan Metarhizium sp. Aplikasi agens hayati ini sebaiknya dilakukan pada sore hari (pukul 16.00–17.00). Dapat juga digunakan parasitoid yang bersifat umum, seperti Brachymeria sp., Xanthopimpla sp., Trichogrammatoidea sp., Telenomus sp., dan lalat Tachinidae. Pelepasan parasitoid ini menggunakan botol bekas air mineral yang tertutup atau dipasang dengan posisi terbalik untuk menghindarkan parasitoid dari air hujan. Selain itu, dapat juga digunakan predator, seperti pemasangan koloni buatan semut rangrang yang dibuat dari bambu atau daun-daun kering pada tanaman terserang

4. Pengendalian Secara Kimiawi

Pengendalian ulat bulu secara kimiawi harus dilakukan secara tepat. Penggunaan yang melebihi dosis justru dapat meningkatkan resistensi atau tingkat kekebalan ulat terhadap jenis bahan aktif tertentu. Oleh sebab itu, setiap melakukan penyemprotan pestisida harus dilakukan penggiliran bahan aktif denan tujuan agar tingkat resistensi ulat bulu terhadap bahan aktif tertentu dapat diputus.

 

Referensi

Baliadi, Y., Bedjo, dan Suharsono . 2012. Ulat Bulu Tanaman Mangga di Probolinggo: Identifikasi, Sebaran, Tingkat Serangan, Pemicu, dan Cara Pengendalian. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012

Entwistle.1972. Pest of Cocoa. Longman. Bristol. Chapter 14: pp 363-444 Hartley, 1979

Pena, J.E., A.I. Mohyuddin, and M. Wysoki. 1998. A review of the pest management situation in mango agroecosystems. Phytoparasitica 26: 129−148.

Schaefer, P. 1989. Diversity in form, function, behavior, and ecology, pp. 1-9. In: USDA Forest Service (ed.). Proceedings, Lymantriidae: a comparison of features of New and Old World tussock moths. Broomall, PA

Tumpal, P. 2014. Materi P & D Clinics, Research and Depelopment Bahilang Asian Agri , Medan

 

 (Unduh artikel bergambar disini)


Agenda

Kritik Dan Saran

Pengunjung

Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 171964

Polling

Survey kepuasan website edit

Apakah website ini bermanfaat ?
Sangat Bermanfaat
Cukup Bermanfaat
Kadang Bermanfaat
Kurang Bermanfaat
Kurang Faedah

Galeri Foto

Galeri Video

Copyright © 2017 Direktorat Jenderal Perkebunan - Kementerian Pertanian Bangbf Sex Videos Xxx
Jl. Budi Utomo No.57, Pontianak - Kalimantan Barat 78241 - Indonesia
Call center & WA : 0821-4981-5100; - Fax : (0561) 882784. Email : balaiproteksipontianak@pertanian.go.id