KEMENTERIAN PERTANIAN - DIREKTORAT JENDRAL PERKEBUNAN

BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN PONTIANAK

24/10/2021 - 05:47 PM

Uji Antagonisme Trichoderma harzianum Terhadap Jamur Akar Putih

Di Publish Pada : 03/09/2021 | Kategori : Jadwal

Oleh: Ririn E. Manurung, S.Si

Jamur Rigidoporus sp. merupakan patogen penyebab penyakit jamur akar putih (JAP) pada tanaman karet. JAP dapat menyerang tanaman karet di pembibitan, kebun entres, tanaman belum menghasilkan (TBM), dan tanaman menghasilkan (TM) melalui perakaran (Pawirosoemardjo, 2007). Salah satu cara pengendalian penyakit JAP yaitu pengendalian secara hayati dengan menggunakan jamur antagonis.

Jamur antagonis merupakan kelompok jamur yang dapat menekan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan patogen. Penggunaan jamur antagonis untuk mengendalikan JAP memiliki beberapa kelebihan, antara lain karena secara alamiah jamur ini hidup di dalam tanah sehingga mudah beradaptasi, umumnya berfungsi sebagai dekomposer bahan organik, dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.

Jamur antagonis mampu menghambat perkembangan patogen melalui berbagai mekanisme, antara lain melalui kompetisi ruang dan nutrisi, antibiosis dengan menghasilkan antibiotik tertentu berupa senyawa kimia yang mudah menguap (volatile) dan tidak menguap (non volatile) (Ajith & Lakshmidevi, 2010; Vinale et al., 2008) atau lytic enzym (kitinase, protease, dan glukanase), parasitisme dengan melilit hifa patogen, dan induksi ketahanan tanaman (Agrios, 2005). Mekanisme penghambatan dari jamur-jamur tersebut terhadap Rigidoporus pada tanaman karet berbeda-beda. Hasil penelitian Kaewchai & Soytong (2010) menunjukkan bahwa T. hamatum dan T. harzianum mampu menekan pertumbuhan Rigidoporus sp melalui mekanisme kompetisi.

Gambar 1. T: isolat jamur T. harzianum; J: isolat jamur Rigidoporus sp

 

Mekanisme Antagonisme

Pengamatan mekanisme antagonisme dilakukan secara makroskopis melalui pengamatan langsung pada biakan ganda (dual culture) secara mikroskopis dengan cara mengambil potongan hifa 1 cm × 1 cm di daerah kontak kedua jamur, kemudian diletakkan pada gelas obyek dan diamati di bawah compound microscope.

Mekanisme interaksi yang terjadi antara jamur patogen dengan jamur antagonis didasarkan pada kriteria yang dikemukakan oleh Trigiano, Windham, & Windham (2008), yaitu:

  1. Kompetisi, apabila koloni jamur antagonis menutupi koloni patogen dan pertumbuhan jamur antagonis lebih cepat untuk memenuhi cawan petri berdiameter 9 cm. Pada daerah kontak, hifa patogen mengalami lisis.
  2. Antibiosis, apabila terbentuk zona kosong di antara jamur patogen dengan jamur antagonis, terdapat perubahan bentuk hifa patogen, dan dihasilkan pigmen di permukaan bawah koloni jamur antagonis.
  3. Parasitisme, apabila hifa jamur antagonis tumbuh di atas hifa patogen, pada daerah kontak ditemukan hifa jamur antagonis melilit hifa patogen, serta mengalami lisis.

 

Uji Pertumbuhan Isolat T. harzianum dan Rigidoporus sp

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pertumbuhan diameter koloni isolat T. harzianum pada media PDA lebih cepat daripada isolat Rigidoporus sp (Gambar 2). Parameter pertumbuhan koloni yang diamati adalah diameter koloni jamur yang diukur setiap hari sampai terdapat koloni jamur yang memenuhi cawan petri.

Pertumbuhan T. harzianum sangat cepat, sehingga dalam waktu 4 hari setelah inokulasi (hsi) sudah memenuhi cawan petri berdiameter 9 cm, sedangkan isolat Rigidoporus sp memenuhi cawan petri 5 hari setelah inokulasi (hsi).

Jamur marga Trichoderma diketahui mempunyai kemampuan tumbuh yang cepat dan mudah berkembang di berbagai media. Pertumbuhan koloni dan spora yang berlimpah menyebabkan Trichoderma mudah diisolasi walaupun dengan metode yang sederhana.

Gambar 2;

  1. Isolat jamur Trichoderma harzianum 1 hsi
  2. Isolat jamur Trichoderma harzianum 3 hsi
  3. Isolat jamur Rigidoporus sp 1 hsi
  4. Isolat jamur Rigidoporus sp 3 hsi

Gambar 3. Rata-rata pertumbuhan diameter koloni isolat T. harzianum (TH), isolat Rigidoporus sp (JAP) di media PDA

Pengamatan secara visual menunjukkan bahwa pertumbuhan T. harzianum pada media PDA terlihat sirkuler, bagian tengah putih kehijauan dan bagian luar hijau tua (Gambar 1T & 2b), sementara Rigidoporus sp tumbuh dengan koloni berwarna putih dan tebal, terlihat seperti kapas setelah memenuhi cawan petri (Gambar 1. J & 2d).

Gambar 3 menunjukkan adanya perbedaan rata-rata pertumbuhan diameter koloni pada masing-masing isolat yaitu T. harzianum (TH) dan isolat jamur akar putih (JAP). Hal ini menunjukkan pertumbuhan TH lebih cepat dibandingkan JAP. Media PDA memiliki kandungan nutrisi karbohidrat, protein, glukosa dan agar. Komposisi PDA terdiri dari 200 g kentang, 15 g agar, dan 20 g dextrose. Tingginya komposisi nutrisi pada media PDA dapat memenuhi kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan koloni sehingga dalam waktu inkubasi 4 hari isolat TH sudah memenuhi cawan petri berdiameter 9 cm.

Pada isolat T. harzianum di hari pertama memiliki pertumbuhan diameter yang lebih besar dari Rigidoporus sp dengan rata-rata sebesar 2,6 cm. Pada hari kedua inkubasi terjadi perbedaan rata-rata diameter yang cukup besar hingga hari ketiga, di hari ke-4 T. harzianum tumbuh hampir memenuhi cawan petri yaitu dengan rata-rata diameter koloni 8,4 cm sementara Rigidoporus sp tumbuh dengan rata-rata sebesar 6,1 cm.

Kecepatan pertumbuhan jamur antagonis merupakan indikator mekanisme kompetisi ruang dan nutrisi dengan patogen. Semakin cepat pertumbuhan jamur antagonis maka semakin efektif menekan pertumbuhan patogen. Menurut Djafaruddin (2000) kecepatan pertumbuhan koloni jamur merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan potensinya sebagai agens hayati terhadap patogen. Elbert, Taylor, Andrea, & Poschi, (2007) menyatakan bahwa pertumbuhan koloni jamur yang dihasilkan memiliki peranan penting dalam proses siklus hidupnya karena spora/konidia merupakan alat reproduksi aseksual, penyebaran, dan pertahanan hidup jamur pada lingkungannya.

 

Uji Daya Hambat Jamur Antagonis T. harzianum terhadap Patogen Rigidoporus sp

Hasil pengujian daya hambat jamur antagonis T. harzianum terhadap patogen menunjukkan bahwa isolat jamur antagonis yang diuji memiliki daya hambat terhadap patogen penyebab penyakit JAP.

Gambar 4.  Penghambatan jamur T. harzianum terhadap patogen Rigidoporus sp (4 hsi).

T. harzianum bersifat sebagai antagonis secara in vitro dengan terbentuknya zona penghambatan yang merupakan indikasi awal terlibatnya antibiotik dan antagonisme terhadap jamur Rigidoporus sp pada media PDA. Lambatnya pertumbuhan diameter koloni Rigidoporus sp pada perlakuan pemberian jamur antagonis T. harzianum diduga adanya senyawa volatil yang dihasilkan oleh jamur antagonis tersebut yang bersifat fungistatik atau dapat menghambat pertumbuhan jamur tanpa mematikannya.

T. harzianum mampu memproduksi sejumlah senyawa antibiotik, termasuk di dalamnya enzim yang mampu mendegradasi dinding sel, dan sejumlah senyawa sekunder, dimana produksi enzim tersebut sangat dipengaruhi oleh substrat. Enzim hidrolitik yang dihasilkan oleh T. harzianum yaitu kitinase, selulase, proteinase serta menghasilkan β-1,3-glukanase tertinggi dalam media pertumbuhan (Kumar et al., 2012).

Gambar 5.  Rata-rata daya hambat isolat TH terhadap isolat JAP pada media PDA

Persentase laju penghambatan T. harzianum terhadap Rigidoporus sp pada media PDA diperoleh rata-rata penghambatan 36,8% pada hari ke-4 setelah inokulasi, 44 % pada hari ke-5 setelah inokulasi. Penghambatan pertumbuhan diameter koloni isolat Rigidoporus sp diduga disebabkan oleh pertumbuhan koloni T. harzianum lebih cepat dan kemampuan kompetisi lebih tinggi dibanding dengan pertumbuhan koloni Rigidoporus sp. Pada hari ke-6 setelah inokulasi rata-rata penghambatan sebesar 49,9% sementara di hari ke-7 setelah inokulasi sebesar 52,4%. Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama maka semakin besar daya hambat jamur antagonis terhadap patogen.

Berdasarkan hasil uji daya hambat T. harzianum terhadap patogen Rigidoporus sp pada cawan petri secara in-vitro, dapat dilihat bahwa T. harzianum efektif menghambat laju pertumbuhan koloni Rigidoporus sp. Purwantisari dan Hastuti (2009) melaporkan bahwa T. harzianum merupakan jenis yang potensial untuk pengendalian penyakit secara hayati. Lebih lanjut dilaporkan bahwa T. harzianum mempunyai daya antagonis yang tinggi dan dapat mengeluarkan racun (mycotoxin) yaitu senyawa yang dapat menghambat bahkan dapat mematikan cendawan lain (Dennis and Webster, 1971).

 

Referensi

Agrios, G. N. (2005). Plant pathology (p. 922). Fifth Edition. USA: Elsevier Academic Press.

Ajith, P.S., & Lakshmidevi (2010). Effect of volatile and nonvolatile compounds from Trichoderma spp. against Colletotrichum capsici incitant of anthracnose on bell peppers. Nature and Science, 8(9), 265–269

Djafaruddin. (2000). Dasar-dasar pengendalian penyakit tanaman. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Elbert, W., Taylor, P.E., Andreae, M.O., & Pöschl, U. (2007). Contribution of fungi to primary biogenic aerosols in the atmosphere: Wet and dry discharged spores, carbohydrates and inorganic ions. Atmos.

Kaewchai, S., & Soytong, K. (2010). Application of biofungicides against Rigidoporus microporus causing white root disease of rubber tree.

Kumar, et al (2012). Isolation and Characterization of Trichoderma spp. for Antagonistic Activity Against Root Rot and Foliar Pathogens. Indian Journal Microbiology, 52(2), 137–144.

Pawirosoemardjo, S. (2007). Perilaku patogen dan epidemi beberapa penyakit pada tanaman karet. Warta Perkaretan, 26(1), 27–39.

Purwantisari, S. dan R.B. Hastuti. (2009). Uji Antagonisme Fungi Patogen Phytophthora infestans Penyebab Penyakit Busuk Daun dan Umbi Tanaman Kentang dengan Menggunakan Trichoderma sp.

Trigiano, R. N., Windham, M. T., & Windham, A. S. (2008). Plant pathology. New York: CRC Press.

Vinale, F. et al (2008). Trichoderma plant pathogen interactions. Soil Biology and Biochemistry, 1–10.

Dennis, L. et al (1971). Antagonistic properties of species groups of Trichoderma. British. 25-39.

(Unduh dokumen di sini)

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Agenda

Kritik Dan Saran

Pengunjung

Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 171964

Polling

Survey kepuasan website edit

Apakah website ini bermanfaat ?
Sangat Bermanfaat
Cukup Bermanfaat
Kadang Bermanfaat
Kurang Bermanfaat
Kurang Faedah

Galeri Foto

Galeri Video

Copyright © 2017 Direktorat Jenderal Perkebunan - Kementerian Pertanian Bangbf Sex Videos Xxx
Jl. Budi Utomo No.57, Pontianak - Kalimantan Barat 78241 - Indonesia
Call center & WA : 0821-4981-5100; - Fax : (0561) 882784. Email : balaiproteksipontianak@pertanian.go.id