KEMENTERIAN PERTANIAN - DIREKTORAT JENDRAL PERKEBUNAN

BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN PONTIANAK

24/10/2021 - 06:01 PM

Penyakit Kerdil pada Tanaman Lada

Di Publish Pada : 21/09/2021 | Kategori : Jadwal

Oleh: Siti Rosalina Br Ginting, S.Si

Produktivitas lada (Piper nigrum) nasional masih relatif rendah yang disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya adalah serangan hama dan penyakit tanaman. Salah satu penyakit utama pada tanaman lada yaitu penyakit kerdil atau sering juga disebut dengan penyakit keriting. Penyakit kerdil dapat berpengaruh langsung terhadap menurunnya produksi buah lada, karena tanaman menjadi sakit, kerdil, pembentukan buah berkurang dan vigor tanaman menurun.  

Kerugian produksi akibat penyakit kerdil di Indonesia menempati urutan ketiga setelah penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB) yang disebabkan oleh jamur Phytophthora capsici dan penyakit kuning yang disebabkan oleh penyebab yang komplek, yaitu oleh nematoda Rhadopolus similis dan Meloydogine incognita, jamur Fusarium oxysporium, dan faktor kekurangan hara (Manohara dan Rizal, 2002). Sementara, penyakit kerdil sendiri disebabkan oleh dua jenis virus, yaitu Piper Yellow Mottle Virus (PYMoV) dan Cucumber Mosaic Virus (CMV).

 

Gejala Serangan

Gejala tanaman lada yang terserang penyakit kerdil bervariasi, tetapi umumnya adalah bercak-bercak kuning (khlorosis) di permukaan daun dan di sepanjang pembuluh daun, daun lebih kecil, lebih tebal dari ukuran normal, rapuh, permukaan daun bergelombang, daun menggulung ke dalam, panjang ruas batang lebih pendek, jumlah bulir buah berkurang, dan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil. Pada tingkat serangan yang parah dapat menyebabkan tanaman tidak mampu berproduksi sehingga keberadaan penyalkit ini menjadi salah satu kekhawatiran bagi petani lada.

Gambar 1.  Gejala tanaman lada yang terserang penyakit kerdil/keriting pada daun (a, b)

(Sumber: Koleksi pribadi)

 

Penularan  Penyakit

Penyakit kerdil dapat ditularkan melalui bahan tanaman (bibit) dan melalui serangga vektor. Bahan tanaman lada pada umumnya diperbanyak secara vegetatif. Oleh karena itu, apabila bibit berasal dari tanaman yang telah terinfeksi virus, maka akan menghasilkan tanaman yang terinfeksi pula. Selain itu, perpindahan bahan perbanyakan tanaman (stek) antardaerah serta penggunaan peralatan stek yang tidak steril juga sangat mempengaruhi penyebaran virus.

Serangga vektor yang menyebarkan penyakit kerdil lada PYMoV adalah kutu putih (Planococcus minor dan Ferrisia virgata). Planococcus minor merupakan serangga berbentuk oval, dimana serangga dewasa berukuran 1-2 mm, berwarna putih, dan di sekeliling tubuhnya terdapat 14-18 pasang lilin seperti duri. Pada tanaman lada, Planococcus mengisap bunga, buah, ruas, daun muda dan ketiak dan seludang daun. Ferrisia virgata memiliki ciri berbentuk oval panjang dengan sepasang garis panjang di ujung abdomen dan benang lilin yang panjang di sekeliling tubuhnya. Serangga ini menyerang daun muda maupun tua, batang, cabang dan tunas tanaman lada.

Adapun serangga vektor yang menyebarkan penyakit kerdil lada CMV adalah kutu daun jenis Aphis gossypii. Serangga ini berwarna hijau sampai hitam atau kuning kecoklatan berukuran 1-2 mm. Berbeda dengan kutu putih, serangan kutu daun ini menimbulkan gejala antara lain daun-daun muda akan mengerut, sehingga daun tidak berkembang dengan sempurna. 

Gambar 2. Serangga vektor (a). P. minor, (b). F. virgata dan (c). A. gossypii   (Sumber: Rodiah Balfas.)

 

Strategi Pengendalian

Penyakit tanaman yang disebabkan oleh virus umumnya sangat sulit dikendalikan. Oleh karena itu, strategi pengendalian penyakit akan lebih efektif apabila dilakukan secara terpadu dan lebih diutamakan yang bersifat preventif, seperti penanaman bibit sehat (bebas patogen) dan mencegah masuknya serangga vektor. Strategi pengendalian penyakit kerdi lada antara lain adalah:

  1. Kultur teknis
  • menggunakan bibit tanaman yang sehat dan bebas dari virus;
  • mencuci bersih dengan alkohol gunting pangkas tanaman setelah digunakan untuk memotong tanaman sakit;
  • mencabut tanaman yang telah terserang penyakit agar tidak menular ke tanaman lainnya.
  1. Pengendalian hayati
  • menggunakan metabolit sekunder APH dan jamur mikoriza untuk meningkatkan ketahanan tanaman, dan
  • menggunakan insektisida nabati, misalnya dari ekstrak cengkeh, mimba, jarak kepyar dan tembakau untuk mengendalikan serangga vektor
  1. Pengendalian kimiawi
  • Pengendalian vektor dengan insektisida berbahan aktif karbosulfan, dimetoat,   malation,   metil paration, dan diazinon.

 

Referensi

Balfas, R., Lakani I, Samsudin dan Sukamto. 2007. Penularan Penyakit Kerdil Pada Tanaman Lada Oleh Tiga Jenis Serangga Vektor. Jurnal Littri Vol 13. No. 4.

Balfas, R. Serangga Penular (Vektor) Penyakit Kerdil Pada Tanaman Lada dan Strategi Penanggulangannya. https://docplayer.info/36701586-Serangga-penular-vektor-penyakit-kerdil-pada-tanaman-lada-dan-strategi-penanggulangannya.html. Diakses tanggal 20 Agustus 2021.

Manohara, D. and Rizal, M. 2002. Pests and Diseases on Pepper in Indonesia and Their Management. Paper Presented at the Symposium on Pests and Diseases on Pepper. Sarawak, Malaysia.

Rismayani, Rohmiatun dan I Wayan L. 2015. Hama Utama Pada Pembibitan Lada dan Pengendaliannya. Prosiding Seminar Perbenihan Tanaman Rempah dan Obat. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat.

(Unduh dokumen di sini)


Agenda

Kritik Dan Saran

Pengunjung

Pengunjung hari ini : 1
Total pengunjung : 171964

Polling

Survey kepuasan website edit

Apakah website ini bermanfaat ?
Sangat Bermanfaat
Cukup Bermanfaat
Kadang Bermanfaat
Kurang Bermanfaat
Kurang Faedah

Galeri Foto

Galeri Video

Copyright © 2017 Direktorat Jenderal Perkebunan - Kementerian Pertanian Bangbf Sex Videos Xxx
Jl. Budi Utomo No.57, Pontianak - Kalimantan Barat 78241 - Indonesia
Call center & WA : 0821-4981-5100; - Fax : (0561) 882784. Email : balaiproteksipontianak@pertanian.go.id