BPTP Pontianak Laksanakan Pengamatan dan Pengendalian Penyakit Busuk Pucuk Sawit di Kalimantan Utara
Diposting
Rabu, 24 Desember 2025 08:12 am
Oleh Admin Balai Pontianak
BPTP Pontianak melaksanakan kegiatan pembinaan, pengamatan dan pengendalian OPT pada tanaman sawit di Desa Setabu, Kecamatan Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara pada 18 Desember 2025. Kegiatan ini dilaksanakan bersama tim dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Utara dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Nunukan.
Petani mengeluhkan adanya gangguan tanaman berupa sebagian besar tanaman kelapa sawitnya mengalami busuk pada bagian pucuk. Petugas BPTP Pontianak melakukan pengamatan OPT sawit dan ditemukan gejala penyakit yang disebabkan penyakit busuk pucuk. Gejala busuk pucuk pada sawit dapat diawali dengan adanya luka yang disebabkan oleh gerekan hama kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) sehingga jamur dan bakteri mudah masuk dan menginfeksi jaringan pucuk.
Gejala awal terlihat pucuk daun muda menguning dan layu. Gejala lanjutan pucuk daun mengalami pembusukan yang menyebar hingga ke bagian titik tumbuh, selanjutnya daun tombak mudah patah dan lepas dari pangkalnya. Daun tombak mudah dicabut dan terlihat jaringan melembek dan berwarna coklat kehitaman (keluar lendir) dan berbau busuk menyengat. Gejala tersebut merupakan ciri khas dari penyakit busuk pucuk. Hasil pengamatan juga terdapat di beberapa pucuk tanaman terlihat adanya luka pada pucuk dan terdapat bekas guntingan daun yang disebabkan oleh hama kumbang tanduk.
Petani diberi edukasi cara mengendalikan penyakit busuk pucuk. Pengendalian yang dipraktikkan pada kegiatan ini adalah pengendalian secara kimiawi dengan berbahan aktif tembaga oksida. Cara aplikasi pestisida dilakukan dengan melarutkan 1 gram pestisida bahan aktif tembaga oksida ke dalam 1 liter air bersih. Campuran dikocok hingga bahan larut. Tunas yang busuk dipotong dan dibersihkan terlebih dahulu kemudian dikocorkan sebanyak 500 ml per tanaman sawit yang sakit. Aplikasi dilakukan satu bulan sekali sampai maksimal 3 kali.
Pada saat tanaman muncul tunas baru yang sehat dan setelah satu bulan aplikasi pemberian pestisida tidak dilanjutkan kembali atau dihentikan. Seluruh tunas yang busuk dikumpulkan dan dibakar untuk mencegah penyebaran penyakit.
Bagikan Artikel Ini
Potensi Kumbang Coccinellidae Sebagai Predator Hama Kutu Putih pada Tanaman Kopi Liberika Di Provinsi Kalimantan Barat
Diposting
Senin, 15 Desember 2025 03:12 pm
Oleh Admin Balai Pontianak
Oleh:
Sunarti, S.P (POPT Ahli Madya BPTP Pontianak)
Wahyudi (Dinas Perkebunan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sambas)
Menurut data USDA, Indonesia menjadi produsen kopi terbesar keempat di dunia untuk periode panen 2024/2025. Produksi kopi Indonesia tercatat sebanyak 10,7 juta kantong kopi, dengan masing-masing kantong seberat 60 kg. Brasil menduduki posisi puncak dengan 64,7 juta kantong, diikuti Vietnam (29 juta) dan Kolombia (13,2 juta). Ekspor kopi Indonesia sepanjang Januari-Juni 2025 mencapai 206,7 juta kg, dengan beberapa negara menjadi tujuan utamanya antara lain Amerika Serikat, Belgia, Jerman dan Mesir. Nilai ekspor kopi Indonesia mencapai US$1,13 miliar sepanjang enam bulan pertama di tahun 2025, dengan nilai ekspor tertinggi tercatat dari Amerika Serikat yang mencapai US$190,9 juta, Belgia, sebesar US$158,9 juta per Juni 2025, Jerman dengan US$84,1 juta, diikuti oleh Mesir sebesar US$82,8 juta.
Saat ini, Provinsi Kalimantan Barat sendiri memiliki perkebunan kopi rakyat dengan luas mendekati 12.000 hektar yang terdiri atas kopi Robusta (Coffea canephora var. robusta) dan Liberika (Coffea liberica var. Liberica). Produksi kopi di Kalimantan Barat juga mengalami peningkatan dimana pada tahun 2021 produksi kopi mencapai 3.167 ton sedangkan pada tahun 2022 menjadi 3.850 ton. Walaupun demikian apabila dibandingkan dengan luas lahan yang ada, produktifitas kopi Kalimantan Barat masih rendah yaitu di bawah 1 ton/ha (Tropis.co, 2023).
Pengembangan kopi Liberika di Kalimantan Barat dilaksanakan antara lain di Kabupaten Sambas dan Kabupaten Kayong Utara. Kopi Liberika yang dibudidayakan di Kabupaten Sambas dikenal dangan nama Kopi Liberika Sendoyan sedangkan kopi Liberika yang dibudidayakan di Kabupaten Kayong Utara dikenal dengan nama Kopi Liberika Kayong. Kopi Liberika Kayong menjadi tonggak penting pengembangan kopi lokal Kalimantan Barat setelah berhasil menerima sertifikat Indikasi Geografis. Mengutip Prokopim Kabupaten Kayong Utara, sertifikat IG ini didapatkan dari Kementerian Hukum dan HAM pada tahun 2023.
Kopi Liberika Sendoyan banyak diminati karena rendah kafein sehingga aman untuk lambung. Kopi ini memiliki karakteristik yang unik karena memiliki cita rasa buah seperti buah pisang dan nangka dan memiliki aromanya harum seperti buah nangka, sedangkan Kopi Liberika Kayong kaya akan citarasa dengan campuran susu coklat serta dibalut buah-buahan seperti apel hijau dan anggur. Setelah meminum kopi ini, biasanya akan ada sisa rasa kayu manis dan gula aren.
Gaya hidup masyarakat Kalimantan Barat yang tidak terlepas dari minum kopi. menjadi potensi pasar yang menjanjikan bagi kopi Liberika Kalimantan Barat. Namun sayang dari banyaknya warung kopi yang ada, biji kopi khas lokal Kalimantan Barat sangat sulit tersedia di sana. Kopi yang disajikan banyak berasal dari luar daerah, tentunya hal ini sangat memprihatinkan. Salah satu permasalahan industri kopi Indonesia dalam menghadapi pasar global yaitu rendahnya produktivitas dan mutu yang kurang memenuhi standar ekspor (Sugiarti 2019). Produktivitas kopi yang rendah salah satunya dikarenakan adanya serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada tanaman kopi (Efendi et al., 2022). Berdasarkan pengamatan di lapangan, adanya serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan masih merupakan faktor pembatas bagi produktivitas dan kualitas kopi Liberika di Kalimantan Barat. Hama yang banyak menyerang tanaman kopi Liberika antara lain hama penggerek buah kopi, penggerek batang merah, penggerek cabang dan ranting, kutu hijau, dan kutu putih (Permana & Masrilurrahman, 2021).
Klinik Tanaman Perkebunan BPTP Pontianak baru-baru ini menerima laporan adanya serangan kutu putih pada kopi Liberika di lahan kelompok Tani Bersatu di Desa Piantus Kecamatan Sejangkung Kabupaten Sambas. Pohon yang terserang sekitar 50 pohon dengan intesitas serangan ringan sampai sedang. Saat ini diketahui terdapat 3 (tiga) spesies kutu putih yang menyerang kopi yaitu Ferrisia virgata, Dysmicoccus neobrevipes serta Planococcus citri. Kutu putih dapat menyerang daun, bunga dan buah yang masih muda. Kutu putih dapat menghasilkan embun madu yang disukai semut dan bila produksi embun madu berlebih dapat menimbulkan cendawan jelaga pada daun tersebut yang dapat menyebabkan daun menjadi kerdil. Kehilangan hasil terjadi apabila terjadi apabila daun, buah terserang mengering rontok dan gugur. Serangan pada buah yang sudah agak besar (diameter sekitar 3 mm) menyebabkan buah akan berkerut dan menurunkan kualitas buah. Berdasarkan hasil penelitian, serangan kutu putih lebih banyak menyerang buah kopi dibandingkan dengan daun kopi.
Tanaman inang kutu putih selain kopi adalah kakao, jambu biji, alpokat, jeruk, cabai, pisang, mangga, lamtoro, tephrosia, gamal dan lain-lain .
Balai Pelindungan Tanaman Perkebunan Pontianak sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis yang berada di bawah Direktorat Perlindungan Perkebunan mempunyai tugas melaksanakan pengawalan perlindungan tanaman di Provinsi Kalimantan Barat perlu mencari teknik pengendalian hama kutu putih yang efektif, efisien dan spesifik lokasi serta ramah lingkungan untuk mengawal produksi kopi Liberika kebanggaan Kalimantan Barat ini. Pengendalian yang dilaksanakan adalah pengendalian yang dapat menjadi paket pengelolaan hama kutu putih yang berkelanjutan. Salah satu Agen Pengendali Hayati (APH) yang mempunyai potensi sebagai pengendali hama kutu putih kopi adalah kumbang predator dari golongan Coccinellidae.
Menurut Borror (1992) ordo Coleoptera adalah ordo yang terbesar dari serangga. Famili dari ordo Coleoptera yang berperan sebagai predator antara lain Coccinellidae, Shilphidae, Staphylinidae, Histeridae, Lampyridae, Cleridae, Cantharidae, Meloidae, Cincindelidae, Carabidae, Dysticidae, Hydrophilidae dan Gyrinidae (New 1991). Coccinellidae dan Carabidae dipandang sebagai agensia pengendali hayati penting serangga hama tanaman. Famili Coccinellidae paling banyak berperan sebagai predator hama kutu. Kumbang Coccinellidae merupakan pengendali populasi hama serangga seperti kutu sisik, tungau, kutu putih, aphid dan kumbang tepung (Shanker et al, 2018; Darwish, 2019).
Coccinellidae memiliki keanekaragaman yang cukup tinggi, diperkirakan ada 5000 spesies di seluruh dunia sedangkan di Indonesia diperkirakan lebih dari 300 jenis yang tersebar luas . Banyak jenis Coccinellidae predator di Indonesia yang memiliki potensi besar dalam pengendalian populasi berbagai jenis hama tanaman (Efendi et al, 2016). Penelitian pada tanaman cabai merah, diketahui inang kumbang Coccinellidae yaitu Mycus percicae Aphis cracivora yang merupakan spesies kutu daun, Planococus citri (kutu putih) dan Bemisia tabaci (kutu kebul) (Cahyono et al. 2018). Pengendalian hama kutu putih Ferrisia virgata dapat dilakukan secara hayati dengan menggunakan musuh alaminya yaitu predator dari famili Coccilinellidae antara lain Curinus coerulus dan Coccinella repanda (Mariam, 2006). Sementara itu jenis Coccinelllidae yang lain yaitu Coccinella transversalis diketahui sebagai predator hama Thrips parvispinus, Aphis gossypii Glover dan Bemisia tabaci.
Sejauh ini belum tersedia informasi mengenai potensi kumbang Coccinellidae sebagai agen pengendali hayati hama kutu putih pada tanaman kopi Liberika. Untuk mengetahui sejauhmana potensi tersebut, perlu dilaksanakan kegiatan Pemanfaatan Potensi Kumbang Coccinellidae Sebagai Predator Hama Kutu Putih pada Tanaman Kopi Liberika di Kalimantan Barat. Beberapa Coccinellidae yang berfungsi sebagai predator dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.
Kegiatan Pemanfaatan Kumbang Coccinellidae Sebagai Predator Kutu Putih Pada Tanaman Kopi Liberika dapat dilaksanakan secara in vivo di Laboratorium kemudian dilanjutkan dengan kegiatan in vivo di kebun kopi Liberika di Provinsi Kalimantan Barat dengan luasan terbatas terlebih dahulu, selanjutnya kegiatan dapat dilaksanakan di beberapa tempat lokasi kebun kopi yang mengalami serangan kutu putih ini. Hasil akhir kegiatan dapat dijadikan rekomendasi untuk pengendalian kutu putih pada tanaman kopi khususnya umumnya pada tanaman inang lain kutu putih seperti kakao atau jarak pagar. Kegiatan pengendalian menggunakan predator dapat dipadukan dengan pemupukan pada tanaman kopi. Hasil dari kegiatan berbentuk rekomendasi yang dapat dilaksanakan oleh petani kopi Liberika atau kopi jenis lainnya Kalimantan Barat khususnya umumnya oleh petani kopi di wilayah lainnya di Indonesia. Harapan kita pemanfaatan predator ini dapat menjadi salah satu paket teknologi yang ramah lingkungan sehingga prinsip-prinsip pengelolaan kebun kopi yang berkelanjutan dapat terwujud.
Daftar Pustaka
Borror. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga, edisi VI. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Cahyono DB, Hasna A, Tolangara AR. 2018. Hama Pada Cabai Merah. Techno: Jurnal Penelitian 6:18.
Darwish AAE. 2019. The Predation Efficiency And Feeding Preference of Coccinella septempunctata L. and Coccinella undecimpunctata L.(Coleoptera: Coccinellidae) On Some Prey Species. Menoufia Journal of Plant Protection. 4(1): 7-1
Efendi, S., Yaherwendi dan N. Novri. 2016. Studi Preferensi dan Tanggap Fungsional Menochilus sexmaculatus dan Coccinella transversalis pada Beberapa Mangsa yang Berbeda. 2(2): 125 – 131
Effendi,S. 2023 Keanekaragaman Coccinellidae Predator Pada Ekosistem Pertanian Organik Dan Anorganik Di Provinsi Sumatera Barat. Bioscientist : Jurnal Ilmiah Biologi Bioscientist . 11 (2) : 1450-1467
Mariam, S. 2006, Potensi Pengembangan Tanaman Jarak Pagar Untuk Sumber Bahan Baku Biofuel, Jurusan Ilmu Tanah Dan Manajemen Sumberdaya Lahan. Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Bandung
Permana, R. D., & Masrilurrahman, L. L. S. (2021). Identifikasi Tingkat Kerusakan Pada Tanaman Kopi Yang Di Sebabkan Oleh Hama Di Desa Karang Sidemen Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah. Jurnal Silva Samalas, 4(1), 10–14.
Sarwar M. 2016. Food Habits Or Preferences And Protecting Or Encouraging Of Native Ladybugs (Coleoptera: Coccinellidae). International Journal Of Zoology Studies. 1(3): 13-18.
Shanker C, Chintagunta L, Muthusamy S, Vailla S, Srinivasan A, Katti G. 2018. Flora Surrounding Rice Fields As A Source Of Alternative Prey For Coccinellids Feeding on The Pests of Rice. European Journal of Entomology. 115: 364-371.
Sugiarti, L. (2019). Identifikasi Hama Dan Penyakit Pada Tanaman Kopi Di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti. Jurnal Agro Wiralodra, 2(1), 16–22.
Sumayanti HI. 2021. Identifikasi Hama Tanaman Padi Sawah (Oryza sativa L.) dan musuh alami di Kecamatan Curug Kota Serang Provinsi Banten. Jurnal Ilmu Pertanian Tirtayasa. 3 (1): 229–41.
Tropis.co. 2023, Juni 09. Kalbar Fokuskan Pengembangan Kopi Jenis Liberika. Retrieved November 10, 2023, from Tropis.co : https:// tropis.co/ 2023/06/09/kalbarfokuskan-pengembangan-kopi-jenis-liberika
Bagikan Artikel Ini
Preservasi Agens Pengendalian Hayati (APH): Upaya Menjaga Ketersediaan Isolat Unggul di Laboratorium Utama Pengendalian Hayati BPTP Pontianak
Diposting
Selasa, 09 Desember 2025 03:12 pm
Oleh Admin Balai Pontianak
Oleh: Muhammad Sunariya, S.Si (Calon POPT Ahli Pertama)
Laboratorium Utama Pengendalian Hayati BPTP Pontianak merupakan salah satu laboratorium yang berperan penting dalam penyediaan teknologi pengendalian hayati untuk mendukung perlindungan tanaman perkebunan di Kalimantan. Salah satu kegiatan strategis yang sedang dikembangkan adalah preservasi isolat Agens Pengendalian Hayati (APH) guna menjamin keberlanjutan penyediaan isolat mukroba yang berkualitas untuk kebutuhan penelitian maupun pelayanan teknis.
Preservasi APH tidak hanya berkaitan dengan penyimpanan isolat, tetapi juga merupakan upaya pelestarian sumber daya hayati mikroba lokal yang memiliki potensi tinggi. Dengan metode preservasi yang tepat, isolat mampu dipertahankan viabilitasnya dalam waktu panjang, bahkan puluhan tahun, tanpa mengalami penurunan kemampuan biologis maupun perubahan karakter fisiologis.
Peran Penting Agens Pengendalian Hayati dalam Proteksi Tanaman Perkebunan
Agens Pengendalian Hayati adalah organisme hidup yang digunakan sebagai alternatif ramah lingkungan dalam menekan populasi Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). OPT perkebunan seperti jamur patogen penyebab penyakit akar maupun serangga perusak tanaman menjadi tantangan besar bagi petani dan pengelola kebun. Melalui pendekatan pengendalian hayati, penggunaan input kimia dapat ditekan, lingkungan lebih sehat, dan keberlanjutan usaha perkebunan lebih terjamin. Oleh karena itu, ketersediaan isolat APH seperti jamur antagonis dan entomopatogen yang unggul menjadi kebutuhan strategis. Laboratorium Utama Pengendalian Hayati telah melakukan preservasi terhadap 9 isolat mikroba, yaitu:
Trichoderma harzianum
Trichoderma koningii
Trichoderma atroviride
Trichoderma aureoviride
Gliocladium spp.
Metarhizium anisopliae
Metarhizium majus
Beauveria bassiana
Verticillium lecanii
Simak mengenai manfaat dan karakter isolat pada infografis berikut:
Mengapa Preservasi APH Sangat Penting?
Mikroorganisme seperti Trichoderma, Gliocladium, Metarhizium, dan Beauveria terbukti sangat efektif membantu petani mengatasi berbagai masalah OPT, mulai dari penyakit tular tanah hingga hama serangga. Namun mikroba yang tersimpan dalam media kultur biasa akan cepat menua, dapat berubah sifat, atau bahkan mati. Dengan teknik preservasi yang baik:
Mikroba tetap viabel (hidup) untuk waktu lama,
Sifat biologisnya tetap terjaga,
Tidak perlu melakukan isolasi ulang dari lapangan,
Kegiatan penelitian dapat dilakukan lebih efisien.
Bagaimana Proses Preservasi Dilakukan?
Isolat-isolat ini disimpan pada media air steril, tanah steril, dan gliserol 50% yang sudah terbukti ampuh untuk mempertahankan mikroba selama bertahun-tahun. Prosesnya dilakukan secara teliti dan berstandar laboratorium:
Pemeriksaan kemurnian isolat
Persiapan media air steril, tanah steril, dan larutan gliserol
Pemindahan isolat secara aseptik
Penyimpanan dalam rak khusus pada kondisi stabil
Pencatatan data isolat dalam sistem dokumentasi laboratorium
Manfaat Besar Bagi Pertanian Berkelanjutan
Kegiatan preservasi APH memberikan manfaat nyata, antara lain:
Ketersediaan isolat unggul kapan saja
Efisiensi biaya dan waktu penelitian
Konsistensi mutu isolat untuk uji laboratorium dan produksi APH
Pelestarian keanekaragaman hayati mikroba lokal
Mendukung produksi biofungisida dan bioinsektisida lokal
Dengan demikian, preservasi bukan hanya kegiatan teknis laboratorium, tetapi juga investasi jangka panjang untuk masa depan pertanian maupun perkebunan, khususnya di Kalimantan.
Kesimpulan
Melalui kegiatan preservasi APH menggunakan air steril (metode Castellani), tanah steril, dan gliserol 50%, Laboratorium Utama Pengendalian Hayati BPTP Pontianak dapat menjaga stabilitas isolat mikroba unggul yang berperan penting dalam pengendalian hayati. Upaya ini merupakan pijakan penting menuju pertanian perkebunan yang lebih sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Daftar Referensi
Castellani, A. (1939). Viability of some pathogenic fungi in distilled water. Journal of Tropical Medicine and Hygiene.
Smith, D. & Onions, A.H.S. (1994). The Preservation and Maintenance of Living Fungi. CAB International.
LIPI (2019). Pedoman Preservasi Kultur Mikroba – Indonesian Culture Collection (InaCC). Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Samson, R.A., et al. (1988). Atlas of Entomopathogenic Fungi. Springer.
Bridge, P. & Spooner, B. (2001). Soil Fungal Diversity and Ecology. British Mycological Society.
Lane, S., et al. (2015). Glycerol as a Cryoprotectant for Microbial Culture Collections. Applied Microbiology and Biotechnology.
Bagikan Artikel Ini
BPTP PONTIANAK DUKUNG PROGRAM PEREMAJAAN TANAMAN KARET DI SINTANG
Diposting
Selasa, 11 November 2025 11:11 am
Oleh Admin Balai Pontianak
Balai Pelindungan Tanaman Perkebunan (BPTP) Pontianak melalui petugas teknis yang bertugas di Unit Pembinaan Perlindungan Tanaman (UPPT) Nenak, Kabupaten Sintang mendukung dan berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan Program Peremajaan Tanaman Karet Rakyat. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka peningkatan hasil produksi tanaman karet,
Program Peremajaan Tanaman Karet Rakyat dilaksanakan oleh Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Barat bersama Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Sintang berupa replanting tanaman karet seluas 12 Hektar dengan menggunakan klon IRR 112. Kegiatan ini dilaksanakan di Kelompok Tani Aboh Bersatu di Desa Suka Jaya, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang. Serah terima bibit karet dilakukan oleh petugas teknis dari Dinas Perkebunan Provinsi dan Kabupaten kepada kelompok tani. Sementara pemeriksaan bibit karet dilakukan oleh Petugas UPPT Nenak Kabupaten Sintang. Petugas UPPT bersama petugas dinas juga melakukan peninjauan pembibitan karet siap salur.
Pelaksanaan kegiatan peremajaan tanaman karet dilaksanakan pada tanggal 11 November 2025 dan dilakukan sesuai dengan tahapan teknis yang telah ditetapkan. Pendampingan teknis oleh petugas meliputi persiapan lahan, pemilihan bibit unggul, penerapan pola tanam tumpang sari, serta pemeliharaan intensif melalui pemupukan, pengendalian gulma, dan perlindungan dari Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).
Program peremajaan tanaman karet ini memberikan dampak positif berupa peningkatan produksi, memberikan kepastian pendapatan jangka panjang bagi petani, serta manfaat lingkungan karena tanaman karet muda memiliki kemampuan penyerapan karbon dioksida yang baik dan merupakan mitigasi dampak perubahan iklim.
Melalui kegiatan ini, diharapkan program peremajaan tanaman karet dapat menjadi motivasi bagi petani untuk terus meningkatkan produktivitas kebun karet rakyat. Pemerintah mendukung upaya tersebut melalui penyediaan bibit unggul serta pendampingan teknis budidaya dan pengendalian OPT oleh petugas teknis di lapangan.
Bagikan Artikel Ini
SOSIALISASI PENGGUNAAN PERANGKAP ATRAKTAN UNTUK PENGENDALIAN PENGGEREK BUAH KOPI YANG RAMAH LINGKUNGAN
Diposting
Senin, 10 November 2025 03:11 pm
Oleh Admin Balai Pontianak
Oleh :
Erlan Ardiana Rismansyah, S.P (POPT Ahli Muda)
Suadin, S.P (Anggota Tim KTK Layanan Teknis)
Julianto (Kepala UPPT Sungai Kakap Kab. Kubu Raya)
Kumbang Penggerek buah kopi (PBKo) dengan nama ilmiah Hypothenemus
hampei Ferrari merupakan hama utama yang menyerang pada tanaman kopi. Hama
ini berupa kumbang kecil berwarna hitam dan termasuk ke dalam famili Scolytidae
Ordo Coleoptera. Hama penggerek buah kopi sangat merugikan petani kopi
karena selain menyebabkan kerusakan buah secara langsung juga menyebabkan mutu
buah kopi yang dipanen menjadi menurun kualitasnya.
Berdasarkan data serangan OPT Provinsi Kalimantan Barat, Serangan hama
penggerek buah kopi di Kabupaten Kubu Raya pada Bulan Juni 2025 mencapai luas
206 hektar sementara upaya pengendalian yang dilakukan terhadap hama ini masih sangat
minim dilaksanakan (Dinas Perkebunan, 2025). Kecilnya kegiatan pengendalian PBKo yang
dilakukan oleh petani kopi di Kubu Raya, salah satunya dikarenakan pengetahuan
petani yang terbatas tentang hama penggerek buah kopi dan cara pengendaliannya.
Hingga saat ini pengetahuan petani untuk pengendalian hama penggerek buah kopi
masih dipersepsikan dengan pengendalian menggunakan bahan kimia atau
insektisida. Padahal upaya pengendalian secara kimiawi terkendala oleh mahalnya
harga insektisida selain pilihan produknya juga terbatas. Untuk itu,
terobosan-terobosan lain teknologi pengendalian hama penggerek buah kopi Hypothenemus
hampei selain penggunaan pestisida perlu lebih dimaksimalkan dan
diperkenalkan kepada petani kopi dengan berdasarkan kepada konsep pengendalian
terpadu yang lebih ramah lingkungan
dengan mengkombinasikan berbagai teknik pengendalian seperti perbaikan
kultur teknis, penggunaan varietas/klon
tahan PBKo, pemanfaatan musuh alami serta penggunaan perangkap atraktan
hama penggerek buah kopi. Upaya tidak kenal lelah senantiasa dilakukan oleh
BPTP Pontianak dalam mensosialisasikan berbagai teknologi pengendalian hama
PBKo dalam paket PHT termasuk penggunaan perangkap atraktan yang dikombinasikan
dengan pengendalian secara kultur teknis. Salah satunya telah dilaksanakan di
Kelompok Tani Makmur Jaya di Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap
Kabupaten Kubu Raya pada bulan Oktober 2025 ini.
Kelompok Tani Makmur Jaya yang berlokasi di Parit Ibrahim Desa Punggur
Kecil Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya merupakan salah satu kelompok
tani kopi yang beranggotakan 25 orang petani/pekebun kopi dengan luasan total
mencapai 25 hektar. Sebagaimana di lokasi lain, kebun kopi di kelompok tani ini
mengalami serangan hama penggerek buah kopi yang cukup parah tanpa ada upaya
pengendalian yang berarti. Dengan mempertimbangkan tingkat pengetahuan petani
tentang hama penggerek buah kopi yang masih rendah maka petugas UPPT Sungai
Kakap merekomendasikan perlunya dilakukan sosialisasi teknologi pengendalian
hama Penggerek buah kopi H. hampei kepada kelompok tani.
Pertemuan dilaksanakan pada tanggal 16 Oktober 2025 di rumah Sekretaris Kelompok Tani bertujuan untuk mensosialisasikan ekobiologi hama, tehnik pengamatannya serta teknologi pengendalian hama penggerek buah kopi H. hampei dengan menggunakan perangkap atraktan yang dikombinasikan dengan perbaikan kultur teknis budidaya kopi. Dalam sosialisasi ini diserahkan pula atraktan sebanyak 120 buah pcs untuk digunakan oleh kelompok tani dalam kegiatan pengendalian hama PBKo.
Sosialisasi Hama Penggerek Buah Kopi Hypothenemus hampei
Hama penggerek buah kopi (PBKo) Hypothenemus hampei merupakan salah satu hama utama pada tanaman kopi. Hama ini menyerang tidak hanya buah kopi yang sudah tua tetapi juga buah yang masih muda. Buah kopi muda yang bijinya masih lunak umumnya tidak digunakan sebagai tempat berkembang biak tetapi hanya digerek untuk mendapatkan makanan sementara dan selanjutnya ditinggalkan lagi. Serangan H. hampei menyebabkan buah menjadi tidak berkembang, berubah warna menjadi kuning kemerahan dan akhirnya gugur (Indriati dkk, 2016).
Imago betina menyerang buah kopi dengan cara membuat lubang di sekitar
diskus (ujung buah) sekitar 8 minggu setelah pembungaan hingga panen (> 32
minggu). H. hampei umumnya menyerang pada buah kopi yang bijinya telah
mengeras/sudah cukup tua dan mengakibatkan buah kopi berlubang berbentuk bulat
dengan diameter 1 mm (Indriati dkk., 2016).
Kerusakan akibat serangan H. hampei adalah jatuhnya buah muda
dengan cepat, buah matang rentan terhadap infeksi jamur dan bakteri, dan
penurunan hasil dan mutu kopi, sehingga mengurangi produksi/pendapatan petani (Indriati
dkk., 2016). Penurunan hasil akibat serangan H. hampei bervariasi
tergantung kondisi pengelolaan tanaman. Kehilangan hasil dapat mencapai 100
persen apabila tidak dilakukan tindakan pengendalian (Baker, Prakasan et
al.,dalam Girsang dkk., 2020). Di Kabupaten Simalungun Provinsi
Sumatera Utara, hama H. hampei tersebar di seluruh kecamatan penghasil
kopi dan dilaporkan intensitas serangannya mencapai 51,6 persen (termasuk
kategori serangan berat) (Girsang dkk., 2020). Serangan berat dapat menimbulkan
kehilangan produksi sampai 10% pada buah-buah muda dan dapat mencapai 40% pada
buah-buah tua. Disamping itu dapat menurunkan kualitas sampai grade 4 (Sukanadi
dkk., 2009). Menurut Purba (2015) dalam Meidiantoro dkk (2024) pada
tingkat serangan di lapangan jika dipersentasekan berkisar 20% maka tingkat
penurunan produksi sekitar 10%, dimana kondisi tersebut masih belum termasuk
penurunan kualitas biji kopi yang berlubang karena serangan hama PBKo, dimana
persentase-nya dapat mencapai lebih dari 50%. Menurut
Hama penggerek buah kopi memiliki tahap perkembangan hidup sempurna atau holometabola
yaitu dewasa – telur – larva dan pupa. Dengan lama periode siklus hidup dari
telur diletakkan hingga menjadi kumbang dewasa berkisar 24-49 hari. Lama siklus
hidup ini dipengaruhi oleh cuaca terutama temperatur. Makin rendah temperatur
dan makin tinggi tempat maka makin panjang siklus hidupnya.
Seekor serangga betina mampu menghasilkan 35-50 butir telur. Telur
berbentuk lonjong, berwarna putih susu, panjang 0,5 – 0,8 mm; lebar 0,25-0,35
mm. Larva yang menetas akan segera menggerek keping biji kopi yang telah
mengeras dan berkembang sampai menjadi dewasa pada liang gerekan di dalam buah
kopi. Larva berwarna putih krem dengan kepala berwarna coklat, terdiri dari dua
instar. Bentuk tubuh bulat, berkaki dengan rambut-rambut yang jarang. Stadium
larva 10-21 hari untuk kemudian memasuki para pupa. Pupa berwarna putih
kemudian setelah berkembang 10 hari akan menjadi kuning, panjang 1,2-1,7 mm
(Baker, 2009). masa pre-pupa 2 hari dan masa pupa 4-6 hari (Kalshoven, 1981).
Lama hidup imago H. hampei bervariasi. Lama hidup imago betina 81-282
hari, rata-rata 131 hari sedangkan imago jantan 40-52 hari. (Indriati dkk.,
2016). Kumbang berwarna hitam kecokelatan dan tungkainya berwarna lebih muda
dengan ukuran betina (1,7 mm x 0,7 mm) lebih besar daripada jantan (1,2 mm x
0,7 mm). Tubuh kumbang berbentuk bulat pendek dengan pronotum menutupi kepala
(Harni dkk., 2015).
Populasi kumbang penggerek buah kopi dipengaruhi oleh faktor iklim (suhu, curah hujan dan kelembaban relatif), fisiologi kopi dan tanaman penaung. Suhu dan kelembaban optimum untuk perkembangan H. hampei masing-masing berkisar 25-26 0C dan 90-95%. Kondisi kebun kopi dengan penaung yang berlebihan (gelap) mendukung perkembangan H. hampei. Pada kebun dengan penaungan rapat, dilaporkan bahwa buah yang terinfestasi H. hampei 5 kali lebih banyak dan perkembangan hamalebih cepat dibandingkan kebun dengan penaungan kurang (terbuka). Demikian juga pertanaman yang pembuahannya sepanjang tahun akan mendukung keberlanjutan pembiakan H. hampei karena biji kopi yang menjadi makanan tersedia sepanjang waktu. Isi bahan kering dari endosperm merupakan faktor penting yang menentukan serangan H. hampei. Biji dengan < 20% kandungan bahan kering cukup untuk pengembangan keturunan hama ini di dalam biji. (Baker et al., 1994 dalam Indriati dkk., 2016).
Pengamatan Intensitas Serangan Hama Penggerek Buah Kopi
Setelah penjelasan tentang status hama penggerek buah kopi, sosialisasi
dilanjutkan dengan materi mengenai metode pengamatan hama penggerek buah
kopi. Pengamatan terhadap hama ini
dilaksanakan dengan interval setiap bulan. Kegiatan pengamatan dapat dilakukan
pada kondisi kebun sebelum panen dilaksanakan (pra-panen), dan
pengamatan yang dilaksanakan pada saat panen. Pengamatan pra-panen dilaksanakan
pada pohon-pohon contoh di kebun yang dilakukan tiap bulan yang dimulai saat
buah mengeras sampai saat panen, sedangkan pengamatan pada saat panen dilakukan
pada buah kopi hasil petikan. Hasil pengamatan pra-panen digunakan sebagai
acuan untuk menentukan waktu dan metode pengendalian hama pada musim itu,
sedangkan hasil pengamatan saat panen digunakan untuk memandu pengendalian pada
musim mendatang (Anonim, 1992).
Dalam sosialisasi ini, petugas dan petani mempraktekkan tehnik pengamatan
hama penggerek buah kopi di salah satu kebun kopi petani di samping tempat
pertemuan. Sebanyak 20 pohon diambil secara acak diagonal untuk digunakan
sebagai pohon contoh dalam praktek pengamatan, dimana untuk masing-masing pohon
contoh diamati 5 buah buah kopi secara acak pada 5 buah ranting yang diusahakan
mewakili 4 arah mata angin. Pengamatan dilakukan dengan mengamati ada tidaknya lubang
gerekan pada bagian diskus (ujung buah) kopi yang telah matang. Data hasil
pengamatan kemudian ditabulasi dan digunakan untuk menghitung persentase
serangan, intensitas serangan dan luas serangan.
Persentase serangan dihitung dengan menghitung jumlah pohon terserang dibagi dengan jumlah total pohon sampel, sedangkan intensitas serangan dihitung dengan menghitung jumlah buah terserang PBKo dibagi dengan jumlah total buah sampel dikali dengan 100 persen. Adapun luas serangan dapat dihitung dengan mengkalikan persentase serangan dengan luas kebun sampel.
Hasil
pengamatan menunjukkan terdapat 12 pohon sampel yang terserang oleh hama PBKo
dari 20 pohon sampel, yang artinya persentase serangannya sebesar 60%.
Sedangkan buah kopi terserang PBKo sebanyak 74 buah dari 500 buah kopi sampel
sehingga intensitas serangannya mencapai 14,8 %. Mengacu kepada Buku Baku
Operasional PHT Hama PBKo oleh Direktorat Jenderal Perkebunan (Anonim, 1992)
angka tersebut dikategorikan intensitas serangan berat karena melebihi ambang
batas skala intensitas serangan berat yaitu sebesar 5%. Untuk luas serangan
yang terjadi pada kebun praktek pengamatan adalah sebesar 6.000 m2 dengan
luas kebun sampel adalah 1 hektar.
Tingginya
persentase dan intensitas serangan hama PBKo di kebun pengamatan tidak lepas
dari kondisi kebun kopi, intensitas praktek budidaya serta minimnya upaya
pengendalian yang dilakukan oleh pemilik kebun. Kebun kopi tempat pengamatan
merupakan kebun polikultur yang mana selain ditanam kopi, juga ditanam pula
beberapa tanaman lain seperti pisang, pinang dan kelapa. Tanaman naungan
(kelapa dan pinang) yang rapat juga mendukung perkembangan populasi hama PBKo.
Tingkat sanitasi kebun terlihat rendah. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya
tunas air dan cabang yang tidak produktif serta gulma yang cukup tebal diatas
permukaan tanah. Populasi hama PBKo senantiasa ada di kebun disebabkan pula
karena tanaman yang ditanam memiliki pola pembuahan terus menerus sehingga buah
kopi selalu ada sepanjang waktu.
Dari
hasil pengamatan diatas menunjukkan bahwa kebun kopi yang digunakan sebagai
tempat pengamatan telah mengalami intensitas serangan berat hama penggerek buah
kopi yaitu sebesar 14,8% dan perlu segera dilakukan pengendalian.
Sosialisasi
Penggunaan Perangkap Atraktan dan Kombinasinya dengan Mekanis dan Kultur Teknis
untuk Pengendalian Hama Penggerek Buah Kopi (PBKo)
Upaya
pengendalian hama penggerek buah kopi didasarkan dengan Menerapkan konsep PHT
atau Pengendalian Hama Terpadu yaitu dengan memadukan berbagai cara
pengendalian diharapkan dapat mengurangi kerugian yang ditimbulkan hama H.
hampei. Beberapa upaya pengendalian yang dapat dipadukan diantaranya adalah
dengan memperhatikan sanitasi kebun, penerapan kultur teknis yang baik,
pemanfaatan agens pengendali hayati dan penggunaan perangkap atraktan. Khusus
pengendalian hama menggunakan perangkap atraktan, petani kopi di Kelompok Tani
Makmur Jaya masih belum banyak mengenal dan menggunakannya. Atraktan adalah
senyawa atau bahan menghasilkan aroma
atau bau yang mampu merangsang hama penggerek buah kopi betina untuk mendekat
karena menyukai aromanya dan akan terperangkap pada wadah perangkap.
Perangkap
atraktan merupakan salah satu tehnik pengendalian hama penggerek buah kopi
(PBKo) yang dinilai ramah lingkungan dan tidak berisiko muncul residu
bahan kimia berbahaya pada biji kopi yang dihasilkan serta tidak merusak
lingkungan akibat penggunaan pestisida kimiawi (Wiryadiputra, 2014). Dewasa ini
terdapat beberapa atraktan sintesis dengan merek dagang komersial yang beredar
di Indonesia antara lain Hypotan, Brocap dan Koptan.
Dalam kegiatan sosialisasi ini, atraktan yang digunakan merupakan senyawa kimia yang bertujuan untuk menarik serangga betina H. hampei. Senyawa atraktan yang berada dalam kemasan saset 10 ml, diberi lubang supaya aroma yang ada dalam senyawa atraktan dapat keluar dan dapat menarik serangga betina. Atraktan yang telah diberi lubang dimasukkan ke dalam wadah perangkap. Wadah perangkap berupa botol plastik transparan bekas air minuman berukuran 600 ml yang telah diberi lubang pada 2 sisi yang berlawanan dengan ukuran 5 x 6 cm serta diberi pengait pada untuk mengaitkan saset atraktan dan di bagian bawah diberi air sabun. Fungsi dari pemberian air sabun agar serangga betina PBKo yang sudah mendekat jatuh ke dalam wadah yang telah diberi air sabun (Soesanthy, 2015).
Pemasangan perangkap dapat dipasang diantara pohon kopi dengan ketinggian
kurang lebih 1,6 meter. Cara penggunaan perangkap dengan senyawa atraktan
antara lain:
Atraktan yang dikemas dalam saset diberi lubang dengan menggunakan sebanyak 3-4 lubang. Fungsi lubang untuk mengeluarkan aroma dari senyawa atraktan agar serangga betina tertarik dan menuju ke perangkap.
Saset atraktan yang sudah diberi lubang dimasukkan dalam wadah merah berbentuk seperti tabung yang telah diberi lubang untuk menggantungkan saset atraktan
Pada bagian dasar wadah diberi air deterjen/air sabun. Fungsi dari larutan deterjen tersebut adalah untuk menampung atau menjebak serangga betina PBKo yang menuju ke wadah perangkap
Perangkap dipasang diantara pohon kopi dengan ketinggian sekitar 1,6 meter diatas permukaan tanah
Kepadatan perangkap per hektar sekitar 20-40 perangkap dengan jarak 20 meter pada lahan datar
Daya tahan atraktan di lapangan cukup lama mencapai 1-1,5 bulan
Menurut Wiryadiputra (2014) penggunaan perangkap atraktan (dengan merek Hypotan) telah diuji keefektifannya untuk mengendalikan hama PBKo pada tanaman kopi Robusta dan kopi Arabika dengan tingkat keefektifan yang sama. Pengujian Hypotan pada tanaman kopi Robusta dilakukan di Lampung yang menunjukkan bahwa pemasangan Hypotan dengan kapadatan 24 buah/ha selama dua bulan dapat menurunkan intensitas serangan PBKo sebesar 60% dan populasi serangga PBKo turun 63,74%. Selain itu Wiryadiputra (2014) melaporkan pemasangan Hypotan selama 6 bulan terbukti dapat menekan tingkat serangan PBKo dari tingkat serangan tertinggi sekitar 65,0% menjadi di bawah 10,0%. Menurut Soesanthy (2015) untuk dapat melihat keefektifan penggunaan perangkap atraktan ini maka pemasangannya harus dilakukan setidaknya 4 bulan berturut-turut. Durasi pemasangan perangkap atraktan yang lama ini juga dapat memberi fungsi lain perangkap atraktan sebagai alat monitoring/pengamatan hama PBKo. Jumlah kumbang betina yang terperangkap di wadah pada saat pengamatan dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan tindakan pengendalian yang tepat (Soesanthy, 2015).
Kesesuaian Penggunaan Perangkap Atraktan
Dengan Komponen Pengendalian lain dalam Konsep Terpadu Pengendalian Hama PBKo
Sebagai
komponen pengendalian PBKo secara terpadu, penggunaan perangkap atraktan juga
berkesuaian dengan komponen pengendalian lainnya dan penggunaannya memang sebaiknya
dipadukan dengan komponen pengendalian lain seperti sanitasi
kebun, kultur teknis dan pemanfaatan APH jamur entomopatogen Beauveria
bassiana.
1. Sanitasi Kebun Menurut Wiryadiputra (2010), dengan metode pengendalian secara kultur teknis dan sanitasi kebun, serangan hama PBKo dapat menurun dari 45% menjadi 0.5 – 3%. Upaya sanitasi kebun yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemangkasan semua cabang dan ranting yang tua/kering atau yang tidak produktif dan mengumpulkan sisa-sisa tanaman kemudian dijadikan bahan pembuatan pupuk organik (kompos) serta melakukan penyiangan gulma. Tujuan dari pemangkasaan ini adalah mengurangi tingkat kerapatan kebun sehingga menjadi tidak ideal untuk perkembangan populasi hama PBKo. Menurut Hasundutan et al., (2015) dalam Anindita dkk (2023) hama PBKo cenderung menyerang tanaman kopi yang berada di bawah naungan serta lembab, sehingga perlu dilakukan pengendalian secara terpadu.
2. Kultur Teknis Kegiatan kultur teknis yang dapat dilakukan terkait buah kopi sebagai makanan hama PBKo adalah meminimalkan keberadaan buah masak di kebun selain untuk tujuan panen. Upaya tersebut meliputi petik bubuk, rampasan buah dan lelesan. Petik Bubuk yaitu memetik semua buah yang berlubang yang dilakukan 15-30 hari menjelang panen raya. Seluruh buah yang terserang dikumpulkan kemudian disiram dengan air panas untuk membunuh serangga hama PBKo. Rampasan buah dilakukan pada akhir panen besar dengan memetik semua buah kopi yang tersisa pada ranting. Sedangkan Lelesan dilakukan dengan mengumpulkan semua buah yang jatuh ke tanah dan proses selanjutnya dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan kompos (Astuti, 2011).
3. Pemupukan Memupuk tanaman dengan pupuk yang seimbang menggunakan jenis dan dosis sesuai anjuran untuk mempercepat pemulihan tanaman.
4. Pengaturan Pohon Pelindung Memangkas pohon pelindung yang terlalu rimbun untuk memperbaiki temperatur dan kelembaban atau kondisi agroklimat.
5. Pengendalian Biologis (Agen Pengendali Hayati) Aplikasi jamur Beauveria bassiana dilakukan pada saat buah masih muda. Kebutuhan untuk 1 Ha kebun kopi yaitu 2,5 kg media biakan jamur B. bassiana selama 3x aplikasi per musim panen. Penyemprotan dilakukan pada sore hari dengan arah semprotan dari bawah daun (Astuti, 2011).
Referensi :
Anonim.
1992. Baku Operasional Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Penggerek Buah Kopi
(PBKo), Hypothenemus hampei Ferr. Direktorat Bina Perlindungan Tanaman
Perkebunan. Direktorat Jenderal Perkebunan. Departemen Pertanian.
Devina
Cinantya Anindita, Aptika Hana P.N., dan Yudha Saputra. 2023. Sosialisasi
Pengendalian Hama penggerek buah kopi (PBKo) di KTH Tani Makmur Desa Nglurup
Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung. Jurnal Selaparang Volume 7 Nomor 3
September 2023 : 1948-1952
Funny
Soesanthy. 2015. Perangkap Atraktan Sebagai alat Monitoring Sekaligus
Pengendali Hama Penggerek Buah Kopi. Infotek Perkebunan Volume 7 Nomor 11,
November 2015
Gusti
Indriati, Khaerati dan Arlia Dwi Hapsari. 2016. Penggerek Buah dan Cabang Pada
Tanaman Kopi. Sirinov Volume 4 Nomor 1, April 2016: 11-24
Ketut Ayu Sukanadi, Farriza Diyasti, Cecep
Subarjah. 2009. Pengenalan, Pengamatan Dan Pengendalian Organisme Pengganggu
Tumbuhan (Opt) Utama Kopi. Direktorat Perlindungan Perkebunan. Direktorat
Jenderal Perkebunan. Departemen Pertanian. 2009. 42 halaman
Kiki
Meidiantoro, Setyo Andi Nugroho, Sepdian Luri Asmoro, Marniyarni Tri Handayani
dan Ika Lia Novenda. 2024. Uji Efektivitas Atraktan Terhadap Serangan Hama PBKo
(Hypothenemus hampei) Menggunakan Senyawa Etanol, Metanol dan Ekstrak
Biji Kopi. Prosiding Seminar dan Bimbingan Teknis Pertanian Politeknik Negeri
Jember 2024: Peningkatan Ketahanan Pangan Melalui Adaptasi Perubahan Iklim
Untuk Pertanian Berkelanjutan 13-14 Juni 2024. Agropross, National Conference
Proceedings of Agriculture. Hal: 439-445
Rita
Harni Samsudin Widi Amaria Gusti Indriati Funny Soesanthy Khaerati Efi Taufiq
Abdul Muis Hasibuan Arlia Dwi Hapsari. 2015. Teknologi Pengendalian Hama Dan
Penyakit Tanaman Kopi. IAARD Press. Jakarta. 78 hlm.
Soekadar
Wirdiputra. 2014. Hypotan®: Atraktan Pengendali Hama Penggerek Buah Kopi yang
Ramah Lingkungan. Warta Pusat Penelitian Kopi Dan Kakao Indonesia Volume 26 |
Nomor 1 | Februari 2014
Warlinson
Girsang, Rosmadelina Purba, Rudiyantono. 2020. Intensitas Serangan Hama
Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei Ferr.) Pada Tingkat Umur
Tanaman Yang Berbeda dan Upaya Pengendalian Memanfaatkan Atraktan. Journal
Tabaro Volume 4 Nomor 1, Mei 2020. Hlm: Hal 27-34
POTENSI PARASITOID TELUR SEBAGAI AGEN PENGENDALI HAYATI ALAMIAH HAMA WERENG PUCUK SANURUS SP PADA TANAMAN KOPI
Diposting
Sabtu, 25 Oktober 2025 04:10 pm
Oleh Admin Balai Pontianak
Oleh :
Erlan Ardiana Rismansyah, S.P (POPT Ahli Muda)
Maudiyani Yurnanti, S.P (POPT Ahli Pertama)
Wereng pucuk Sanurus
sp merupakan hama yang diketahui baru menyerang pada tanaman kopi di Desa
Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya. Serangan hama ini
diperkirakan seluas 5 hektar. Sebelum ini tidak ada informasi wereng pucuk Sanurus
sp sebagai hama pada tanaman kopi di Kalimantan Barat. BPTP Pontianak sebagai salah satu UPT Teknis
Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan di Kalimantan telah terjun
untuk melakukan kegiatan pengamatan dan pengendalian terhadap OPT baru ini
melalui unit Brigade Pelindungan Tanaman (BPT). Upaya pengendalian yang telah
dilakukan secara nyata hingga saat ini baru dalam bentuk pengendalian secara
kimiawi serta beberapa rekomendasi teknis perbaikan budidaya kopi. Di sisi lain
telah ditemukan pula beberapa musuh alami dari hama ini selama kegiatan
pengamatan dan pengendalian wereng pucuk dilaksanakan meliputi beberapa jenis
predator seperti belalang sembah (Mantidae), laba-laba predator, semut dan
parasitoid telur. Potensi dari musuh-musuh alami ini terhadap wereng pucuk Sanurus
sp belum banyak diketahui di Kalimantan Barat termasuk parasitoid telur
yang juga ditemukan selama pengambilan sampel dan pengamatan terhadap hama
wereng pucuk Sanurus sp.
Mengenal Wereng
Pucuk Sanurus sp Pada Tanaman Kopi
Kejadian serangan
wereng pucuk Sanurus sp serta kerugian yang ditimbulkannya pada tanaman
kopi belum banyak diketahui. Hama ini lebih dikenal serangannya pada tanaman
jambu mete terutama di daerah Nusa Tenggara Barat (Supeno et al., 2007).
Wereng pucuk yang menyerang tanaman kopi di Desa Punggur Kecil telah diidentifikasikan sebagai Sanurus spp oleh Laboratorium Identifikasi OPT BPTP Pontianak. Sanurus spp termasuk ke dalam ordo Hemiptera famili Flatidae atau keluarga wereng (planthopper), memiliki tahapan perkembangan hidup tidak sempurna atau hemimetabola yaitu telur, nimfa dan serangga dewasa (imago) (Harni et al., 2015). Telur diletakkan oleh imago betina secara berkelompok dibawah atau diatas permukaan daun, pada pucuk dan tangkai bunga. Koloni telur berwarna putih atau krem, kuning, coklat atau abu-abu kehitaman dan dilapisi serbuk lilin yang mengandung madu dengan jumlah berkisar antara 30-80 butir (Purnayasa, 2003; Wahyono, 2005; Supeno, 2011). Telur berwarna putih bening, berbentuk lonjong, panjang 0,9 – 1,1 mm dengan diameter 0,3 – 0,4 mm (Supeno, 2011). Lama stadia telur adalah 5-9 Hari (Mardiningsih et al., 2004)
Tubuh nimfa berwarna putih kekuningan yang seluruh permukaannya diselimuti dengan lapisan lilin berwarna putih seperti salju. Nimfa hidup secara bergerombol di permukaan bawah daun dan mengeluarkan ekskresi berupa cairan yang lengket dan manis yang dikenal dengan embun madu. Nimfa mengalami perubahan instar beberapa tahap. Pada populasi yang tinggi tanaman terlihat tertutup seperti salju akibat lapisan lilin (Kalshoven, 1981 dalam Supeno, 2011; Siswanto et al, 2003). Menurut Wahyono (2005) Nimfa Sanurus sp terdiri atas enam instar. Lama stadia nimfa instar pertama sampai keenam berturut-turut adalah 6-10 hari, 6-10 hari, 6-10 hari, 6-10 hari, 6-11 hari, dan 5-11 hari atau total masa nimfa adalah 42-49 hari.
Serangga dewasa bila dilihat sekilas seperti kupu-kupu kecil, mirip dengan Lawana candida tetapi ukurannya lebih kecil. Tubuh dan kaki berwarna kuning pucat, warna kepala dan sayap bervariasi, ada yang putih, hijau pucat atau putih kemerahan. Pada kepala terdapat sepasang mata majemuk berwarna coklat gelap. Panjang dari ujung kepala sampai ujung sayap sekitar 8-10 mm (Siswanto et al., 2003). Pada saat istirahat atau hinggap, sayap dilipat menutup tubuh dengan posisi tegak ke bawah seperti tenda, jika direntangkan mencapai 30–35 mm (Harni et al., 2015).
Mardiningsih (2005) dan Siswanto et al (2003) mengatakan bahwa S. indecora memiliki variasi warna, seperti putih dan hijau polos, putih atau hijau dengan kombinasi garis merah di sepanjang tepi tegmen (sayap depan), hijau pucat dan putih kemerahan. Akan tetapi Supeno et al (2009) mengatakan bahwa kedua Sanurus tersebut (yakni warna hijau dan putih) memiliki tekstur tubuh yang berbeda dimana Sanurus warna hijau, tubuhnya keras, sedangkan Sanurus warna putih tubuhnya lebih lembut. Menurut Supeno (2011) Sanurus indecora berwarna putih sedangkan S. flavovenosus berwarna hijau. Rismayani dan Heryanto (2020) mengatakan untuk membedakan antara S. indecora dengan S. flavovenosus dapat dideteksi secara langsung dengan melihat perbedaan warnanya. Spesies S. indecora berwarna putih kecoklatan, S. flavovenosus berwarna hijau dan di sepanjang tepi sayapnya terdapat garis berwarna oranye kecoklatan.
Serangga dewasa wereng pucuk pada kebun kopi di Desa Punggur Kecil ditemukan setidaknya ada tiga macam wereng dengan motif dan warna yang berbeda yaitu Wereng pucuk berwarna putih, wereng pucuk berwarna hijau pucat dan wereng pucuk berwarna hijau cerah. Wereng berwarna putih diduga sebagai Sanurus indecora (A), sementara yang berwarna hijau pucat (B) diduga Sanurus flavovenosus dan wereng yang berwarna hijau cerah diduga merupakan Salurnis sp (C). Adapun identifikasi lanjutan secara lebih mendetil perlu dilakukan untuk memastikan jenis dari wereng tersebut.
Hama wereng pucuk (S. indecora dan S. flavovenosus) merupakan jenis serangga yang bersifat polifag karena mempunyai tanaman inang pada lebih dari satu jenis tanaman semusim dan tahunan Rismayani dan Haryanto, 2020). Beberapa inang dari wereng pucuk ini antara lain tanaman jambu mete, jambu biji, sirsak, jeruk, belimbing dan tanaman mangkokan (Mardiningsih et al., 2004;).
Serangannya pada
tanaman jambu mete dapat menyebabkan kehilangan hasil mencapai 57,83%
(Mardiningsih et al., 2004). Wiratno
et al (2003) dalam Supeno et al (2007) mengatakan bahwa
serangan S. indecora menyebabkan penurunan berat 100 gelondong mete dari
544,9 gram menjadi 470,4 gram.
Pada tanaman kopi hama wereng pucuk Sanurus sp dapat menyerang kopi Arabika dan Robusta, tetapi lebih menyukai Arabika. Wereng menyerang baik pada daun, cabang, dan batang tanaman. Pada daun lebih banyak ditemukan di permukaan bawah, terutama fase nimfa, dan tampak nimfa tertutup dengan lapisan lilin tebal, menyelimuti tanaman sehingga bagian yang terserang seperti tertutup kapas. Stadia nimfa dan imago merupakan stadia yang aktif makan. Wereng menusuk dan mengisap cairan tanaman. Bagian tanaman yang terserang menjadi terhambat pertumbuhannya, tunas mengalami malformasi, rontok, atau mati. Kerusakan tanaman dapat bertambah parah jika lapisan lilin tersebut ditumbuhi embun jelaga karena dapat menghambat fotosintesis. Penampakan keseluruhan terlihat kotor, hitam, daun terhambat menjalani fotosintesis. Embun jelaga merupakan salah satu bentuk asosiasi jamur dengan wereng ini. Imago bertengger pada batang dan ranting tanaman, terlihat seperti duri. Jika diganggu, imago bergeser menjauh atau terbang.
Potensi
Parasitoid Telur sebagai Musuh Alami dari Wereng Pucuk Pada Tanaman Kopi
Beberapa jenis
musuh alami diketahui telah menjadi musuh alami dari wereng pucukdi
lapangan dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai agens hayati (Syamsudin dan
Trisawa, 2011). Musuh alami tersebut antara lain parasitoid telur Aphanomerus
sp (Purnayasa, 2003), ngengat parasitoid Epieurybrachys sp (Lepidoptera,
Epipyropidae) (Supeno et al., 2007; Supeno, 2009), jamur entomopatogen Synnematium
sp (Wikardi et al., 2001; Mardiningsih et al., 2006;
Mardiningsih, 2007), dan Hirsutella sp (Siswanto et al., 2003).
Musuh alami lain dari golongan predator adalah kumbang Coccinellidae,
laba-laba, Chrysopa sp, lalat buas (Asilidae), belalang sembah
(Mantidae), belalang pedang (Tettigoniidae) dan semut rang-rang (Siswanto et
al., 2003).
Parasitoid Aphanomerus
sp dapat memparasit telur Sanurus indecora dengan tingkat parasitasi
yang tinggi di laboratorium 83% dan lapangan 93,2%. Perbedaan ini dapat
disebabkan oleh lingkungan dan keragaman nutrisi (Purnayasa, 2003). Penelitian Supeno
(2011) menyebutkan bahwa wereng pucuk diserang oleh larva Epieurybrachys
sp dengan tingkat parasitasi mencapai 20,4% pada populasi 62,9 ekor wereng per
ranting di lapangan.
Cendawan Synnematium
sp memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai agens hayati untuk pengendalian Sanurus
sp. Cendawan tersebut dapat menginfeksi telur Sanurus sp umur < 5
hari dan menyebabkan telur tersebut tidak menetas, sedangkan pada telur yang
berumur > 4 hari juga terinfeksi namun 3-5% telur masih menetas menjadi
nimfa. Kemampuan cendawan terhadap mortalitas imago Sanurus sp sangat
tinggi yaitu sampai 100%. Kematian terjadi mulai 4 hari setelah aplikasi dengan
kematian berkisar antara 36,7 sampai 75% bergantung pada perlakuan inokulasi.
Inokulasi pakan dan serangga menyebabkan tingkat kematian lebih tinggi (Wikardi
et al., 2001). Pada konsentrasi 20 gram per liter atau setara dengan
konsentrasi spora 1,64 x 108 efektif menurunkan populasi Sanurus sebesar
24,14% (Mardiningsih et al., 2006).
Selama kegiatan
pengamatan dan pengendalian hama wereng pucuk pada tanaman kopi di Desa Punggur
Kecil telah ditemukan beberapa musuh alami dari wereng pucuk meliputi beberapa
jenis predator seperti belalang sembah (Mantidae), laba-laba predator, semut serta
parasitoid telur.
Untuk mengetahui
tingkat parasitasi dari parasitoid telur yang ditemukan maka dilakukan kegiatan
percobaan kecil dengan mengumpulkan telur wereng pucuk dari lapangan dan
dipelihara di laboratorium. Kelompok telur hama wereng pucuk Sanurus dari Kebun
kopi Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya diperoleh sebanyak
41 kelompok telur yang berada di permukaan daun kopi untuk selanjutnya
dipelihara di laboratorium. Paket kelompok telur ini ditempatkan di dalam botol
plastik transparan, setiap tabung gelas berisi 1 paket kelompok telur dan
diamati setiap hari. Botol yang berisi kelompok telur yang keluar parasitoid
dan yang tidak keluar parasitoid kemudian dicatat dan ditabulasi jumlahnya.
Pengamatan dilaksanakan selama 10 hari mengikuti lama stadia telur dari wereng
pucuk.
Setelah 10 hari pengamatan diperoleh 24 kelompok telur yang terparasitasi oleh parasitoid dimana pada wadah botol-botol tersebut ditemukan parasitoid, dan pada botol sisanya (17 botol) tidak ditemukan parasitoid. Dengan demikian data pengamatan menunjukkan tingkat parasitasi alamiah di lapangan oleh parasitoid telur terhadap kelompok telur wereng pucuk pada tanaman kopi di Desa Punggur Kecil mencapai 58,8%. Persentase parasitasi ini lebih rendah dari yang dilaporkan oleh Purnayasa (2003) dimana tingkat parasitasi lapangannya mencapai 93,2% dan di laboratorium sebesar 83%. Faktor iklim dan tindakan pengendalian diduga menjadi penyebab tingkat parasitasi yang diperoleh lebih rendah dari laporan Purnayasa. Kegiatan pengambilan kelompok telur untuk pengamatan tingkat parasitasi ini dilaksanakan pada saat kondisi curah hujan tinggi. Selain itu, pengambilan kelompok telur juga dilaksanakan setelah dilakukan pengendalian secara kimiawi dengan penyemprotan sehingga populasi wereng pucuk telah menurun. Efek samping dari penyemprotan insektisida kimia selain menurunkan populasi wereng pucuk juga dapat mematikan parasitoid.
Hasil pengamatan
juga menunjukkan bahwa jumlah parasitoid yang keluar dari setiap botol
berbeda-beda dengan kisaran dari hanya 1 parasitoid per botol hingga yang
terbanyak 44 ekor parasitoid per botol dan rata-rata per kelompok telur sekitar
15,25 ekor parasitoid. Dalam satu kelompok telur tidak semua telur
terparasitasi karena ditemukan pula botol yang berisi parasitoid dan nimfa
wereng yang menetas dari telur. Purnayasa
(2003) menyatakan satu telur S. indecora hanya diinfestasi oleh satu
telur parasitoid Aphanomerus sp. Sifat parasitasi yang demikian disebut single
parasitism dan lebih efisien bila dibandingkan dengan multi-parasitism
atau super-parasitism, yaitu satu telur inang dapat diinvestasi oleh
lebih dari satu telur dari spesies parasitoid yang sama (super-parasitism)
maupun yang berbeda (multi-parasitism) (De Bach, 1964; Van de Bosch dan
Messenger, 1973 dalam Purnayasa, 2003).
Dalam pengamatan ini tidak dilakukan identifikasi terhadap parasitoid telur yang ditemukan. Meski demikian Purnayasa (2003) dalam penelitiannya telah mengamati parasitoid telur dari Sanurus indecora dan telah mengidentifikasi parasitoid telur tersebut hingga ke tingkat genus. Hasilnya serangga parasitoid yang dimaksud termasuk ke dalam ordo Hymenoptera, superfamili Proctotrupoideae, Famili platygasteridae dan genus Aphanomerus sehingga parasitoid ini sekarang disebut Aphanomerus sp. Di Indonesia parasitoid ini belum banyak diberitakan, namun kelompok dari famili ini kebanyakan merupakan parasitoid serangga puru pada tanaman (Kalshoven, 1981 dalam Purnayasa, 2003). Parasitoid dewasa berukuran panjang sekitar 1 mm dan berwarna merah. Hanya sayang sampai saat ini belum teramati seks-rasio-nya (Purnayasa, 2003).
KESIMPULAN
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan terhadap parasitoid telur dapat disimpulkan bahwa parasitoid telur mempunyai potensi sebagai musuh alami wereng pucuk Sanurus sp pada tanaman kopi dengan tingkat parasitasi alamiahnya mencapai 58,8%.
Referensi :
Bambang Supeno,
Pudjianto, Utomo Kartosuwondo. 2007. Wereng Pucuk Mete Sanurus indecora J
(Hemiptera, Flatidae) Sebagai Inang Ngengat Parasitoid (Epipyropidae,
Lepidoptera) di Pertanaman Mete Pulau Lombok. Jurnal Entomologi Indonesia
Volume 4 Nomor 2, September 2007: 98-110
Bambang Supeno,
Damayanti Buchori dan Pudjianto. 2010. Kajian wereng pucuk mete Sanurus spp
(Hemiptera, Flatidae) di Pertanaman Jambu Mete di Pulau Lombok. Zoo Indonesia,
2010, 20(1): 11-16
Bambang Supeno.
2011. Bioekologi Ngengat Parasitoid (Lepidoptera, Epipytopidae) Pada Wereng
Pucuk Mete, Sanurus spp (Hemiptera, Flatidae) di Pertanaman Jambu Mete
Pulau Lombok. Disertasi. Institut Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
2011.
Elna Karmawati.
2006. Peranan Faktor Lingkungan Terhadap Populasi Helopeltis Spp. Dan Sanurus
Indecora Pada Jambu Mete. Jurnal Littri 12(4), Desember 2006. Hlm. 129 – 134
I Gusti Nyoman
Rai Purnayasa. 2003. Parasitasi Aphanomerus Sp Pada Wereng Pucuk Jambu Mente
Sanurus Indecora Jacobi. Jurnal Littri Volume 9 Nomor 1, Mare 2003
Rismayani dan
Rubi Heryanto. 2020. Serangan Hama Wereng Pucuk Sanurus Indecora & Sanurus
Flavovenosus Pada Sumber Daya Genetik (SDG) Mengkudu (Morinda Citrifolia).
Warta Balittro Volume 37 Nomor 74 Tahun 2020
Rita Harni
Samsudin Widi Amaria Gusti Indriati Funny Soesanthy Khaerati Efi Taufiq Abdul
Muis Hasibuan Arlia Dwi Hapsari. 2015. Teknologi Pengendalian Hama Dan Penyakit
Tanaman Kopi. IAARD Press. Jakarta. 78 hlm.
Samsudin dan Iwa
Mara Trisawa. 2011. Teknologi Pengendalian Hayati Hama Penghisap Pucuk dan
Bunga Pada Jambu Mete. Buletin RISTRI Volume 2 (2), 2011
Siswanto, E. A.
Wikardi Wiratno dan E. Karmawati. 2003. Identifikasi Wereng Pucuk Jambu Mete Sanurus
indecora dan Beberapa Aspek Biologinya. Jurnal Littri Volume 9 Nomor 4,
Desember 2003.
Tri L
Mardiningsih, Andi M. Amir, I. M. Trisawa dan I.G.N.R. Purnayasa. 2004.
Bioekologi dan Pengaruh Serangan Sanurus indecora Terhadap Kehilangan Hasil
Jambu Mete. Jurnal Littri 10(3), September 2004. Hlm. 112-117
Tri Eko Wahyono.
2005. Deskripsi Hama Utama Dan Musuh Alami Pada Tanaman Jambu Mete Di Lombok,
Nusa Tenggara Barat. Buletin Teknik Pertanian Vol. 10, Nomor 1, 2005
Tri L.
Mardiningsih, Elna Karmawati dan Tri Eko Wahyuno. 2006. Peranan Synnematium Sp
Dalam Pengendalian Sanurus Indecora Jacobi (Homoptera, Flatidae). Jurnal Littri
Volume 12 Nomor 3, September 2006: 103-108
Tri Lestari
Mardiningsih. 2007. Potensi Cendawan Synnematium sp Untuk Mengendalikan Wereng
Pucuk Jambu Mete (Sanurus indecora Jacobi). Jurnal Litbang Pertanian, 26(4),
2007
Amrul Jihadi,
Bambang Supeno, Ruth Stella Petrunela Thei. 2023. Identifikasi Hama Wereng Pada
Tanaman Mangga (Mangifera indica L) di Kabupaten Lombok Utara. Agroteksos, 33
(2), Agustus 2023
Bagikan Artikel Ini
BPTP Pontianak Laksanakan Forum Konsultasi Publik (FKP) Tahun 2025
Diposting
Jumat, 24 Oktober 2025 08:10 am
Oleh Admin Balai Pontianak
Pontianak – Balai Pelindungan Tanaman Perkebunan (BPTP) Pontianak melaksanakan kegiatan Forum Konsultasi Publik pada hari Jumat, 24 Oktober 2025. Kegiatan ini merupakan salah satu tahapan penting dalam proses penyusunan dan penyempurnaan Standar Pelayanan Publik sebagaimana diamanatkan oleh UU No. 25 Tahuun 2009 tentang Pelayanan publik memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Forum ini diikuti oleh perwakilan dari beberapa lembaga mitra, akademisi, kelompok tani, pelaku usaha, media massa, serta pegawai BPTP Pontianak. Melalui forum ini, BPTP Pontianak membuka ruang partisipatif bagi masyarakat dan pemangku kepentingan untuk memberikan masukan, saran, serta tanggapan terhadap rancangan standar pelayanan BPTP Pontianak yang meliputi aspek waktu, prosedur, biaya, dan kualitas layanan yang diberikan kepada pengguna.
Forum konsultasi publik ini dilaksanakan sebagai sarana strategis untuk memastikan bahwa setiap layanan yang diberikan benar-benar berorientasi pada kebutuhan dan kepuasan masyarakat, serta dilaksanakan secara transparan, efisien, dan akuntabel.
Melalui kegiatan ini, BPTP Pontianak menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik di bidang pelindungan perkebunan demi mendukung pembangunan perkebunan berkelanjutan di wilayah kerja BPTP Pontianak.
Kunjungan Kerja Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Di Kabupaten Blora
Diposting
Kamis, 16 Oktober 2025 11:10 am
Oleh Admin Balai Pontianak
Blora, Kamis, 16 Oktober 2025. Bertempat di Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora, Wakil Bupati Blora Hj. Sri Setyorini menerima kunjungan kerja Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Dr. Abdul Roni Angkat. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi dalam mendukung pengembangan kawasan tebu di Kabupaten Blora.Dalam kesempatan tersebut, dilakukan pemberian plakat kenang-kenangan sebagai bentuk apresiasi dan dukungan terhadap Kementerian Pertanian, khususnya Direktorat Jenderal Perkebunan, yang terus berkomitmen mendorong pengembangan kawasan tebu di Kabupaten Blora.Hadir bersama Plt. Direktur Jenderal Perkebunan antara lain Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan, Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Kepala BPTP Pontianak, serta Kabag Umum Ditjenbun. Dalam arahannya, Plt. Dirjen Perkebunan menekankan pentingnya pengembangan kawasan tebu di Kabupaten Blora sebagai bagian dari upaya mendukung program swasembada pangan, khususnya gula, sesuai arahan pemerintah.Agenda dilanjutkan dengan kunjungan ke lokasi CPCL Bongkar Ratoon di Kelompok Tani Tirta Makmur, Desa Sendangharjo, Kecamatan Blora. Kunjungan ini bertujuan untuk melihat langsung kondisi lahan serta kesiapan petani dalam melaksanakan kegiatan bongkar ratoon dan perluasan kawasan tebu.Pemerintah Kabupaten Blora menyambut baik program Kementerian Pertanian khususnya kegiatan bongkar ratoon dan perluasan kawasan tebu di wilayah Kabupaten Blora. Wakil Bupati berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan produktivitas tebu petani di kabupaten blora.
Bagikan Artikel Ini
BPTP Pontianak Hadiri Tanam Perdana Bongkar Ratoon Tebu di Kabupaten Rembang
Diposting
Oleh Admin Balai Pontianak
Rembang, Kamis, 16 Oktober 2025. BPTP Pontianak menghadiri Tanam Perdana Bongkar Ratoon (BR) Tebu di Kabupaten Rembang yang menjadi salah satu rangkaian program strategis Kementerian Pertanian dalam meningkatkan produktivitas dan swasembada gula nasional. Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak, antara lain Bupati Rembang, Plt. Direktur Direktorat Jenderal Perkebunan, Kepala Kejaksaan Negeri Rembang, Tenaga Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Provinsi Jawa Tengah, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, Direktur Utama PT SGN, General Manager Pabrik Gula Rendeng, Sragi, Mojo, GMM, Pakis, dan Trangkil, BPTP Pontianak, Kepala Kepolisian Resor Rembang, Komandan Kodim 0720/Rembang, Komandan Danyon TP 888, Administratur Perhutani Wilayah Rembang, DPD dan DPC APTRI Jawa Tengah, KPTRI Jawa Tengah dan KPTRI Rembang, serta penyuluh, Babinsa, dan petani lingkup Kabupaten Rembang.Acara diawali dengan sambutan dari Bupati Rembang, yang menyampaikan apresiasi atas sinergi berbagai pihak dalam mendukung pengembangan tebu di Rembang. Dalam kesempatan ini, Plt. Direktur Direktorat Jenderal Perkebunan memberikan arahan bahwa Tanam Perdana Bongkar Ratoon Tebu di Kabupaten Rembang merupakan bagian dari upaya Kementerian Pertanian untuk mencapai swasembada gula melalui peningkatan produktivitas tebu nasional. Program ini mencakup pengembangan ribuan hektar lahan di berbagai daerah, termasuk 3.050 hektar di Kabupaten Rembang, dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat kemitraan dengan pabrik gula, serta mendorong pertumbuhan ekonomi.Selanjutnya, Direktur Utama PT. Sinergi Gula Nusantara (SGN) juga memberikan arahan terkait pentingnya penguatan kemitraan antara petani dan industri gula sebagai langkah strategis dalam memastikan keberlanjutan program tebu nasional.Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama petani, di mana para petani menyampaikan harapan agar mulai tahun 2026 Indonesia dapat menghentikan impor gula melalui peningkatan produksi dalam negeri. Acara kemudian diakhiri dengan penyerahan bantuan kepada petani serta pelaksanaan tanam bersama sebagai simbol dimulainya pelaksanaan kegiatan Bongkar Ratoon di Kabupaten Rembang.
Bagikan Artikel Ini
Pencapaian Kinerja BPTP Pontianak Edisi Triwulan III Tahun 2025
Diposting
Senin, 13 Oktober 2025 11:10 am
Oleh Admin Balai Pontianak
Periode Waktu : Triwulan III, 01 Juli -30 September 2025