BALAI PELINDUNGAN TANAMAN PERKEBUNAN PONTIANAK
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

POTENSI PARASITOID TELUR SEBAGAI AGEN PENGENDALI HAYATI ALAMIAH HAMA WERENG PUCUK SANURUS SP PADA TANAMAN KOPI

Diposting     Sabtu, 25 Oktober 2025 04:10 pm    Oleh    Admin Balai Pontianak



Oleh :  

  1. Erlan Ardiana Rismansyah, S.P (POPT Ahli Muda)
  2. Maudiyani Yurnanti, S.P (POPT Ahli Pertama)

Wereng pucuk Sanurus sp merupakan hama yang diketahui baru menyerang pada tanaman kopi di Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya. Serangan hama ini diperkirakan seluas 5 hektar. Sebelum ini tidak ada informasi wereng pucuk Sanurus sp sebagai hama pada tanaman kopi di Kalimantan Barat.  BPTP Pontianak sebagai salah satu UPT Teknis Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan di Kalimantan telah terjun untuk melakukan kegiatan pengamatan dan pengendalian terhadap OPT baru ini melalui unit Brigade Pelindungan Tanaman (BPT). Upaya pengendalian yang telah dilakukan secara nyata hingga saat ini baru dalam bentuk pengendalian secara kimiawi serta beberapa rekomendasi teknis perbaikan budidaya kopi. Di sisi lain telah ditemukan pula beberapa musuh alami dari hama ini selama kegiatan pengamatan dan pengendalian wereng pucuk dilaksanakan meliputi beberapa jenis predator seperti belalang sembah (Mantidae), laba-laba predator, semut dan parasitoid telur. Potensi dari musuh-musuh alami ini terhadap wereng pucuk Sanurus sp belum banyak diketahui di Kalimantan Barat termasuk parasitoid telur yang juga ditemukan selama pengambilan sampel dan pengamatan terhadap hama wereng pucuk Sanurus sp.

Mengenal Wereng Pucuk Sanurus sp Pada Tanaman Kopi     

Kejadian serangan wereng pucuk Sanurus sp serta kerugian yang ditimbulkannya pada tanaman kopi belum banyak diketahui. Hama ini lebih dikenal serangannya pada tanaman jambu mete terutama di daerah Nusa Tenggara Barat (Supeno et al., 2007).

Wereng pucuk yang menyerang tanaman kopi di Desa Punggur Kecil telah diidentifikasikan sebagai Sanurus spp oleh Laboratorium Identifikasi OPT BPTP Pontianak. Sanurus spp termasuk ke dalam ordo Hemiptera famili Flatidae atau keluarga wereng (planthopper), memiliki tahapan perkembangan hidup tidak sempurna atau hemimetabola yaitu telur, nimfa dan serangga dewasa (imago) (Harni et al., 2015). Telur diletakkan oleh imago betina secara berkelompok dibawah atau diatas permukaan daun, pada pucuk dan tangkai bunga. Koloni telur berwarna putih atau krem, kuning, coklat atau abu-abu kehitaman dan dilapisi serbuk lilin yang mengandung madu dengan jumlah berkisar antara 30-80 butir (Purnayasa, 2003; Wahyono, 2005; Supeno, 2011). Telur berwarna putih bening, berbentuk lonjong, panjang 0,9 – 1,1 mm dengan diameter 0,3 – 0,4 mm (Supeno, 2011). Lama stadia telur adalah 5-9 Hari (Mardiningsih et al., 2004)

Tubuh nimfa berwarna putih kekuningan yang seluruh permukaannya diselimuti dengan lapisan lilin berwarna putih seperti salju. Nimfa hidup secara bergerombol di permukaan bawah daun dan mengeluarkan ekskresi berupa cairan yang lengket dan manis yang dikenal dengan embun madu. Nimfa mengalami perubahan instar beberapa tahap. Pada populasi yang tinggi tanaman terlihat tertutup seperti salju akibat lapisan lilin (Kalshoven, 1981 dalam Supeno, 2011; Siswanto et al, 2003). Menurut Wahyono (2005) Nimfa Sanurus sp terdiri atas enam instar. Lama stadia nimfa instar pertama sampai keenam berturut-turut adalah 6-10 hari, 6-10 hari, 6-10 hari, 6-10 hari, 6-11 hari, dan 5-11 hari atau total masa nimfa adalah 42-49 hari.

Serangga dewasa bila dilihat sekilas seperti kupu-kupu kecil, mirip dengan Lawana candida tetapi ukurannya lebih kecil. Tubuh dan kaki berwarna kuning pucat, warna kepala dan sayap bervariasi, ada yang putih, hijau pucat atau putih kemerahan. Pada kepala terdapat sepasang mata majemuk berwarna coklat gelap. Panjang dari ujung kepala sampai ujung sayap sekitar 8-10 mm (Siswanto et al., 2003). Pada saat istirahat atau hinggap, sayap dilipat menutup tubuh dengan posisi tegak ke bawah seperti tenda, jika direntangkan mencapai 30–35 mm (Harni et al., 2015).

Mardiningsih (2005) dan Siswanto et al (2003) mengatakan bahwa S. indecora memiliki variasi warna, seperti putih dan hijau polos, putih atau hijau dengan kombinasi garis merah di sepanjang tepi tegmen (sayap depan), hijau pucat dan putih kemerahan. Akan tetapi Supeno et al (2009) mengatakan bahwa kedua Sanurus tersebut (yakni warna hijau dan putih) memiliki tekstur tubuh yang berbeda dimana Sanurus warna hijau, tubuhnya keras, sedangkan Sanurus warna putih tubuhnya lebih lembut. Menurut Supeno (2011) Sanurus indecora berwarna putih sedangkan S. flavovenosus berwarna hijau. Rismayani dan Heryanto (2020) mengatakan untuk membedakan antara S. indecora dengan S. flavovenosus dapat dideteksi secara langsung dengan melihat perbedaan warnanya. Spesies S. indecora berwarna putih kecoklatan, S. flavovenosus berwarna hijau dan di sepanjang tepi sayapnya terdapat garis berwarna oranye kecoklatan.

Serangga dewasa wereng pucuk pada kebun kopi di Desa Punggur Kecil ditemukan setidaknya ada tiga macam wereng dengan motif dan warna yang berbeda yaitu Wereng pucuk berwarna putih, wereng pucuk berwarna hijau pucat dan wereng pucuk berwarna hijau cerah. Wereng berwarna putih diduga sebagai Sanurus indecora (A), sementara yang berwarna hijau pucat (B) diduga Sanurus flavovenosus dan wereng yang berwarna hijau cerah diduga merupakan Salurnis sp (C). Adapun identifikasi lanjutan secara lebih mendetil perlu dilakukan untuk memastikan jenis dari wereng tersebut.

Hama wereng pucuk (S. indecora dan S. flavovenosus) merupakan jenis serangga yang bersifat polifag karena mempunyai tanaman inang pada lebih dari satu jenis tanaman semusim dan tahunan Rismayani dan Haryanto, 2020). Beberapa inang dari wereng pucuk ini antara lain tanaman jambu mete, jambu biji, sirsak, jeruk, belimbing dan tanaman mangkokan (Mardiningsih et al., 2004;).

Serangannya pada tanaman jambu mete dapat menyebabkan kehilangan hasil mencapai 57,83% (Mardiningsih et al., 2004).  Wiratno et al (2003) dalam Supeno et al (2007) mengatakan bahwa serangan S. indecora menyebabkan penurunan berat 100 gelondong mete dari 544,9 gram menjadi 470,4 gram.  

Pada tanaman kopi hama wereng pucuk Sanurus sp dapat menyerang kopi Arabika dan Robusta, tetapi lebih menyukai Arabika. Wereng menyerang baik pada daun, cabang, dan batang tanaman. Pada daun lebih banyak ditemukan di permukaan bawah, terutama fase nimfa, dan tampak nimfa tertutup dengan lapisan lilin tebal, menyelimuti tanaman sehingga bagian yang terserang seperti tertutup kapas. Stadia nimfa dan imago merupakan stadia yang aktif makan. Wereng menusuk dan mengisap cairan tanaman. Bagian tanaman yang terserang menjadi terhambat pertumbuhannya, tunas mengalami malformasi, rontok, atau mati. Kerusakan tanaman dapat bertambah parah jika lapisan lilin tersebut ditumbuhi embun jelaga karena dapat menghambat fotosintesis. Penampakan keseluruhan terlihat kotor, hitam, daun terhambat menjalani fotosintesis. Embun jelaga merupakan salah satu bentuk asosiasi jamur dengan wereng ini. Imago bertengger pada batang dan ranting tanaman, terlihat seperti duri.  Jika diganggu, imago bergeser menjauh atau terbang.

Potensi Parasitoid Telur sebagai Musuh Alami dari Wereng Pucuk Pada Tanaman Kopi

Beberapa jenis musuh alami diketahui telah menjadi musuh alami dari wereng pucukdi lapangan dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai agens hayati (Syamsudin dan Trisawa, 2011). Musuh alami tersebut antara lain parasitoid telur Aphanomerus sp (Purnayasa, 2003), ngengat parasitoid Epieurybrachys sp (Lepidoptera, Epipyropidae) (Supeno et al., 2007; Supeno, 2009), jamur entomopatogen Synnematium sp (Wikardi et al., 2001; Mardiningsih et al., 2006; Mardiningsih, 2007), dan Hirsutella sp (Siswanto et al., 2003). Musuh alami lain dari golongan predator adalah kumbang Coccinellidae, laba-laba, Chrysopa sp, lalat buas (Asilidae), belalang sembah (Mantidae), belalang pedang (Tettigoniidae) dan semut rang-rang (Siswanto et al., 2003).

Parasitoid Aphanomerus sp dapat memparasit telur Sanurus indecora dengan tingkat parasitasi yang tinggi di laboratorium 83% dan lapangan 93,2%. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh lingkungan dan keragaman nutrisi (Purnayasa, 2003). Penelitian Supeno (2011) menyebutkan bahwa wereng pucuk diserang oleh larva Epieurybrachys sp dengan tingkat parasitasi mencapai 20,4% pada populasi 62,9 ekor wereng per ranting di lapangan.

Cendawan Synnematium sp memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai agens hayati untuk pengendalian Sanurus sp. Cendawan tersebut dapat menginfeksi telur Sanurus sp umur < 5 hari dan menyebabkan telur tersebut tidak menetas, sedangkan pada telur yang berumur > 4 hari juga terinfeksi namun 3-5% telur masih menetas menjadi nimfa. Kemampuan cendawan terhadap mortalitas imago Sanurus sp sangat tinggi yaitu sampai 100%. Kematian terjadi mulai 4 hari setelah aplikasi dengan kematian berkisar antara 36,7 sampai 75% bergantung pada perlakuan inokulasi. Inokulasi pakan dan serangga menyebabkan tingkat kematian lebih tinggi (Wikardi et al., 2001). Pada konsentrasi 20 gram per liter atau setara dengan konsentrasi spora 1,64 x 108 efektif menurunkan populasi Sanurus sebesar 24,14% (Mardiningsih et al., 2006).

Selama kegiatan pengamatan dan pengendalian hama wereng pucuk pada tanaman kopi di Desa Punggur Kecil telah ditemukan beberapa musuh alami dari wereng pucuk meliputi beberapa jenis predator seperti belalang sembah (Mantidae), laba-laba predator, semut serta parasitoid telur.

Untuk mengetahui tingkat parasitasi dari parasitoid telur yang ditemukan maka dilakukan kegiatan percobaan kecil dengan mengumpulkan telur wereng pucuk dari lapangan dan dipelihara di laboratorium. Kelompok telur hama wereng pucuk Sanurus dari Kebun kopi Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya diperoleh sebanyak 41 kelompok telur yang berada di permukaan daun kopi untuk selanjutnya dipelihara di laboratorium. Paket kelompok telur ini ditempatkan di dalam botol plastik transparan, setiap tabung gelas berisi 1 paket kelompok telur dan diamati setiap hari. Botol yang berisi kelompok telur yang keluar parasitoid dan yang tidak keluar parasitoid kemudian dicatat dan ditabulasi jumlahnya. Pengamatan dilaksanakan selama 10 hari mengikuti lama stadia telur dari wereng pucuk.

Setelah 10 hari pengamatan diperoleh 24 kelompok telur yang terparasitasi oleh parasitoid dimana pada wadah botol-botol tersebut ditemukan parasitoid, dan pada botol sisanya (17 botol) tidak ditemukan parasitoid. Dengan demikian data pengamatan menunjukkan tingkat parasitasi alamiah di lapangan oleh parasitoid telur terhadap kelompok telur wereng pucuk pada tanaman kopi di Desa Punggur Kecil mencapai 58,8%. Persentase parasitasi ini lebih rendah dari yang dilaporkan oleh Purnayasa (2003) dimana tingkat parasitasi lapangannya mencapai 93,2% dan di laboratorium sebesar 83%. Faktor iklim dan tindakan pengendalian diduga menjadi penyebab tingkat parasitasi yang diperoleh lebih rendah dari laporan Purnayasa. Kegiatan pengambilan kelompok telur untuk pengamatan tingkat parasitasi ini dilaksanakan pada saat kondisi curah hujan tinggi. Selain itu, pengambilan kelompok telur juga dilaksanakan setelah dilakukan pengendalian secara kimiawi dengan penyemprotan sehingga populasi wereng pucuk telah menurun. Efek samping dari penyemprotan insektisida kimia selain menurunkan populasi wereng pucuk juga dapat mematikan parasitoid.

Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa jumlah parasitoid yang keluar dari setiap botol berbeda-beda dengan kisaran dari hanya 1 parasitoid per botol hingga yang terbanyak 44 ekor parasitoid per botol dan rata-rata per kelompok telur sekitar 15,25 ekor parasitoid. Dalam satu kelompok telur tidak semua telur terparasitasi karena ditemukan pula botol yang berisi parasitoid dan nimfa wereng yang menetas dari telur.  Purnayasa (2003) menyatakan satu telur S. indecora hanya diinfestasi oleh satu telur parasitoid Aphanomerus sp. Sifat parasitasi yang demikian disebut single parasitism dan lebih efisien bila dibandingkan dengan multi-parasitism atau super-parasitism, yaitu satu telur inang dapat diinvestasi oleh lebih dari satu telur dari spesies parasitoid yang sama (super-parasitism) maupun yang berbeda (multi-parasitism) (De Bach, 1964; Van de Bosch dan Messenger, 1973 dalam Purnayasa, 2003).

Dalam pengamatan ini tidak dilakukan identifikasi terhadap parasitoid telur yang ditemukan. Meski demikian Purnayasa (2003) dalam penelitiannya telah mengamati parasitoid telur dari Sanurus indecora dan telah mengidentifikasi parasitoid telur tersebut hingga ke tingkat genus. Hasilnya serangga parasitoid yang dimaksud termasuk ke dalam ordo Hymenoptera, superfamili Proctotrupoideae, Famili platygasteridae dan genus Aphanomerus sehingga parasitoid ini sekarang disebut Aphanomerus sp. Di  Indonesia parasitoid ini belum banyak diberitakan, namun kelompok dari famili ini kebanyakan merupakan parasitoid serangga puru pada tanaman (Kalshoven, 1981 dalam Purnayasa, 2003). Parasitoid dewasa berukuran panjang sekitar 1 mm dan berwarna merah. Hanya sayang sampai saat ini belum teramati seks-rasio-nya (Purnayasa, 2003).

KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan terhadap parasitoid telur dapat disimpulkan bahwa parasitoid telur mempunyai potensi sebagai musuh alami wereng pucuk Sanurus sp pada tanaman kopi dengan tingkat parasitasi alamiahnya mencapai 58,8%.

Referensi :

Bambang Supeno, Pudjianto, Utomo Kartosuwondo. 2007. Wereng Pucuk Mete Sanurus indecora J (Hemiptera, Flatidae) Sebagai Inang Ngengat Parasitoid (Epipyropidae, Lepidoptera) di Pertanaman Mete Pulau Lombok. Jurnal Entomologi Indonesia Volume 4 Nomor 2, September 2007: 98-110

Bambang Supeno, Damayanti Buchori dan Pudjianto. 2010. Kajian wereng pucuk mete Sanurus spp (Hemiptera, Flatidae) di Pertanaman Jambu Mete di Pulau Lombok. Zoo Indonesia, 2010, 20(1): 11-16

Bambang Supeno. 2011. Bioekologi Ngengat Parasitoid (Lepidoptera, Epipytopidae) Pada Wereng Pucuk Mete, Sanurus spp (Hemiptera, Flatidae) di Pertanaman Jambu Mete Pulau Lombok. Disertasi. Institut Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. 2011.

Elna Karmawati. 2006. Peranan Faktor Lingkungan Terhadap Populasi Helopeltis Spp. Dan Sanurus Indecora Pada Jambu Mete. Jurnal Littri 12(4), Desember 2006. Hlm. 129 – 134

I Gusti Nyoman Rai Purnayasa. 2003. Parasitasi Aphanomerus Sp Pada Wereng Pucuk Jambu Mente Sanurus Indecora Jacobi. Jurnal Littri Volume 9 Nomor 1, Mare 2003

Rismayani dan Rubi Heryanto. 2020. Serangan Hama Wereng Pucuk Sanurus Indecora & Sanurus Flavovenosus Pada Sumber Daya Genetik (SDG) Mengkudu (Morinda Citrifolia). Warta Balittro Volume 37 Nomor 74 Tahun 2020

Rita Harni Samsudin Widi Amaria Gusti Indriati Funny Soesanthy Khaerati Efi Taufiq Abdul Muis Hasibuan Arlia Dwi Hapsari. 2015. Teknologi Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Kopi. IAARD Press. Jakarta. 78 hlm.

Samsudin dan Iwa Mara Trisawa. 2011. Teknologi Pengendalian Hayati Hama Penghisap Pucuk dan Bunga Pada Jambu Mete. Buletin RISTRI Volume 2 (2), 2011

Siswanto, E. A. Wikardi Wiratno dan E. Karmawati. 2003. Identifikasi Wereng Pucuk Jambu Mete Sanurus indecora dan Beberapa Aspek Biologinya. Jurnal Littri Volume 9 Nomor 4, Desember 2003.

Tri L Mardiningsih, Andi M. Amir, I. M. Trisawa dan I.G.N.R. Purnayasa. 2004. Bioekologi dan Pengaruh Serangan Sanurus indecora Terhadap Kehilangan Hasil Jambu Mete. Jurnal Littri 10(3), September 2004. Hlm. 112-117

Tri Eko Wahyono. 2005. Deskripsi Hama Utama Dan Musuh Alami Pada Tanaman Jambu Mete Di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Buletin Teknik Pertanian Vol. 10, Nomor 1, 2005

Tri L. Mardiningsih, Elna Karmawati dan Tri Eko Wahyuno. 2006. Peranan Synnematium Sp Dalam Pengendalian Sanurus Indecora Jacobi (Homoptera, Flatidae). Jurnal Littri Volume 12 Nomor 3, September 2006: 103-108

Tri Lestari Mardiningsih. 2007. Potensi Cendawan Synnematium sp Untuk Mengendalikan Wereng Pucuk Jambu Mete (Sanurus indecora Jacobi). Jurnal Litbang Pertanian, 26(4), 2007

Amrul Jihadi, Bambang Supeno, Ruth Stella Petrunela Thei. 2023. Identifikasi Hama Wereng Pada Tanaman Mangga (Mangifera indica L) di Kabupaten Lombok Utara. Agroteksos, 33 (2), Agustus 2023


Bagikan Artikel Ini  


BPTP Pontianak Laksanakan Forum Konsultasi Publik (FKP) Tahun 2025

Diposting     Jumat, 24 Oktober 2025 08:10 am    Oleh    Admin Balai Pontianak



Pontianak – Balai Pelindungan Tanaman Perkebunan (BPTP) Pontianak melaksanakan kegiatan Forum Konsultasi Publik pada hari Jumat, 24 Oktober 2025. Kegiatan ini merupakan salah satu tahapan penting dalam proses penyusunan dan penyempurnaan Standar Pelayanan Publik sebagaimana diamanatkan oleh UU No. 25 Tahuun 2009 tentang Pelayanan publik memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Forum ini diikuti oleh perwakilan dari beberapa lembaga mitra, akademisi, kelompok tani, pelaku usaha, media massa, serta pegawai BPTP Pontianak. Melalui forum ini, BPTP Pontianak membuka ruang partisipatif bagi masyarakat dan pemangku kepentingan untuk memberikan masukan, saran, serta tanggapan terhadap rancangan standar pelayanan BPTP Pontianak yang meliputi aspek waktu, prosedur, biaya, dan kualitas layanan yang diberikan kepada pengguna.

Forum konsultasi publik ini dilaksanakan sebagai sarana strategis untuk memastikan bahwa setiap layanan yang diberikan benar-benar berorientasi pada kebutuhan dan kepuasan masyarakat, serta dilaksanakan secara transparan, efisien, dan akuntabel.

Melalui kegiatan ini, BPTP Pontianak menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik di bidang pelindungan perkebunan demi mendukung pembangunan perkebunan berkelanjutan di wilayah kerja BPTP Pontianak.

Notulensi dari FKP dapat dilihat disini


Bagikan Artikel Ini  


Kunjungan Kerja Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Di Kabupaten Blora

Diposting     Kamis, 16 Oktober 2025 11:10 am    Oleh    Admin Balai Pontianak



Blora, Kamis, 16 Oktober 2025. Bertempat di Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora, Wakil Bupati Blora Hj. Sri Setyorini menerima kunjungan kerja Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Dr. Abdul Roni Angkat. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi dalam mendukung pengembangan kawasan tebu di Kabupaten Blora.Dalam kesempatan tersebut, dilakukan pemberian plakat kenang-kenangan sebagai bentuk apresiasi dan dukungan terhadap Kementerian Pertanian, khususnya Direktorat Jenderal Perkebunan, yang terus berkomitmen mendorong pengembangan kawasan tebu di Kabupaten Blora.Hadir bersama Plt. Direktur Jenderal Perkebunan antara lain Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan, Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Kepala BPTP Pontianak, serta Kabag Umum Ditjenbun. Dalam arahannya, Plt. Dirjen Perkebunan menekankan pentingnya pengembangan kawasan tebu di Kabupaten Blora sebagai bagian dari upaya mendukung program swasembada pangan, khususnya gula, sesuai arahan pemerintah.Agenda dilanjutkan dengan kunjungan ke lokasi CPCL Bongkar Ratoon di Kelompok Tani Tirta Makmur, Desa Sendangharjo, Kecamatan Blora. Kunjungan ini bertujuan untuk melihat langsung kondisi lahan serta kesiapan petani dalam melaksanakan kegiatan bongkar ratoon dan perluasan kawasan tebu.Pemerintah Kabupaten Blora menyambut baik program Kementerian Pertanian khususnya kegiatan bongkar ratoon dan perluasan kawasan tebu di wilayah Kabupaten Blora. Wakil Bupati berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan produktivitas tebu petani di kabupaten blora.


Bagikan Artikel Ini  


BPTP Pontianak Hadiri Tanam Perdana Bongkar Ratoon Tebu di Kabupaten Rembang

Diposting        Oleh    Admin Balai Pontianak



Rembang, Kamis, 16 Oktober 2025. BPTP Pontianak menghadiri Tanam Perdana Bongkar Ratoon (BR) Tebu di Kabupaten Rembang yang menjadi salah satu rangkaian program strategis Kementerian Pertanian dalam meningkatkan produktivitas dan swasembada gula nasional. Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak, antara lain Bupati Rembang, Plt. Direktur Direktorat Jenderal Perkebunan, Kepala Kejaksaan Negeri Rembang, Tenaga Ahli Bidang Hubungan Antar Lembaga, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Provinsi Jawa Tengah, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, Direktur Utama PT SGN, General Manager Pabrik Gula Rendeng, Sragi, Mojo, GMM, Pakis, dan Trangkil, BPTP Pontianak, Kepala Kepolisian Resor Rembang, Komandan Kodim 0720/Rembang, Komandan Danyon TP 888, Administratur Perhutani Wilayah Rembang, DPD dan DPC APTRI Jawa Tengah, KPTRI Jawa Tengah dan KPTRI Rembang, serta penyuluh, Babinsa, dan petani lingkup Kabupaten Rembang.Acara diawali dengan sambutan dari Bupati Rembang, yang menyampaikan apresiasi atas sinergi berbagai pihak dalam mendukung pengembangan tebu di Rembang. Dalam kesempatan ini, Plt. Direktur Direktorat Jenderal Perkebunan memberikan arahan bahwa Tanam Perdana Bongkar Ratoon Tebu di Kabupaten Rembang merupakan bagian dari upaya Kementerian Pertanian untuk mencapai swasembada gula melalui peningkatan produktivitas tebu nasional. Program ini mencakup pengembangan ribuan hektar lahan di berbagai daerah, termasuk 3.050 hektar di Kabupaten Rembang, dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat kemitraan dengan pabrik gula, serta mendorong pertumbuhan ekonomi.Selanjutnya, Direktur Utama PT. Sinergi Gula Nusantara (SGN) juga memberikan arahan terkait pentingnya penguatan kemitraan antara petani dan industri gula sebagai langkah strategis dalam memastikan keberlanjutan program tebu nasional.Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama petani, di mana para petani menyampaikan harapan agar mulai tahun 2026 Indonesia dapat menghentikan impor gula melalui peningkatan produksi dalam negeri. Acara kemudian diakhiri dengan penyerahan bantuan kepada petani serta pelaksanaan tanam bersama sebagai simbol dimulainya pelaksanaan kegiatan Bongkar Ratoon di Kabupaten Rembang.


Bagikan Artikel Ini  



BPTP Pontianak Selenggarakan Sosialisasi Pencairan Hok Kegiatan Bongkar Ratoon Dan Ekstensifikasi Tebu Kab. Blora

Diposting        Oleh    Admin Balai Pontianak



Blora, Senin, 13 Oktober 2025. BPTP Pontianak melaksanakan kegiatan Sosialisasi pencairan HOK kegiatan Bongkar Ratoon dan Ekstensifikasi Tebu Kab. Blora yang bertempat di Ruang Rapat Bidang Sarpras Lantai II Balai Benih Pertanian Sendangharjo. Kegiatan ini bertujuan untuk verifikasi berkas CPCL dan percepatan proses pengajuan HOK kegiatan pengembangan kawasan tebu.

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Bidang Tanam Pangan Hortikultura Perkebunan dan Peternakan, PPK Tanaman Semusim dan Tahunan, serta BPTP Pontianak. Sebanyak 75 peserta yang terdiri dari Ketua Kelompok Tani/LMDH dan Koordinator PPL Kecamatan turut hadir aktif dalam kegiatan ini.

Pada kesempatan tersebut, Kabid Dinas Pangan Pertanian Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blora memberikan arahan mengenai pentingnya peran aktif kelompok tani dalam mendukung percepatan program tebu di wilayah Blora. Sementara itu, Kepala BPTP Pontianak menekankan komitmen untuk terus memperkuat pendampingan teknis dan sinergi dengan pemerintah daerah guna memastikan program ABT Tebu berjalan efektif dan tepat sasaran.

Berdasarkan hasil pemetaan, luas CPCL tebu di Kabupaten Blora tercatat mencapai 1.036,32 ha, dengan rincian Total CPCL BR 838,01 ha dan Total CPCL PA 198,31 ha.

Melalui kegiatan ini, diharapkan kegiatan pengembangan pengembangan kawasan tebu di Kab Blora dapat berjalan dengan optimal sesuai target sampai dengan akhir tahun 2025.


Bagikan Artikel Ini  


Laporan Realisasi Anggaran BPTP Pontianak hingga periode Triwulan III 2025.

Diposting     Rabu, 08 Oktober 2025 03:10 pm    Oleh    Admin Balai Pontianak



Sebagai wujud transparansi dan akuntabilitas, kami sampaikan Laporan Realisasi Anggaran BPTP Pontianak hingga periode Triwulan III 2025.

Hingga akhir Triwulan III 2025, realisasi anggaran BPTP Pontianak telah mencapai 55.62% atau sebesar Rp 5.50 M dari total pagu Rp 9.89 M. Kami terus berupaya agar penyerapan anggaran lebih efektif demi meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Menurut #SobatBPTP, informasi apa yang perlu disampaikan oleh kami di masa mendatang?

#BPTPPontianak
#RealisasiAnggaran


Bagikan Artikel Ini  


BPTP Pontianak Lakukan Koordinasi Pengembangan Kawasan Tebu Di Jawa Tengah

Diposting     Selasa, 07 Oktober 2025 10:10 am    Oleh    Admin Balai Pontianak



Blora–Grobogan, Jawa Tengah, Oktober 2025. Balai Pelindungan Tanaman Perkebunan (BPTP) Pontianak melakukan rangkaian Koordinasi Pengembangan Kawasan Tebu di Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan dimulai dengan koordinasi bersama Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan Kabupaten Blora sebagai bentuk sinergi dalam mempercepat pelaksanaan program strategis nasional di sektor perkebunan tebu.

Selanjutnya, BPTP Pontianak melakukan Koordinasi Pengembangan Kawasan Tebu di Kabupaten Grobogan, Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Grobogan menjadi salah satu wilayah sasaran utama Program Pengembangan Tebu Tahun 2025.

Rangkaian kegiatan koordinasi dilanjutkan dengan melakukan Rapat Koordinasi Pengembangan Kawasan Tebu Jawa Tengah APBN Tahun Anggaran 2025. Rakor ini dihadiri langsung oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian. Rakor difokuskan pada pembahasan capaian survey lapangan dan rencana tindak lanjut pengawalan CPCL Kabupaten Grobogan. Melalui kegiatan ini, diharapkan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan menjadi semakin solid dalam mendukung pengembangan kawasan tebu berkelanjutan di Provinsi Jawa Tengah.


Bagikan Artikel Ini  


EVALUASI PENGENDALIAN HAMA WERENG PUCUK TANAMAN KOPI DI PUNGGUR KECIL

Diposting     Kamis, 02 Oktober 2025 09:10 am    Oleh    Admin Balai Pontianak



Oleh : Juliyanto (Kepala UPPT Sungai Kakap Kab. Kubu Raya) dan Erlan Ardiana Rismansyah, S.P (POPT Ahli Muda/Kepala Brigade Pelindungan Tanaman Perkebunan)

Indonesia memiliki posisi yang cukup strategis dalam perdagangan kopi dunia dengan semakin dikenalnya Kopi Indonesia di Eropa dan Amerika terutama kopi khusus (specialty coffee) seperti Kopi Gayo, Kopi Mandailing, Kopi Lampung dan lainnya. Selain itu produksi kopi Indonesia menempati posisi keempat negara produsen dan pengekspor kopi terbesar di dunia. Berdasarkan data Foreign Agricultural Services (FAS), Departemen Pertanian Amerika Serikat, pada tahun 2024-2025 Indonesia menyumbang 6,23 % dari total produksi kopi global yaitu mencapai 654.000 ton kopi dan menempati urutan keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam dan Kolombia (Pusat Data.kontan.co.id, 2025). Produksi kopi Indonesia ini menurun bila dibandingkan tahun 2021 yang mencapai 774,69 ribu ton (Anonim, 2022). Di provinsi Kalimantan Barat, luas penanaman kopi mencapai 7.673 hektar dengan produksi mencapai 3.156 ton per tahun di tahun 2022. Tiga besar lokasi penanaman kopi di Kalimantan Barat adalah di Kabupaten Sambas, Ketapang dan Kubu Raya (Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Barat, 2023).

Fluktuasi produksi kopi dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya adalah gangguan hama dan penyakit. Hama dan penyakit utama pada kopi di Kalimantan Barat adalah hama penggerek buah kopi yang disebabkan oleh Hypothenemus hampei dan penyakit karat daun yang disebabkan oleh cendawan Hemileia vastatrix (Sipereda, Triwulan I Tahun 2025). Meski demikian gangguan hama penyakit pada tanaman kopi tidak terbatas pada ketiga opt diatas, karena masih banyak jenis hama dan penyakit lain yang menyerang dan menyebabkan kerusakan meski pada skala yang kecil atau belum merugikan secara ekonomis.

Pada awal bulan Agustus 2025, UPPT Sungai Kakap sebagai Unit Pembina Perlindungan Tanaman Perkebunan di Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya telah menerima laporan adanya serangan hama yang belum pernah diketahui sebelumnya. Serangan terjadi di beberapa kebun kopi dari anggota Kelompok Tani Tani Makmur Sungai Nenas Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap.

Menindaklanjuti laporan tersebut, kemudian pada tanggal 28 Agustus 2025, petugas UPPT Sungai Kakap bersama dengan tim BPT (Brigade Pelindungan Tanaman) BPTP Pontianak segera menuju ke lokasi serangan untuk melakukan pengamatan, identifikasi awal  dan upaya pengendalian terhadap OPT yang menyerang di kebun kopi tersebut.

Pada Pengamatan dan diskusi lapangan diketahui hama yang menyerang tanaman kopi diduga merupakan serangga wereng pucuk Sanurus indecora. Gejala dan tanda serangan yang terlihat berupa adanya imago serangga seperti wereng, nimfa yang diselimuti oleh lapisan putih dan lapisan-lapisan lilin putih seperti kapas yang ditemukan pada bagian daun, ranting, dan pucuk tanaman. Petani pemilik kebun mengkonfirmasi bahwa hama ini baru ada terlihat pada tahun 2025 ini saja, dan belum pernah ditemukan pada tahun-tahun sebelumnya.

Wereng Sanurus indecora termasuk famili Flatidae dan mengalami proses pertumbuhan hidup secara tidak sempurna atau hemimetabola, yaitu dari telur menjadi nimfa dan akhirnya menjadi imago. Telur berwarna putih, tidak tertutup oleh lapisan lilin, diletakkan berderet memanjang 2-6 baris pada permukaan bawah daun, tulang daun, tunas yang masih lunak, dan tangkai daun. Nimfa berwarna krem, tertutup oleh zat lilin berwarna putih dan lengket. Wereng dewasa bersayap dengan garis berwarna jingga. Pada saat istirahat, sayap dilipat seperti tenda, jika direntangkan mencapai 30-35 mm. Siklus hidup S. indecora pada musim hujan perkembangannya lebih lambat sehingga di lapang populasinya ditemukan lebih sedikit dibandingkan dengan musim kemarau (Rita Harni dkk., 2018).

Kerusakan di lapangan tidak dapat dipastikan dikarenakan gejala kerusakan atau ketidaknormalan pada tanaman terserang tidak terlihat secara visual, hanya ada tanda serangan berupa adanya hama dengan berbagai stadia yang terlihat pada pohon terserang baik pada daun, ranting, pucuk dan bunga. Menurut Rita Harni dan kawan-kawan (2018) S. indecora dapat menyerang kopi Arabika dan Robusta, tetapi lebih menyukai Arabika. Wereng menyerang baik pada daun, cabang, dan batang tanaman. pada daun lebih banyak ditemukan pada permukaan bawah, terutama fase nimfa, dan tampak nimfa tertutup dengan lapisan lilin tebal, menyelimuti tanaman sehingga bagian yang terserang seperti tertutup kapas. Fase nimfa dan imago aktif makan. Wereng menusuk dan mengisap cairan tanaman. Bagian tanaman yang terserang akan terhambat pertumbuhannya, tunas mengalami malforasi, rontok atau mati. Kerusakan tanaman dapat bertambah parah jika lapisan lilin tersebut ditumbuhi embun jelaga karena dapat menghambat fotosintesis. Penampakan keseluruhan terlihat kotor, hitam, daun terhambat menjalani fotosintesis. Embun jelaga merupakan salah satu bentuk asosiasi jamur dengan wereng ini. Imago bertengger pada batang dan ranting tanaman terlihat seperti duri. Jika diganggu, imago bergeser menjauh atau terbang.

Hasil pengamatan lapangan pada 20 ranting sampel tanaman kopi terserang terdapat populasi serangga dewasa rata-rata 4,35 imago per ranting. Pada tanaman kopi belum diketahui ambang batas populasi dari hama ini adapun pada tanaman jambu mete menurut Mardiningsih et al., (2004), populasi S. indecora rata-rata 12 ekor per pucuk dapat menurunkan hasil 57,83%

Minimnya informasi mengenai hama wereng pucuk pada tanaman kopi baik dari segi ekobiologinya maupun teknik pengendaliannya menyebabkan upaya pengendalian yang dilakukan masih terbatas. Meski demikian untuk mencegah meningkatnya populasi hama dan meluasnya areal serangan maka BPTP Pontianak telah melakukan beberapa rekomendasi dan bantuan pengendalian antara lain :

  1. Melaksanakan pengendalian secara mekanis dengan mengambil telur dan nimfa serangga hama tersebut. biasanya nimfa dan telur dapat ditemukan pada bagian permukaan daun dan pucuk. Upaya ini dapat dilaksanakan pada kondisi populasi hama yang masih sedikit dan baru menyerang beberapa pohon di dalam kebun
  2. Meningkatkan sanitasi kebun dengan memangkas ranting-ranting/cabang kopi yang tidak produktif, cabang tunas air serta memangkas tanaman penaung. Hasil pengamatan di lapangan memperlihatkan bahwa hama cenderung menyerang pada tanaman kopi yang teduh dan tidak terkena sinar matahari secara penuh atau berada di bawah tanaman naungan yang cukup rapat.
  3. melakukan penyemprotan tanaman terserang dengan air menggunakan pompa air bertekanan tinggi. Penyemprotan ini dilakukan untuk menghilangkan lapisan lilin yang menyelimuti daun, nimfa dan telur sehingga tanaman terserang dapat berkurang infestasi hamanya.
  4. Melakukan kegiatan penyemprotan insektisida kimiawi berbahan aktif lambdasihalotrin dengan dosis 0,5 ml per liter untuk mematikan serangga dewasa dan nimfa. Kegiatan penyemprotan insektisida kimia sebaiknya dilakukan secara terbatas hanya pada pohon dan bagian tanaman yang terserang saja (spot treatment). Pengulangan aplikasi dapat dilakukan pada 2 minggu berikutnya dengan memperhatikan dinamika populasi hamanya.
  5. Pengendalian hama ini secara tidak langsung dapat dilakukan dengan meningkatkan mutu kegiatan budidaya kopi seperti pemupukan yang rutin, memelihara kebersihan kebun, menjaga intensitas cahaya matahari dengan melakukan pemangkasan ranting/tunas air dan pohon penaung secara rutin.

Sebagian rekomendasi pengendalian ini langsung dapat dilakukan dengan fasilitasi bantuan pengendalian yang diberikan oleh BPTP Pontianak antara lain pengendalian kimiawi dengan penyemprotan insektisida. Bantuan fasilitasi pengendalian tidak saja berbentuk bahan pengendalian dan APD tetapi juga berbentuk sosialisi penggunaan bahan pengendalian secara baik dan benar dengan cara mencontohkan aplikasi pestisida secara aman dan efektif. 

Evaluasi Pengendalian

Pengendalian secara kimiawi telah dilaksanakan sebanyak 2 kali pasca kegiatan sosialisasi tanggal 28 Agustus 2025. Adapun penyemprotan terakhir telah dilaksanakan pada tanggal 5 September 2025. Monitoring dan evaluasi hasil pengendalian perlu dilakukan untuk mengetahui efektivitas pengendalian dan perkembangan populasi hama.

Evaluasi dilaksanakan pada tanggal 18 September 2025 atau sekitar 3 minggu setelah sosialisasi pengendalian, dengan cara melakukan pengamatan dan penghitungan jumlah serangga hama pada 20 tanaman sampel. Penghitungan jumlah hama hanya dilakukan pada serangga dewasa saja tanpa memasukkan stadia telur dan nimfa. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa rata-rata populasi serangga sebanyak 2,1 ekor per ranting sampel. Jumlah ini menurun dari populasi serangga sebelum dilakukan pengendalian yaitu sebanyak 4,35 ekor imago per ranting tanaman. Penurunan populasi serangga hama pasca pengendalian dipengaruhi oleh banyak faktor, tidak saja mutlak karena hasil penyemprotan insektisida kimiawi. Dilaporkan petani selama 2 minggu setelah sosialisasi, intensitas hujan cukup tinggi sehingga diduga menghambat perkembangan serangga hama. Menurut Supeno dan kawan-kawan (2010) perkembangan wereng pucuk akan meningkat pada musim kemarau dan menurun pada musim penghujan. Adanya curah hujan yang tinggi menyebabkan kelembaban tinggi dan basah yang mengakibatkan WPM pada musim hujan sangat tidak cocok untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Selain kelembaban, pengaruh langsung dari hempasan air hujan dan didukung oleh habitat wereng yang ada di pucuk menyebabkan rendahnya populasi pada saat musim hujan. Faktor musim hujan ini juga yang menyebabkan populasi hama wereng pucuk menurun terus. Sinkronisasi antara pakan, musim dan habitat merupakan faktor penyebab tinggi dan rendahnya populasi wereng pucuk.

Selain faktor pengendalian kimiawi dan kondisi iklim, faktor pengendalian hayati juga berperan penting terhadap menurunnya populasi serangga hama wereng pucuk. Selama pengamatan diperoleh beberapa jenis musuh alami dari wereng pucuk yaitu belalang sembah, laba-laba predator, semut serta parasitoid telur wereng pucuk. Keberadaan serangga berguna ini perlu dilestarikan dengan melakukan konservasi musuh alami. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan keragaman jenis tanaman di dalam kebun (polikultur), meminimalkan penggunaan bahan-bahan kimia dan menggunakannya secara bijaksana serta memberi peluang perkembangan musuh alami dengan meningkatkan keragaman tanaman berbunga untuk menjaga kelestarian musuh alami terutama parasitoid.

Hasil pengamatan di laboratorium menunjukkan potensi dari penggunaan musuh alami kelompok parasitoid dimana tingkat parasitasi lapangan dari parasitoid telur hama wereng pucuk ini mencapai 52,8%. Pembahasan tentang parasitoid telur ini akan dilakukan terpisah.

Simpulan

  1. Wereng pucuk yang diduga adalah hama Sanurus sp merupakan hama baru yang menyerang pada tanaman kopi di desa punggur kecil yang belum pernah dilaporkan sebelumnya. Tingkat populasi hama wereng sebelum pengendalian adalah mencapai 4,35 ekor per ranting
  2. Upaya pengendalian telah dilakukan untuk mengurangi serangan hama wereng pucuk ini dengan difasilitasi oleh BPTP Pontianak dalam bentuk sosialisasi dan bantuan bahan pengendalian
  3. Evaluasi pengendalian pada 2 minggu setelah pengendalian memperlihatkan adanya penurunan populasi serangga hama dimana pada sebelum pengendalian rata-rata jumlah hama per ranting adalah 4,35 ekor dan setelah pengendalian menurun hingga hanya 2,1 ekor per ranting
  4. Penurunan populasi hama wereng pucuk terjadi dikarenakan kombinasi dari beberapa faktor antara lain curah hujan yang cukup tinggi, pengendalian hama secara kimiawi serta pengendalian hayati yang terjadi secara alamiah baik oleh predator maupun parasitoid.
  5. Beberapa musuh alami yang ditemukan meliputi : belalang sembah (Mantidae), laba-laba predator, semut dan parasitoid telur.

Referensi

Anonim. 2025. 10 Negara Penghasil Kopi Terbesar. Diakses dari https://pusatdata.kontan.co.id/infografik/105/10-Negara-Penghasil-Kopi-Terbesar

Anonim. 2022. Outlook Kopi. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. Sekretariat Jenderal. Kementerian Pertanian. 100 Halaman

Rita Harni, Samsudin, Widi Amaria, Gusti Indriati, Funny Soesanthy, Khaerati, Efi Taufiq, Abdul Muis Hasibuan, Arlia Dwi Hapsari. 2018. Teknologi Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Kopi. Indonesian Agency For Agricultural Research and Development (IAARD) Press.

Bambang Supeno, Damayanti Buchori dan Pudjianto. 2010. Kajian wereng pucuk mete Sanurus spp (Hemiptera, Flatidae) di Pertanaman Jambu Mete di Pulau Lombok. Zoo Indonesia, 2010, 20(1): 11-16


Bagikan Artikel Ini