Balai Pelindungan Tanaman Perkebunan (BPTP) Pontianak melalui petugas teknis yang bertugas di Unit Pembinaan Perlindungan Tanaman (UPPT) Nenak, Kabupaten Sintang mendukung dan berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan Program Peremajaan Tanaman Karet Rakyat. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka peningkatan hasil produksi tanaman karet,
Program Peremajaan Tanaman Karet Rakyat dilaksanakan oleh Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Barat bersama Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Sintang berupa replanting tanaman karet seluas 12 Hektar dengan menggunakan klon IRR 112. Kegiatan ini dilaksanakan di Kelompok Tani Aboh Bersatu di Desa Suka Jaya, Kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang. Serah terima bibit karet dilakukan oleh petugas teknis dari Dinas Perkebunan Provinsi dan Kabupaten kepada kelompok tani. Sementara pemeriksaan bibit karet dilakukan oleh Petugas UPPT Nenak Kabupaten Sintang. Petugas UPPT bersama petugas dinas juga melakukan peninjauan pembibitan karet siap salur.
Pelaksanaan kegiatan peremajaan tanaman karet dilaksanakan pada tanggal 11 November 2025 dan dilakukan sesuai dengan tahapan teknis yang telah ditetapkan. Pendampingan teknis oleh petugas meliputi persiapan lahan, pemilihan bibit unggul, penerapan pola tanam tumpang sari, serta pemeliharaan intensif melalui pemupukan, pengendalian gulma, dan perlindungan dari Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).
Program peremajaan tanaman karet ini memberikan dampak positif berupa peningkatan produksi, memberikan kepastian pendapatan jangka panjang bagi petani, serta manfaat lingkungan karena tanaman karet muda memiliki kemampuan penyerapan karbon dioksida yang baik dan merupakan mitigasi dampak perubahan iklim.
Melalui kegiatan ini, diharapkan program peremajaan tanaman karet dapat menjadi motivasi bagi petani untuk terus meningkatkan produktivitas kebun karet rakyat. Pemerintah mendukung upaya tersebut melalui penyediaan bibit unggul serta pendampingan teknis budidaya dan pengendalian OPT oleh petugas teknis di lapangan.
Bagikan Artikel Ini
SOSIALISASI PENGGUNAAN PERANGKAP ATRAKTAN UNTUK PENGENDALIAN PENGGEREK BUAH KOPI YANG RAMAH LINGKUNGAN
Diposting
Senin, 10 November 2025 03:11 pm
Oleh Admin Balai Pontianak
Oleh :
Erlan Ardiana Rismansyah, S.P (POPT Ahli Muda)
Suadin, S.P (Anggota Tim KTK Layanan Teknis)
Julianto (Kepala UPPT Sungai Kakap Kab. Kubu Raya)
Kumbang Penggerek buah kopi (PBKo) dengan nama ilmiah Hypothenemus
hampei Ferrari merupakan hama utama yang menyerang pada tanaman kopi. Hama
ini berupa kumbang kecil berwarna hitam dan termasuk ke dalam famili Scolytidae
Ordo Coleoptera. Hama penggerek buah kopi sangat merugikan petani kopi
karena selain menyebabkan kerusakan buah secara langsung juga menyebabkan mutu
buah kopi yang dipanen menjadi menurun kualitasnya.
Berdasarkan data serangan OPT Provinsi Kalimantan Barat, Serangan hama
penggerek buah kopi di Kabupaten Kubu Raya pada Bulan Juni 2025 mencapai luas
206 hektar sementara upaya pengendalian yang dilakukan terhadap hama ini masih sangat
minim dilaksanakan (Dinas Perkebunan, 2025). Kecilnya kegiatan pengendalian PBKo yang
dilakukan oleh petani kopi di Kubu Raya, salah satunya dikarenakan pengetahuan
petani yang terbatas tentang hama penggerek buah kopi dan cara pengendaliannya.
Hingga saat ini pengetahuan petani untuk pengendalian hama penggerek buah kopi
masih dipersepsikan dengan pengendalian menggunakan bahan kimia atau
insektisida. Padahal upaya pengendalian secara kimiawi terkendala oleh mahalnya
harga insektisida selain pilihan produknya juga terbatas. Untuk itu,
terobosan-terobosan lain teknologi pengendalian hama penggerek buah kopi Hypothenemus
hampei selain penggunaan pestisida perlu lebih dimaksimalkan dan
diperkenalkan kepada petani kopi dengan berdasarkan kepada konsep pengendalian
terpadu yang lebih ramah lingkungan
dengan mengkombinasikan berbagai teknik pengendalian seperti perbaikan
kultur teknis, penggunaan varietas/klon
tahan PBKo, pemanfaatan musuh alami serta penggunaan perangkap atraktan
hama penggerek buah kopi. Upaya tidak kenal lelah senantiasa dilakukan oleh
BPTP Pontianak dalam mensosialisasikan berbagai teknologi pengendalian hama
PBKo dalam paket PHT termasuk penggunaan perangkap atraktan yang dikombinasikan
dengan pengendalian secara kultur teknis. Salah satunya telah dilaksanakan di
Kelompok Tani Makmur Jaya di Desa Punggur Kecil Kecamatan Sungai Kakap
Kabupaten Kubu Raya pada bulan Oktober 2025 ini.
Kelompok Tani Makmur Jaya yang berlokasi di Parit Ibrahim Desa Punggur
Kecil Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya merupakan salah satu kelompok
tani kopi yang beranggotakan 25 orang petani/pekebun kopi dengan luasan total
mencapai 25 hektar. Sebagaimana di lokasi lain, kebun kopi di kelompok tani ini
mengalami serangan hama penggerek buah kopi yang cukup parah tanpa ada upaya
pengendalian yang berarti. Dengan mempertimbangkan tingkat pengetahuan petani
tentang hama penggerek buah kopi yang masih rendah maka petugas UPPT Sungai
Kakap merekomendasikan perlunya dilakukan sosialisasi teknologi pengendalian
hama Penggerek buah kopi H. hampei kepada kelompok tani.
Pertemuan dilaksanakan pada tanggal 16 Oktober 2025 di rumah Sekretaris Kelompok Tani bertujuan untuk mensosialisasikan ekobiologi hama, tehnik pengamatannya serta teknologi pengendalian hama penggerek buah kopi H. hampei dengan menggunakan perangkap atraktan yang dikombinasikan dengan perbaikan kultur teknis budidaya kopi. Dalam sosialisasi ini diserahkan pula atraktan sebanyak 120 buah pcs untuk digunakan oleh kelompok tani dalam kegiatan pengendalian hama PBKo.
Sosialisasi Hama Penggerek Buah Kopi Hypothenemus hampei
Hama penggerek buah kopi (PBKo) Hypothenemus hampei merupakan salah satu hama utama pada tanaman kopi. Hama ini menyerang tidak hanya buah kopi yang sudah tua tetapi juga buah yang masih muda. Buah kopi muda yang bijinya masih lunak umumnya tidak digunakan sebagai tempat berkembang biak tetapi hanya digerek untuk mendapatkan makanan sementara dan selanjutnya ditinggalkan lagi. Serangan H. hampei menyebabkan buah menjadi tidak berkembang, berubah warna menjadi kuning kemerahan dan akhirnya gugur (Indriati dkk, 2016).
Imago betina menyerang buah kopi dengan cara membuat lubang di sekitar
diskus (ujung buah) sekitar 8 minggu setelah pembungaan hingga panen (> 32
minggu). H. hampei umumnya menyerang pada buah kopi yang bijinya telah
mengeras/sudah cukup tua dan mengakibatkan buah kopi berlubang berbentuk bulat
dengan diameter 1 mm (Indriati dkk., 2016).
Kerusakan akibat serangan H. hampei adalah jatuhnya buah muda
dengan cepat, buah matang rentan terhadap infeksi jamur dan bakteri, dan
penurunan hasil dan mutu kopi, sehingga mengurangi produksi/pendapatan petani (Indriati
dkk., 2016). Penurunan hasil akibat serangan H. hampei bervariasi
tergantung kondisi pengelolaan tanaman. Kehilangan hasil dapat mencapai 100
persen apabila tidak dilakukan tindakan pengendalian (Baker, Prakasan et
al.,dalam Girsang dkk., 2020). Di Kabupaten Simalungun Provinsi
Sumatera Utara, hama H. hampei tersebar di seluruh kecamatan penghasil
kopi dan dilaporkan intensitas serangannya mencapai 51,6 persen (termasuk
kategori serangan berat) (Girsang dkk., 2020). Serangan berat dapat menimbulkan
kehilangan produksi sampai 10% pada buah-buah muda dan dapat mencapai 40% pada
buah-buah tua. Disamping itu dapat menurunkan kualitas sampai grade 4 (Sukanadi
dkk., 2009). Menurut Purba (2015) dalam Meidiantoro dkk (2024) pada
tingkat serangan di lapangan jika dipersentasekan berkisar 20% maka tingkat
penurunan produksi sekitar 10%, dimana kondisi tersebut masih belum termasuk
penurunan kualitas biji kopi yang berlubang karena serangan hama PBKo, dimana
persentase-nya dapat mencapai lebih dari 50%. Menurut
Hama penggerek buah kopi memiliki tahap perkembangan hidup sempurna atau holometabola
yaitu dewasa – telur – larva dan pupa. Dengan lama periode siklus hidup dari
telur diletakkan hingga menjadi kumbang dewasa berkisar 24-49 hari. Lama siklus
hidup ini dipengaruhi oleh cuaca terutama temperatur. Makin rendah temperatur
dan makin tinggi tempat maka makin panjang siklus hidupnya.
Seekor serangga betina mampu menghasilkan 35-50 butir telur. Telur
berbentuk lonjong, berwarna putih susu, panjang 0,5 – 0,8 mm; lebar 0,25-0,35
mm. Larva yang menetas akan segera menggerek keping biji kopi yang telah
mengeras dan berkembang sampai menjadi dewasa pada liang gerekan di dalam buah
kopi. Larva berwarna putih krem dengan kepala berwarna coklat, terdiri dari dua
instar. Bentuk tubuh bulat, berkaki dengan rambut-rambut yang jarang. Stadium
larva 10-21 hari untuk kemudian memasuki para pupa. Pupa berwarna putih
kemudian setelah berkembang 10 hari akan menjadi kuning, panjang 1,2-1,7 mm
(Baker, 2009). masa pre-pupa 2 hari dan masa pupa 4-6 hari (Kalshoven, 1981).
Lama hidup imago H. hampei bervariasi. Lama hidup imago betina 81-282
hari, rata-rata 131 hari sedangkan imago jantan 40-52 hari. (Indriati dkk.,
2016). Kumbang berwarna hitam kecokelatan dan tungkainya berwarna lebih muda
dengan ukuran betina (1,7 mm x 0,7 mm) lebih besar daripada jantan (1,2 mm x
0,7 mm). Tubuh kumbang berbentuk bulat pendek dengan pronotum menutupi kepala
(Harni dkk., 2015).
Populasi kumbang penggerek buah kopi dipengaruhi oleh faktor iklim (suhu, curah hujan dan kelembaban relatif), fisiologi kopi dan tanaman penaung. Suhu dan kelembaban optimum untuk perkembangan H. hampei masing-masing berkisar 25-26 0C dan 90-95%. Kondisi kebun kopi dengan penaung yang berlebihan (gelap) mendukung perkembangan H. hampei. Pada kebun dengan penaungan rapat, dilaporkan bahwa buah yang terinfestasi H. hampei 5 kali lebih banyak dan perkembangan hamalebih cepat dibandingkan kebun dengan penaungan kurang (terbuka). Demikian juga pertanaman yang pembuahannya sepanjang tahun akan mendukung keberlanjutan pembiakan H. hampei karena biji kopi yang menjadi makanan tersedia sepanjang waktu. Isi bahan kering dari endosperm merupakan faktor penting yang menentukan serangan H. hampei. Biji dengan < 20% kandungan bahan kering cukup untuk pengembangan keturunan hama ini di dalam biji. (Baker et al., 1994 dalam Indriati dkk., 2016).
Pengamatan Intensitas Serangan Hama Penggerek Buah Kopi
Setelah penjelasan tentang status hama penggerek buah kopi, sosialisasi
dilanjutkan dengan materi mengenai metode pengamatan hama penggerek buah
kopi. Pengamatan terhadap hama ini
dilaksanakan dengan interval setiap bulan. Kegiatan pengamatan dapat dilakukan
pada kondisi kebun sebelum panen dilaksanakan (pra-panen), dan
pengamatan yang dilaksanakan pada saat panen. Pengamatan pra-panen dilaksanakan
pada pohon-pohon contoh di kebun yang dilakukan tiap bulan yang dimulai saat
buah mengeras sampai saat panen, sedangkan pengamatan pada saat panen dilakukan
pada buah kopi hasil petikan. Hasil pengamatan pra-panen digunakan sebagai
acuan untuk menentukan waktu dan metode pengendalian hama pada musim itu,
sedangkan hasil pengamatan saat panen digunakan untuk memandu pengendalian pada
musim mendatang (Anonim, 1992).
Dalam sosialisasi ini, petugas dan petani mempraktekkan tehnik pengamatan
hama penggerek buah kopi di salah satu kebun kopi petani di samping tempat
pertemuan. Sebanyak 20 pohon diambil secara acak diagonal untuk digunakan
sebagai pohon contoh dalam praktek pengamatan, dimana untuk masing-masing pohon
contoh diamati 5 buah buah kopi secara acak pada 5 buah ranting yang diusahakan
mewakili 4 arah mata angin. Pengamatan dilakukan dengan mengamati ada tidaknya lubang
gerekan pada bagian diskus (ujung buah) kopi yang telah matang. Data hasil
pengamatan kemudian ditabulasi dan digunakan untuk menghitung persentase
serangan, intensitas serangan dan luas serangan.
Persentase serangan dihitung dengan menghitung jumlah pohon terserang dibagi dengan jumlah total pohon sampel, sedangkan intensitas serangan dihitung dengan menghitung jumlah buah terserang PBKo dibagi dengan jumlah total buah sampel dikali dengan 100 persen. Adapun luas serangan dapat dihitung dengan mengkalikan persentase serangan dengan luas kebun sampel.
Hasil
pengamatan menunjukkan terdapat 12 pohon sampel yang terserang oleh hama PBKo
dari 20 pohon sampel, yang artinya persentase serangannya sebesar 60%.
Sedangkan buah kopi terserang PBKo sebanyak 74 buah dari 500 buah kopi sampel
sehingga intensitas serangannya mencapai 14,8 %. Mengacu kepada Buku Baku
Operasional PHT Hama PBKo oleh Direktorat Jenderal Perkebunan (Anonim, 1992)
angka tersebut dikategorikan intensitas serangan berat karena melebihi ambang
batas skala intensitas serangan berat yaitu sebesar 5%. Untuk luas serangan
yang terjadi pada kebun praktek pengamatan adalah sebesar 6.000 m2 dengan
luas kebun sampel adalah 1 hektar.
Tingginya
persentase dan intensitas serangan hama PBKo di kebun pengamatan tidak lepas
dari kondisi kebun kopi, intensitas praktek budidaya serta minimnya upaya
pengendalian yang dilakukan oleh pemilik kebun. Kebun kopi tempat pengamatan
merupakan kebun polikultur yang mana selain ditanam kopi, juga ditanam pula
beberapa tanaman lain seperti pisang, pinang dan kelapa. Tanaman naungan
(kelapa dan pinang) yang rapat juga mendukung perkembangan populasi hama PBKo.
Tingkat sanitasi kebun terlihat rendah. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya
tunas air dan cabang yang tidak produktif serta gulma yang cukup tebal diatas
permukaan tanah. Populasi hama PBKo senantiasa ada di kebun disebabkan pula
karena tanaman yang ditanam memiliki pola pembuahan terus menerus sehingga buah
kopi selalu ada sepanjang waktu.
Dari
hasil pengamatan diatas menunjukkan bahwa kebun kopi yang digunakan sebagai
tempat pengamatan telah mengalami intensitas serangan berat hama penggerek buah
kopi yaitu sebesar 14,8% dan perlu segera dilakukan pengendalian.
Sosialisasi
Penggunaan Perangkap Atraktan dan Kombinasinya dengan Mekanis dan Kultur Teknis
untuk Pengendalian Hama Penggerek Buah Kopi (PBKo)
Upaya
pengendalian hama penggerek buah kopi didasarkan dengan Menerapkan konsep PHT
atau Pengendalian Hama Terpadu yaitu dengan memadukan berbagai cara
pengendalian diharapkan dapat mengurangi kerugian yang ditimbulkan hama H.
hampei. Beberapa upaya pengendalian yang dapat dipadukan diantaranya adalah
dengan memperhatikan sanitasi kebun, penerapan kultur teknis yang baik,
pemanfaatan agens pengendali hayati dan penggunaan perangkap atraktan. Khusus
pengendalian hama menggunakan perangkap atraktan, petani kopi di Kelompok Tani
Makmur Jaya masih belum banyak mengenal dan menggunakannya. Atraktan adalah
senyawa atau bahan menghasilkan aroma
atau bau yang mampu merangsang hama penggerek buah kopi betina untuk mendekat
karena menyukai aromanya dan akan terperangkap pada wadah perangkap.
Perangkap
atraktan merupakan salah satu tehnik pengendalian hama penggerek buah kopi
(PBKo) yang dinilai ramah lingkungan dan tidak berisiko muncul residu
bahan kimia berbahaya pada biji kopi yang dihasilkan serta tidak merusak
lingkungan akibat penggunaan pestisida kimiawi (Wiryadiputra, 2014). Dewasa ini
terdapat beberapa atraktan sintesis dengan merek dagang komersial yang beredar
di Indonesia antara lain Hypotan, Brocap dan Koptan.
Dalam kegiatan sosialisasi ini, atraktan yang digunakan merupakan senyawa kimia yang bertujuan untuk menarik serangga betina H. hampei. Senyawa atraktan yang berada dalam kemasan saset 10 ml, diberi lubang supaya aroma yang ada dalam senyawa atraktan dapat keluar dan dapat menarik serangga betina. Atraktan yang telah diberi lubang dimasukkan ke dalam wadah perangkap. Wadah perangkap berupa botol plastik transparan bekas air minuman berukuran 600 ml yang telah diberi lubang pada 2 sisi yang berlawanan dengan ukuran 5 x 6 cm serta diberi pengait pada untuk mengaitkan saset atraktan dan di bagian bawah diberi air sabun. Fungsi dari pemberian air sabun agar serangga betina PBKo yang sudah mendekat jatuh ke dalam wadah yang telah diberi air sabun (Soesanthy, 2015).
Pemasangan perangkap dapat dipasang diantara pohon kopi dengan ketinggian
kurang lebih 1,6 meter. Cara penggunaan perangkap dengan senyawa atraktan
antara lain:
Atraktan yang dikemas dalam saset diberi lubang dengan menggunakan sebanyak 3-4 lubang. Fungsi lubang untuk mengeluarkan aroma dari senyawa atraktan agar serangga betina tertarik dan menuju ke perangkap.
Saset atraktan yang sudah diberi lubang dimasukkan dalam wadah merah berbentuk seperti tabung yang telah diberi lubang untuk menggantungkan saset atraktan
Pada bagian dasar wadah diberi air deterjen/air sabun. Fungsi dari larutan deterjen tersebut adalah untuk menampung atau menjebak serangga betina PBKo yang menuju ke wadah perangkap
Perangkap dipasang diantara pohon kopi dengan ketinggian sekitar 1,6 meter diatas permukaan tanah
Kepadatan perangkap per hektar sekitar 20-40 perangkap dengan jarak 20 meter pada lahan datar
Daya tahan atraktan di lapangan cukup lama mencapai 1-1,5 bulan
Menurut Wiryadiputra (2014) penggunaan perangkap atraktan (dengan merek Hypotan) telah diuji keefektifannya untuk mengendalikan hama PBKo pada tanaman kopi Robusta dan kopi Arabika dengan tingkat keefektifan yang sama. Pengujian Hypotan pada tanaman kopi Robusta dilakukan di Lampung yang menunjukkan bahwa pemasangan Hypotan dengan kapadatan 24 buah/ha selama dua bulan dapat menurunkan intensitas serangan PBKo sebesar 60% dan populasi serangga PBKo turun 63,74%. Selain itu Wiryadiputra (2014) melaporkan pemasangan Hypotan selama 6 bulan terbukti dapat menekan tingkat serangan PBKo dari tingkat serangan tertinggi sekitar 65,0% menjadi di bawah 10,0%. Menurut Soesanthy (2015) untuk dapat melihat keefektifan penggunaan perangkap atraktan ini maka pemasangannya harus dilakukan setidaknya 4 bulan berturut-turut. Durasi pemasangan perangkap atraktan yang lama ini juga dapat memberi fungsi lain perangkap atraktan sebagai alat monitoring/pengamatan hama PBKo. Jumlah kumbang betina yang terperangkap di wadah pada saat pengamatan dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan tindakan pengendalian yang tepat (Soesanthy, 2015).
Kesesuaian Penggunaan Perangkap Atraktan
Dengan Komponen Pengendalian lain dalam Konsep Terpadu Pengendalian Hama PBKo
Sebagai
komponen pengendalian PBKo secara terpadu, penggunaan perangkap atraktan juga
berkesuaian dengan komponen pengendalian lainnya dan penggunaannya memang sebaiknya
dipadukan dengan komponen pengendalian lain seperti sanitasi
kebun, kultur teknis dan pemanfaatan APH jamur entomopatogen Beauveria
bassiana.
1. Sanitasi Kebun Menurut Wiryadiputra (2010), dengan metode pengendalian secara kultur teknis dan sanitasi kebun, serangan hama PBKo dapat menurun dari 45% menjadi 0.5 – 3%. Upaya sanitasi kebun yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemangkasan semua cabang dan ranting yang tua/kering atau yang tidak produktif dan mengumpulkan sisa-sisa tanaman kemudian dijadikan bahan pembuatan pupuk organik (kompos) serta melakukan penyiangan gulma. Tujuan dari pemangkasaan ini adalah mengurangi tingkat kerapatan kebun sehingga menjadi tidak ideal untuk perkembangan populasi hama PBKo. Menurut Hasundutan et al., (2015) dalam Anindita dkk (2023) hama PBKo cenderung menyerang tanaman kopi yang berada di bawah naungan serta lembab, sehingga perlu dilakukan pengendalian secara terpadu.
2. Kultur Teknis Kegiatan kultur teknis yang dapat dilakukan terkait buah kopi sebagai makanan hama PBKo adalah meminimalkan keberadaan buah masak di kebun selain untuk tujuan panen. Upaya tersebut meliputi petik bubuk, rampasan buah dan lelesan. Petik Bubuk yaitu memetik semua buah yang berlubang yang dilakukan 15-30 hari menjelang panen raya. Seluruh buah yang terserang dikumpulkan kemudian disiram dengan air panas untuk membunuh serangga hama PBKo. Rampasan buah dilakukan pada akhir panen besar dengan memetik semua buah kopi yang tersisa pada ranting. Sedangkan Lelesan dilakukan dengan mengumpulkan semua buah yang jatuh ke tanah dan proses selanjutnya dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan kompos (Astuti, 2011).
3. Pemupukan Memupuk tanaman dengan pupuk yang seimbang menggunakan jenis dan dosis sesuai anjuran untuk mempercepat pemulihan tanaman.
4. Pengaturan Pohon Pelindung Memangkas pohon pelindung yang terlalu rimbun untuk memperbaiki temperatur dan kelembaban atau kondisi agroklimat.
5. Pengendalian Biologis (Agen Pengendali Hayati) Aplikasi jamur Beauveria bassiana dilakukan pada saat buah masih muda. Kebutuhan untuk 1 Ha kebun kopi yaitu 2,5 kg media biakan jamur B. bassiana selama 3x aplikasi per musim panen. Penyemprotan dilakukan pada sore hari dengan arah semprotan dari bawah daun (Astuti, 2011).
Referensi :
Anonim.
1992. Baku Operasional Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Penggerek Buah Kopi
(PBKo), Hypothenemus hampei Ferr. Direktorat Bina Perlindungan Tanaman
Perkebunan. Direktorat Jenderal Perkebunan. Departemen Pertanian.
Devina
Cinantya Anindita, Aptika Hana P.N., dan Yudha Saputra. 2023. Sosialisasi
Pengendalian Hama penggerek buah kopi (PBKo) di KTH Tani Makmur Desa Nglurup
Kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung. Jurnal Selaparang Volume 7 Nomor 3
September 2023 : 1948-1952
Funny
Soesanthy. 2015. Perangkap Atraktan Sebagai alat Monitoring Sekaligus
Pengendali Hama Penggerek Buah Kopi. Infotek Perkebunan Volume 7 Nomor 11,
November 2015
Gusti
Indriati, Khaerati dan Arlia Dwi Hapsari. 2016. Penggerek Buah dan Cabang Pada
Tanaman Kopi. Sirinov Volume 4 Nomor 1, April 2016: 11-24
Ketut Ayu Sukanadi, Farriza Diyasti, Cecep
Subarjah. 2009. Pengenalan, Pengamatan Dan Pengendalian Organisme Pengganggu
Tumbuhan (Opt) Utama Kopi. Direktorat Perlindungan Perkebunan. Direktorat
Jenderal Perkebunan. Departemen Pertanian. 2009. 42 halaman
Kiki
Meidiantoro, Setyo Andi Nugroho, Sepdian Luri Asmoro, Marniyarni Tri Handayani
dan Ika Lia Novenda. 2024. Uji Efektivitas Atraktan Terhadap Serangan Hama PBKo
(Hypothenemus hampei) Menggunakan Senyawa Etanol, Metanol dan Ekstrak
Biji Kopi. Prosiding Seminar dan Bimbingan Teknis Pertanian Politeknik Negeri
Jember 2024: Peningkatan Ketahanan Pangan Melalui Adaptasi Perubahan Iklim
Untuk Pertanian Berkelanjutan 13-14 Juni 2024. Agropross, National Conference
Proceedings of Agriculture. Hal: 439-445
Rita
Harni Samsudin Widi Amaria Gusti Indriati Funny Soesanthy Khaerati Efi Taufiq
Abdul Muis Hasibuan Arlia Dwi Hapsari. 2015. Teknologi Pengendalian Hama Dan
Penyakit Tanaman Kopi. IAARD Press. Jakarta. 78 hlm.
Soekadar
Wirdiputra. 2014. Hypotan®: Atraktan Pengendali Hama Penggerek Buah Kopi yang
Ramah Lingkungan. Warta Pusat Penelitian Kopi Dan Kakao Indonesia Volume 26 |
Nomor 1 | Februari 2014
Warlinson
Girsang, Rosmadelina Purba, Rudiyantono. 2020. Intensitas Serangan Hama
Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei Ferr.) Pada Tingkat Umur
Tanaman Yang Berbeda dan Upaya Pengendalian Memanfaatkan Atraktan. Journal
Tabaro Volume 4 Nomor 1, Mei 2020. Hlm: Hal 27-34